KOMPAS.com - Nama Nabi Idris AS memang tidak sering muncul dalam kisah-kisah populer para nabi.
Namun, dalam peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, sosok Nabi Idris justru menempati posisi penting.
Rasulullah SAW bertemu dengannya di langit keempat, sebuah pertemuan yang memberi isyarat kuat tentang kedudukan istimewa Nabi Idris di sisi Allah SWT.
Al-Qur’an sendiri telah lebih dahulu memberikan penegasan mengenai keutamaan Nabi Idris. Allah SWT berfirman:
“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.”
(QS. Maryam: 56–57)
Ayat ini menjadi dasar utama para ulama ketika mengaitkan Nabi Idris dengan peristiwa Isra Mi’raj, khususnya pada frasa rafa‘nāhu makānan ‘aliyyā, Kami mengangkatnya ke tempat yang tinggi.
Baca juga: Menag: Salat Ajarkan Kepedulian Sosial dan Lingkungan, Ini Makna Isra Mikraj
Para mufasir sejak generasi awal menaruh perhatian besar pada makna “tempat yang tinggi” dalam ayat tersebut.
Sebagian memahaminya sebagai ketinggian derajat dan kemuliaan spiritual. Namun, sebagian lainnya memaknai ayat itu secara lebih literal, yakni pengangkatan Nabi Idris ke langit.
Penafsiran kedua ini mendapatkan penguat dari hadis-hadis sahih tentang Isra Mi’raj, ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan menembus lapisan langit dan bertemu para nabi terdahulu.
Baca juga: Mengenal Buraq Kendaraan Mulia dalam Peristiwa Isra Mi’raj
Dalam berbagai kitab sejarah kenabian, Nabi Idris dikenal sebagai nabi yang tekun beribadah, mencintai kejujuran, dan memiliki keluasan ilmu.
Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa Nabi Idris adalah keturunan keenam Nabi Adam AS dan termasuk nabi awal yang menerima wahyu setelah Nabi Adam dan Nabi Syits AS.
Ia juga disebut sebagai sosok yang disiplin dalam amal dan memiliki perhatian besar terhadap peningkatan ibadah.
Karakter inilah yang kemudian menjadi latar munculnya riwayat tentang pengangkatannya ke langit.
Baca juga: Kenapa Isra Miraj Dilakukan Malam Hari? Ini Penjelasan Alquran
Penjelasan lebih rinci tentang pengangkatan Nabi Idris dapat ditemukan dalam kitab tafsir klasik.
Imam ath-Thabari dalam Jāmi‘ al-Bayān mengutip riwayat dari Ka‘ab al-Ahbar yang menyebutkan bahwa Nabi Idris memohon kepada Allah agar diberi kesempatan menambah amal sebelum wafatnya.
Atas izin Allah, Nabi Idris kemudian diangkat oleh malaikat hingga ke langit keempat. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa di langit itulah Malaikat Maut mencabut nyawa Nabi Idris.
Kisah ini kemudian dipahami oleh sebagian ulama sebagai penjelasan konkret dari ayat dalam Surah Maryam tentang pengangkatan Nabi Idris ke tempat yang tinggi.
Baca juga: Kenapa Isra Miraj Dilakukan Malam Hari? Ini Penjelasan Alquran
Makna pengangkatan Nabi Idris semakin terang melalui hadis Isra Mi’raj. Dalam riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menuturkan bahwa beliau bertemu Nabi Idris di langit keempat.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan para nabi di setiap lapisan langit bukanlah peristiwa kebetulan.
Setiap nabi ditempatkan sesuai dengan hikmah dan kedudukannya. Kehadiran Nabi Idris di langit keempat menunjukkan keutamaan khusus yang telah Allah berikan kepadanya.
Meski demikian, para ulama tidak sepenuhnya sepakat tentang kondisi Nabi Idris setelah diangkat ke langit.
Mujahid, sebagaimana dikutip oleh ath-Thabari, berpendapat bahwa Nabi Idris diangkat dalam keadaan hidup, mirip dengan Nabi Isa AS.
Namun, Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi memberikan catatan penting. Ia menegaskan bahwa jika pengangkatan tersebut dipahami sebagai Nabi Idris masih hidup hingga kini, maka pendapat itu perlu dikaji ulang.
Akan tetapi, jika maksudnya adalah Nabi Idris diangkat dalam keadaan hidup lalu diwafatkan di langit keempat, maka pendapat tersebut masih sejalan dengan riwayat-riwayat yang ada.
Baca juga: Peristiwa Isra Miraj Lengkap: Tahun Kesedihan hingga Perintah Sholat
Dalam konteks Isra Mi’raj, kisah Nabi Idris memberikan pesan spiritual yang mendalam. Pertemuan Rasulullah SAW dengan Nabi Idris di langit keempat menjadi pengingat bahwa langit bukan hanya ruang kosmik, tetapi juga ruang kemuliaan bagi hamba-hamba pilihan Allah.
Pengangkatan Nabi Idris mencerminkan penghormatan Allah kepada hamba-Nya yang menjaga kejujuran, konsistensi ibadah, dan kesungguhan dalam amal.
Kisah ini sekaligus menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh popularitas kisah di dunia, melainkan oleh kualitas iman dan amal.
Bagi umat Islam, kisah Nabi Idris yang hadir dalam rangkaian Isra Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan menuju kedekatan dengan Allah selalu terbuka bagi siapa pun yang menjaga ketakwaan dan istiqamah dalam kebaikan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang