Editor
KOMPAS.com – Pasar kosmetik halal Indonesia semakin menarik perhatian negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Salah satunya Filipina yang kini mulai serius mengembangkan industri halal nasional dan melihat Indonesia sebagai pasar strategis dengan potensi ekonomi yang sangat besar.
Fenomena tersebut mengemuka dalam Halal Conference yang digelar pada ajang Cosmobeauté Philippines 2026 di World Trade Center Metro Manila, Filipina, pada 17 Juni 2026. Acara itu dihadiri lebih dari 200 pelaku industri, pejabat pemerintah, dan perwakilan perdagangan dari berbagai negara.
Dalam forum tersebut, LPPOM hadir sebagai narasumber untuk membahas perkembangan industri halal, khususnya sektor kecantikan dan kosmetik.
Baca juga: BPJPH Percepat Pengembangan Ekosistem Halal Nasional Lewat Kolaborasi dengan Kampus dan Industri
Commercial and Partnership General Manager LPPOM, Cucu Rina Purwaningrum, mengungkapkan bahwa pemerintah Filipina kini mulai memberikan perhatian serius terhadap pengembangan industri halal sebagai salah satu strategi meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
“Pemerintah Filipina mulai memberikan perhatian yang serius terhadap pengembangan industri halal. Bahkan terdapat rencana pemberian insentif bagi perusahaan yang memiliki sertifikasi halal sebagai upaya mendorong pertumbuhan sektor ini,” ujar Cucu Rina.
Menurutnya, ketertarikan Filipina tidak terlepas dari posisi Indonesia sebagai salah satu pasar kosmetik terbesar di Asia Tenggara sekaligus pasar halal terbesar di dunia. Pertumbuhan kelas menengah, meningkatnya kesadaran terhadap perawatan diri, dan tingginya preferensi konsumen terhadap produk yang aman serta terjamin kehalalannya menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan industri tersebut.
Di sisi lain, regulasi di Indonesia juga semakin memperkuat pentingnya sertifikasi halal dalam industri kosmetik. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024, pemerintah menetapkan kewajiban sertifikasi halal untuk berbagai produk yang beredar di Indonesia, termasuk kosmetik, dengan batas implementasi pada Oktober 2026.
Kebijakan tersebut membuat sertifikasi halal tidak lagi sekadar menjadi nilai tambah, melainkan kebutuhan bisnis yang harus dipenuhi pelaku usaha agar tetap kompetitif di pasar nasional.
Data menunjukkan peluang yang tersedia masih sangat besar. Pada 2025 tercatat sebanyak 351.503 produk kosmetik telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan. Namun, baru sekitar 183.935 produk yang telah mengantongi sertifikat halal.
“Tren sertifikasi halal produk kosmetik menunjukkan peningkatan yang konsisten dari tahun ke tahun. Ini menandakan bahwa industri semakin menyadari pentingnya halal dalam membangun kepercayaan konsumen,” kata Cucu Rina.
Ia menjelaskan bahwa konsep halal kini tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan terhadap ajaran agama, tetapi juga identik dengan transparansi, keamanan bahan baku, kualitas proses produksi, dan jaminan mutu produk.
Karena itu, sertifikasi halal semakin banyak dijadikan strategi bisnis oleh perusahaan kosmetik untuk memperkuat citra merek sekaligus memperluas akses ke pasar Muslim global yang nilainya terus bertumbuh setiap tahun.
Meski demikian, proses sertifikasi halal di sektor kosmetik masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kompleksitas rantai pasok bahan baku yang berasal dari berbagai negara. Perusahaan harus memastikan setiap bahan memenuhi ketentuan halal dan memiliki dokumen pendukung yang memadai.
Selain itu, pelaku usaha juga dituntut menyesuaikan proses produksi agar terhindar dari kontaminasi bahan yang tidak memenuhi persyaratan halal. Pemahaman mengenai audit, dokumentasi, penelusuran bahan, hingga penerapan sistem jaminan produk halal juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi sebagian perusahaan.
Menjelang pemberlakuan wajib sertifikasi halal pada Oktober 2026, LPPOM mendorong perusahaan untuk segera melakukan berbagai persiapan, mulai dari memahami regulasi yang ditetapkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, memastikan kehalalan bahan baku, hingga menyesuaikan proses produksi dan pengembangan produk baru.
“Persiapan yang dilakukan sejak dini akan membantu perusahaan menghadapi proses sertifikasi secara lebih efektif sekaligus memanfaatkan peluang pasar yang tersedia,” jelas Cucu Rina.
Baca juga: Nata de Coco Bisa Jadi Haram? Ini Penjelasan MUI soal Titik Kritis Halal
Sebagai lembaga pemeriksa halal yang telah berpengalaman lebih dari tiga dekade, LPPOM menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi pelaku usaha dalam proses sertifikasi. Dengan pertumbuhan pasar yang pesat dan meningkatnya perhatian dunia terhadap produk halal, sertifikasi halal kini dipandang sebagai investasi strategis untuk memenangkan persaingan industri kosmetik masa depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang