Penulis
KOMPAS.com - Setiap orang mendambakan karunia rezeki yang lancar. Namun terkadang rezeki lancar tak kunjung datang. Yang terjadi justru rezeki semakin seret meskipun tahun sudah berganti. Bila ini terjadi, ada sesuatu yang salah.
Rezeki bukan hanya soal kerja keras, rezeki juga terkait dengan hal-hal spiritual. Allah SWT adalah Dzat yang Maha Pemberi Rezeki. Tanpa Kehendak-Nya, manusia tidak akan memperoleh kelancaran rezeki.
Saat rezeki seret, seseorang harus melakukan introspeksi diri. Jangan-jangan ada hal-hal yang menghambat datangnya rezeki. Untuk mengetahui apa saja yang membuat rezeki seret, berikut penjelasannya.
Dosa dan maksiat merupakan kebalikan dari takwa. Bila takwa mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, maka maksiat dan dosa menyebabkan rezeki seret dan tak kunjung datang.
Imam ‘Abdullaah bin Mubarak dalam kitab Az Zuhd wa Ar Raqaa’iq meriwayatkan sebuah hadits tentang dosa sebagai penghalang datangnya rezeki:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
Artinya: “Sesungguhnya seseorang terhalangi rezekinya karena dosa-dosanya.”
Baca juga: Catat! 8 Pintu Rezeki dalam Al Quran yang Bisa Mengubah Kehidupan
Kufur nikmat artinya mengingkari nikmat-nikmat yang diberikan Allah SWT. Ia selalu mengeluhkan hidup, tidak pernah melihat ada nikmat pada dirinya. Padahal setiap saat Allah SWT senantiasa memberikan berbagai nikmat kepada manusia.
Terkadang orang hanya melihat nikmat dalam bentuk harta, sedangkan nikmat lain seperti iman, kesehatan, kesempatan, waktu luang, dan kehidupan tidak dianggap sebagai nikmat. Orang yang kufur nikmat akan merasakan azab yang pedih, salah satunya rezeki seret.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.S. Ibrahim: 7).
Orang tua adalah pusaka bagi setiap anaknya. Ridha Allah terletak pada keridhaan orang tua, dan murka Allah SWT juga terletak pada kemurkaan orang tua.
Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu jalan dibukakan pintu rezeki dari Allah SWT.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ فِي عُمْرِهِ، وَيُزَادَ فِي رِزْقِهِ، فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Dari sahabat Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda, ‘Siapa saja yang ingin dipanjangkan umurnya dan bertambah rezekinya, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung silaturahim.” (H.R. Ahmad).
Kebalikannya, durhaka kepada orang tua mendatangkan kemurkaan Allah SWT sehingga rezeki menjadi seret.
Baca juga: Sholat Dhuha dan Doa-doanya, Amalan Pagi yang Diyakini Membuka Rezeki
Kikir artinya pelit, enggan mengeluarkan harta benda dan terus menumpuk-numpuknya. Padahal dalam harta terdapat hak bagi orang lain yang dikeluarkan dalam bentuk infaq, zakat, maupun sedekah.
Orang yang kikir akan mendapatkan jalan yang sukar, baik di dunia maupun di akhirat. Kesukaran di dunia adalah rezekinya seret, sedangkan kesukaran di akhirat adalah dimasukkan ke dalam api neraka.
وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى
Artinya: "Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (Q.S. Al Lail: 8-10).
Orang yang bermalas-malasan tentunya tidak akan mendapat sesuatu yang bermanfaat. Orang yang tidak berbuat apa-apa tentu tidak mendapat apa-apa.
Dalam hal rezeki, seseorang harus mengupayakan dengan ikhtiar. Rezeki tidak jatuh dari langit. Dalam kitab Fathul Baari' dikisahkan bahwa Imam Ahmad ditanya mengenai seseorang yang hanya duduk berdiam diri dan berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikit pun dan hanya mau menunggu sampai rezekiku datang.”
Imam Ahmad pun berkata, “Orang tersebut benar-benar bodoh. Padahal Nabi SAW bersabda bahwa burung saja bekerja dengan berangkat pada pagi hari. Para sahabat Nabi yang mulia pun berdagang dan bekerja dengan hasil kurma mereka. Merekalah adalah sebaik-baik teladan."
Maka kalau ada orang-orang bermalas-malasan, tentu rezeki akan seret datangnya.
Baca juga: Ayat Seribu Dinar: Bacaan, Keutamaan, dan Kisah Asal-Usul Pembuka Rezeki
Orang yang bertawakal akan dicukupi keperluannya. Sementara orang yang kurang bertawakal, tidak mendapat jaminan tersebut. Tanpa jaminan Allah SWT, rezeki menjadi seret dan tidak kunjung datang.
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
Artinya: "...Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Q.S. Ath Thalaq: 3).
Orang-orang yang tidak amanah tentu tidak akan dipercaya orang lain. Hal ini menjadikan orang enggan memberikan kepercayaan kepadanya, termasuk dalam hal pekerjaan.
Orang yang tidak amanah tentu tidak akan diberikan tanggung jawab yang lebih karena ia justru akan mengacaukannya.
Ketika hal tersebut terjadi, tentu ia akan sulit mendapat akses peluang untuk memperoleh rezeki melalui pekerjaan.
Silaturahmi merupakan salah satu cara untuk mendatangkan rezeki. Dengan bersilaturahmi, orang akan mempunyai jaringan yang luas sehingga bisa mendatangkan peluang untuk memperoleh rezeki.
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahim.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Sementara orang yang memutus silaturahmi, ia lebih sulit mendapatkan peluang sehingga rezekinya bisa jadi menjadi sulit.
Baca juga: Keutamaan Sedekah Jumat: Pahala Berlipat, Penghapus Dosa, dan Pembuka Rezeki
Waktu pagi adalah waktu yang diberkahi. Dalam sebuah riwayat seorang Sahabat bernama Sakhr Al Ghamidi adalah seorang pedagang. Setiap pagi ia membawa barang dagangannya untuk dijual. Ia pun menjadi orang yang kaya raya.
Sementara bagi orang yang tidur di pagi hari, ia kehilangan kesempatan untuk memperoleh keberkahan sehingga menyebabkan rezekinya seret.
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menyatakan tidur setelah subuh mencegah rezeki, karena waktu subuh adalah waktu mahluk mencari rezeki mereka dan waktu dibagikannya rezeki. Tidur setelah subuh suatu hal yang dilarang [makruh] kecuali ada penyebab atau keperluan.
Urusan rezeki bukan hanya masalah kerja keras semata. Ada faktor lain yang mempengaruhi lancar atau tidaknya rezeki.
Islam mengajarkan bahwa rezeki juga terkait amalan seseorang. Amalan yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Islam dapat menyebabkan rezeki seret.
Bila tahun-tahun sudah berganti tapi rezeki masih seret meski sudah berusaha dengan keras, berarti ada faktor lain yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi karena adanya faktor-faktor yang menyebabkan rezeki seret seperti yang telah dijelaskan di atas.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang