Penulis
KOMPAS.com - Riya', ujub, dan Sum'ah adalah penyakit hati yang akan merusak amal ibadah seseorang. Ibarat seseorang yang sudah susah payah membangun istana megah, lalu dihancurkan dalam sekejab.
Itulah perumpamaan riya', ujub, dan sum'ah. Ia dapat menghancurkan amalan ibadah yang sudah dilaksanakan sekian lama. Dalam sekejab, pahala amalan tersebut lenyap tanpa sisa bila dibumbui dengan riya', ujub, dan sum'ah.
Karena begitu bahayanya penyakit ini, setiap muslim harus memahami tentang tiga penyakit hati yang dapat merusak amal ibadah tersebut.
Baca juga: Kumpulan Doa Dijauhkan dari Penyakit Hati Lengkap dengan artinya
Ketiga penyakit hati ini seringkali menyusup ke dalam hati dengan cara yang sangat halus hingga kadang kehadirannya tidak disadari. Hanya hati yang suci dan sering melakukan introspeksi diri yang mampu mendeteksi kedatangannya.
Menurut Asy Syatibi dalam Al Muwafaqat, riya’ adalah menampakkan amalan sholeh kepada orang lain atau memperbagusnya di hadapan orang lain, agar mendapatkan pujian atau agar dianggap agung oleh orang lain.
Riya' dibagi menjadi dua, yaitu:
Baca juga: Mengenal Sifat Kikir: Penyakit Hati yang Membinasakan
Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin mendefinisikan ujub sebagai merasa agung ketika memiliki suatu nikmat dan bersandar kepadanya, namun lupa menisbatkannya kepada pemberinya (yaitu Allah).
Pengertian sederhana dari ujub adalah perasaan bangga dan kagum terhadap diri sendiri atas amal yang telah dilakukan. Ujub tidak selalu melibatkan orang lain, tetapi perasaan itu muncul di dalam hati.
Sum'ah berasal dari kata sami'a yang berarti mendengar. Secara istilah, sum'ah artinya orang yang menceritakan amal kebaikannya kepada orang lain untuk mendapatkan pujian.
Berbeda dengan riya', sum'ah beramal terlebih dahulu baru kemudian memamerkan amalannya dengan cara menceritakan kepada orang lain untuk mendapat pujian.
Sum'ah sifatnya sama dengan riya' khafi. Orang beramal pada awalnya dengan ikhlas, lalu timbul niat untuk memamerkannya dengan cara diceritakan kepada orang lain.
Baca juga: Riya dan Sumah: Pamer Amal yang Berakibat Fatal
Riya’, ujub, dan sum’ah memiliki dampak yang sangat serius bagi kehidupan spiritual seorang Muslim, di antaranya:
Amal yang tidak dilandasi keikhlasan tidak bernilai di sisi Allah, meskipun tampak besar di mata manusia.
Ketiga penyakit hati ini dapat merusak pahala ibadah sejak dari awal, pertengahan maupun akhir sehingga amal yang sudah dikerjakan tidak ada nilainya di hadapan Allah SWT.
Ketiga penyakit ini memalingkan tujuan ibadah dari Allah kepada makhluk, sehingga hati menjadi gelisah dan tidak tulus.
Hati menjadi terkotori dengan ketiga penyakit tersebut. Bila tidak segera diobati, ia akan menjadi kronis dan membuat hati menjadi gelap.
Puncak dari ketiga penyakit tersebut adalah sombong. Sifat buruk yang membuat orang yang melakukannya tidak dapat masuk surga.
Definisi sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Ia menganggap dirinya orang yang lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Sifat sombong menjadi sifat yang dibenci Allah SWT.
Baca juga: Hasad dalam Islam: Penyebab, Dampak, dan Cara Menghindari Sifat Dengki
Orang yang beribadah demi manusia termasuk mempersekutukan Allah SWT. Penyakit ini disebut sirik kecil yang dapat menyebabkan murka Allah SWT jika tidak segera dihilangkan dari dalam diri.
Amal yang bergantung pada pujian manusia akan mudah hilang ketika tidak lagi mendapat perhatian. Seseorang hanya bersemangat ibadah ketika ada yang menyaksikan dan mendapat pujian.
Sementara tanpa adanya pujian, tidak ada semangat untuk melaksanakan ibadah. Ini berarti sifat riya', ujub, dan sum'ah dapat menghalangi seseorang untuk istiqamah dalam ibadah.
Sifat riya', ujub, dan sum'ah adalah penyakit hati yang harus diwaspadai. Ia dapat menghilangkan pahala dari setiap amal yang telah dilakukan.
Untuk menghindari sifat ini, setiap orang harus berusaha menjaga keikhlasan dalam beribadah dan memohon pertolongan Allah SWT agar dijauhkan dari ketiga sifat buruk tersebut.
Ketika seseorang mampu terhindari dari tiga penyakit di atas, maka amalannya akan terjaga hingga saat berjumpa dengan Allah SWT.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang