Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Lengkap Ashabul Kahfi: 7 Pemuda Teladan Penggenggam Iman

Kompas.com, 13 Januari 2026, 22:41 WIB
Khairina,
Agus Susanto

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kisah Ashabul Kahfi menjadi salah satu kisah paling inspiratif dalam Al Quran. Kisah ini diabadikan dalam Al Quran surat Al Kahfi ayat 9-26 sekaligus menjadi nama surat yang memuat kisahnya, yaitu surat Al Kahfi.

Turunnya surat Al Kahfi diturunkan berkaitan dengan strategi kaum musyrikin Mekkah untuk menghancurkan dakwah Nabi. Mereka menemui kaum seorang pendeta Yahudi di Yatsrib.

Pendeta itu memberikan saran untuk bertanya tentang tiga hal, yaitu pemuda kahfi, orang yang berjalan dari timur sampai barat, dan tentang ruh. Sebagai jawaban dari pertanyaan itu, Allah SWT menurunkan surat Al kahfi.

Baca juga: Isra Mi’raj hingga Ash-Shiddiq: Kisah Iman Tanpa Keraguan Abu Bakar

Siapa Ashabul Kahfi?

Ashabul Kahfi artinya para penghuni gua. Mereka adalah sekelompok orang pemuda yang hidup di zaman seorang raja zalim bernama Diqyanus atau Dekianus yang menguasai salah satu negeri Romawi yaitu Thorthus setelah zaman Nabi Isa AS. Raja tersebut mengajak orang-orang untuk menyembah berhala dan membunuh setiap orang-orang beriman.

Untuk jumlah mereka, Al Quran tidak memberikan jawaban secara pasti. Hanya memberikan beberapa pilihan.

سَيَقُولُونَ ثَلَٰثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًۢا بِٱلْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُل رَّبِّىٓ أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِم مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَآءً ظَٰهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِم مِّنْهُمْ أَحَدًا

Artinya: "Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya".

Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka." (Q.S. Al Kahfi: 22).

Ayat ini menerangkan bahwa jumlah Ashabul Kahfi tidak penting untuk dibahas, tetapi kisah mereka yang menunjukkan keteguhan iman dan Kekuasaan Allah SWT yang penting untuk diperhatikan. Meskipun demikian, Imam Abdurrahman bin Nashir As Sa'di menjelaskan bahwa jumlah mereka yang benar ada 7 orang.

Baca juga: Kisah Usamah bin Zaid: Panglima Perang Termuda dalam Sejarah Islam

Dikutip dari buku Inspirasi Kisah Ashabul Kahfi karya Muhammad Atim menjelaskan bahwa 7 pemuda tersebut berasal dari suku yang berbeda-beda. Pada suatu hari raya besar yang diadakan setiap tahun, mereka mengikuti ayah dan kaum mereka pada pertemuan yang di adakan di luar kota.

Saat itu mereka menyaksikan langsung kemungkaran yang dilakukan kaumnya, yaitu menyembah berhala dan menyembelih hewan yang dipersembahkan untuk berhala tersebut. Iman yang ada di dalam hati mereka mengingkari kemungkaran tersebut.

Kabar keimanan 7 pemuda itu terdengar sampai ke hadapan sang raja. Ketujuh pemuda itu dipanggil untuk menjelaskan semuanya. Dengan keteguhan iman, mereka mendakwahi raja zalim tersebut. Momen ini diabadikan dalam surat Al Kahfi ayat 14.

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Artinya: "Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, 'Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran'."

Pernyataan ketujuh pemuda itu membuat sang raja murka dan mengancam akan membunuh mereka. Dengan pertolongan Allah SWT, hukuman tersebut ditangguhkan sehari agar mereka memikirkan lagi ucapan mereka dan bisa kembali ke agama lama.

Masa tangguh itu dimanfaatkan ketujuh pemuda untuk melakukan pelarian. Mereka memilih iman dibandingkan dengan mengikuti apa yang diinginkan sang raja.

