Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Dunia Terasa Tak Adil, Ini Pengingat dari Alquran

Kompas.com, 17 Januari 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ada masa dalam hidup ketika dunia terasa tidak ramah. Usaha yang telah diperjuangkan bertahun-tahun berakhir gagal, hubungan yang dijaga dengan penuh harap justru kandas, kesehatan menurun tanpa aba-aba, dan doa-doa seakan belum menemukan jawaban.

Dalam kondisi seperti ini, banyak orang merasa sendirian, terpinggirkan, bahkan mempertanyakan makna hidup.

Namun bagi umat Islam, Alquran hadir bukan hanya sebagai kitab hukum dan ibadah, melainkan juga sebagai sumber penguatan jiwa.

Di dalam ayat-ayatnya, Allah SWT berbicara tentang luka manusia, ketakutan, kegelisahan, hingga rasa putus asa.

Lebih dari itu, Alquran menawarkan perspektif baru, bahwa setiap kesulitan memiliki hikmah, dan setiap kesedihan bukanlah akhir dari perjalanan.

Ujian Hidup sebagai Sunnatullah

Dalam Islam, penderitaan bukan tanda kebencian Tuhan. Sebaliknya, ujian adalah bagian dari sunnatullah yang berlaku bagi seluruh manusia, termasuk para nabi dan orang-orang saleh.

Dalam buku La Tahzan karya Dr. Aidh al-Qarni dijelaskan bahwa hidup tanpa masalah adalah sesuatu yang mustahil.

Menurutnya, kesedihan, kegagalan, dan kehilangan merupakan fase alamiah yang membentuk kedewasaan spiritual seseorang.

Alquran mengingatkan bahwa manusia memang diciptakan dalam keadaan diuji. Surah Al-Baqarah ayat 155 menyebutkan bahwa Allah menguji manusia dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, dan kehilangan orang-orang tercinta. Namun di balik itu, Allah juga menjanjikan kabar gembira bagi mereka yang bersabar.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-jū‘i wa naqaṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt(i), wa basysyiriṣ-ṣābirīn(a).

Artinya: "Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,"

Pesan ini mengajarkan bahwa rasa sakit bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menguatkan. Ujian berfungsi sebagai sarana penyucian hati dan peningkatan derajat keimanan.

Baca juga: 5 Ayat Tentang Sabar dalam Alquran, Penenang Hati Saat Menghadapi Ujian Hidup

Ketika Hati Merasa Lelah dan Lemah

Ada kalanya beban hidup terasa terlalu berat untuk dipikul. Tubuh masih berjalan, tetapi hati sudah lebih dulu runtuh.

Dalam situasi seperti ini, Alquran menguatkan orang-orang beriman agar tidak terjebak dalam keputusasaan.

Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 139 agar manusia tidak bersikap lemah dan tidak larut dalam kesedihan.

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ٣٩

wa lâ tahinû wa lâ taḫzanû wa antumul-a‘launa ing kuntum mu'minîn

Artinya: "Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin."

Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, ayat ini bukan sekadar perintah moral, tetapi juga suntikan psikologis.

Allah mengingatkan bahwa seorang mukmin memiliki martabat spiritual yang tinggi, sehingga tidak pantas tenggelam dalam rasa rendah diri. Kesedihan boleh hadir, tetapi tidak boleh menguasai jiwa.

Merasa Sendiri, Padahal Tidak Pernah Benar-Benar Sendiri

Salah satu luka paling dalam dalam hidup adalah rasa kesepian. Seseorang bisa dikelilingi banyak orang, tetapi tetap merasa tidak dipahami.

Dalam kondisi seperti ini, Alquran mengajarkan bahwa kehadiran Allah tidak pernah terputus.

Surah Thaha ayat 46 menegaskan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya, mendengar dan melihat setiap keluh kesah.

قَالَ لَا تَخَافَآ اِنَّنِيْ مَعَكُمَآ اَسْمَعُ وَاَرٰى 

qâla lâ takhâfâ innanî ma‘akumâ asma‘u wa arâ

Artinya: "Dia (Allah) berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir! Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat."

Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Syekh Said Hawwa, dijelaskan bahwa kesadaran akan kehadiran Allah (muraqabah) adalah kunci ketenangan batin.