Baca juga: Kisah Tokoh Pemuda Islam Teladan dari Ali bin Abi Thalib hingga Imam Bukhari

Pelarian Ashabul Kahfi

Keputusan bulat sudah diambil. Ketujuh pemuda tersebut akan melarikan diri. Tentang kemana mereka melarikan diri, salah seorang diantara mereka berkata sebagaimana diabadikan dalam surat al Kahfi ayat 16.

وَإِذِ ٱعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأْوُۥٓا۟ إِلَى ٱلْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِۦ وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا

Artinya: "Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu."

Ketujuh pemuda itu akhirnya lari ke dalam sebuah gua. Mereka berlindung di dalamnya dari kejaran pasukan raja. Atas izin Allah SWT, pasukan yang mengejar tidak dapat menemukan mereka.

Keberadaan mereka ditutupi oleh Allah SWT. Penglihatan pasukan yang mengejar mereka ditutupi sehingga tidak melihat keberadaan gua tersebut.

Tidur Selama 309 Tahun

Selama berlindung di dalam gua, Allah SWT memberikan anugerahnya berupa tidur panjang. Hal ini ditegaskan dalam surat Al Kahfi ayat 11.

فَضَرَبْنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمْ فِى ٱلْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا

Artinya: "Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu."

Yang dimaksud ditutup telinga mereka adalah ditidurkan oleh Allah SWT selama 309 tahun. Selama tidur tersebut, mereka tidak hanya diam. Allah SWT menggambarkan beberapa kondisi mereka.

  • Matahari diatur Allah SWT saat pagi dan petang. Sinarnya menyinari gua tetapi tidak sampai mengenai tubuh mereka. Itulah salah satu perlindungan dan sebagai bukti kekuasaan Allah SWT (Q.S. Al Kahfi: 17).
  • Orang yang melihat akan mengira mereka terbangun karena Allah SWT membolak-balikkan tubuh mereka seakan-akan mereka sadar. Sementara di depan mulut gua, anjing yang menyertai mereka menjulurkan kakinya ke depan untuk menjaga. Hal ini membuat orang yang melihatnya menjadi takut sehingga tidak ada yang berani mengusik keberadaan tujuh pemuda tersebut (Q.S. Al Kahfi: 18).

Baca juga: Kisah Kejujuran Membawa Kebaikan

Kebangkitan dari Tidur Panjang

Setelah 309 tahun, Allah SWT membangunkan ketujuh pemuda tersebut. Saat bangun, mereka mengira hanya tinggal setengah hari atau sehari di dalam gua tersebut. Untuk mengetahui berapa lama mereka tinggal di dalam gua, maka diutuslah salah seorang diantara mereka untuk pergi ke kota mencari makanan.

Alangkah terkejutnya mereka mengetahui bahwa semua telah berubah. Mereka sudah tidak berada di zaman mereka lagi. Uang yang dibawa sudah tidak berlaku.

Keberadaan Ashabul Kahfi ini sekaligus memberikan bukti akan adanya hari kebangkitan. Orang-orang saat itu meragukan datangnya hari kebangkitan. Namun munculnya Ashabul Kahfi membuat mereka percaya bahwa hari kebangkitan itu ada.

Pelajaran Berharga dari Kisah Ashabul Kahfi

Kisah Ashabul Kahfi yang luar biasa memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi manusia sesudahnya. Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Ashabul Kahfi.

  • Iman harus dijaga dan dipegang teguh meski dihadapkan pada tekanan dan ancaman.
  • Pemuda adalah pilar peradaban dan perubahan, bukan menjadi beban dan menghabiskan waktu tanpa tujuan.
  • Bila kondisi tidak kondusif, dianjurkan untuk berpindah tempat mencari lingkungan yang lebih baik untuk mempertahankan iman.
  • Tawakal kepada Allah membuka jalan keluar yang tak terduga.
  • Kebesaran dan Kekuasaan Allah SWT itu nyata, tidak ada yang meragukannya.
  • Keberanian dan iman yang kokoh akan mendatangkan kemuliaan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com