Ketika seseorang merasa diawasi dan ditemani oleh Tuhan, kesepian berubah menjadi ruang dialog spiritual yang menenangkan.

Baca juga: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 45: Meminta Pertolongan dengan Sabar dan Shalat

Gelisah dan Cemas: Penyakit Zaman Modern

Di era modern, kecemasan menjadi masalah yang semakin umum. Ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial, dan tuntutan hidup sering membuat manusia hidup dalam ketakutan akan masa depan. Alquran menawarkan solusi yang sederhana namun mendalam, mengingat Allah.

Surah Ar-Ra’d ayat 28 menyebutkan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٨

alladzîna âmanû wa tathma'innu qulûbuhum bidzikrillâh, alâ bidzikrillâhi tathma'innul-qulûb'

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram."

Menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, ketenangan yang dimaksud bukan berarti hidup bebas masalah, melainkan hati yang tidak mudah goyah meskipun berada dalam situasi sulit.

Dzikir, shalat, dan membaca Al-Qur’an menjadi sarana terapi spiritual yang menstabilkan emosi dan pikiran.

Saat Hidup Terasa Tak Adil

Perasaan bahwa hidup tidak adil sering muncul ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain.

Mengapa ada yang hidup serba mudah, sementara yang lain harus berjuang keras? Al-Qur’an mengingatkan bahwa keadilan Allah tidak selalu tampak dalam ukuran duniawi.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 216, Allah menyebutkan bahwa manusia bisa membenci sesuatu yang sebenarnya baik baginya dan menyukai sesuatu yang justru buruk untuknya.

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ 

yas'alûnaka mâdzâ yunfiqûn, qul mâ anfaqtum ming kairin fa lil-wâlidaini wal-aqrabîna wal-yatâmâ wal-masâkîni wabnis-sabîl, wa mâ taf‘alû min khairin fa innallâha bihî ‘alîm

Artinya: "Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan (dan membutuhkan pertolongan).” Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya."

Perspektif ini mengajarkan bahwa keterbatasan manusia dalam melihat masa depan membuat penilaian tentang “adil” dan “tidak adil” sering kali bersifat subjektif.

Dalam buku Islam dan Psikologi Positif karya Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, dijelaskan bahwa sikap menerima takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan membangun keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Dengan cara ini, manusia tidak terjebak dalam rasa marah terhadap keadaan.

Baca juga: Makna Sabar dan Syukur, Pilar Keseimbangan Hidup Seorang Muslim

Doa sebagai Ruang Pulang

Ketika dunia terasa gelap, doa menjadi ruang pulang bagi jiwa yang lelah. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa orang yang bersungguh-sungguh memohon (QS. Al-Baqarah: 186).

Doa bukan hanya permintaan, tetapi juga proses penyembuhan batin. Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa doa mampu melembutkan hati, menghidupkan harapan, dan menghubungkan manusia dengan sumber kekuatan sejati. Bahkan keluhan yang terucap lirih di tengah malam pun memiliki nilai ibadah.

Menjadikan Luka sebagai Jalan Kembali

Pengingat terbesar dari Al-Qur’an adalah bahwa luka tidak selalu berarti kehancuran. Dalam banyak kisah para nabi, penderitaan justru menjadi pintu menuju kemuliaan.

Nabi Yusuf AS mengalami pengkhianatan dan penjara sebelum akhirnya menjadi pemimpin. Nabi Ayyub AS diuji dengan penyakit panjang sebelum mendapatkan kesembuhan dan kemuliaan.

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa proses pahit sering kali menjadi jalan menuju kedewasaan iman.

Dunia boleh terasa tidak adil, tetapi Allah tidak pernah salah dalam menakar ujian setiap hamba.

Saat hidup terasa berat dan dunia tampak tak adil, Al-Qur’an hadir sebagai cahaya yang menuntun langkah.

Ia mengajarkan bahwa kesedihan bukan tanda kelemahan iman, melainkan bagian dari perjalanan manusia.

Dengan sabar, doa, dan kesadaran akan kehadiran Allah, luka hari ini dapat berubah menjadi kekuatan untuk melangkah esok hari.

Bagi setiap jiwa yang sedang terluka, pesan Al-Qur’an tetap sama, jangan menyerah. Di balik malam yang gelap, selalu ada fajar yang menunggu untuk terbit.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com