KOMPAS.com - Di tengah derasnya arus pergaulan modern yang kerap mengaburkan batas moral, kisah dialog Rasulullah SAW dengan seorang pemuda yang meminta izin berzina tetap relevan hingga hari ini.
Peristiwa ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan pelajaran besar tentang metode dakwah yang bijaksana, pendekatan psikologis, serta pendidikan akhlak yang berlandaskan empati.
Riwayat ini tercatat dalam Musnad Ahmad dan banyak dikutip oleh para ulama sebagai contoh teladan Rasulullah SAW dalam membimbing generasi muda yang sedang bergolak oleh dorongan naluri.
Baca juga: Contoh Zina yang Tidak Disadari dan Cara Menghindarinya
Suatu hari, Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabat ketika seorang pemuda datang dengan wajah gelisah dan langkah tergesa. Ia membawa kegelisahan batin yang tidak biasa.
Di hadapan Nabi, ia dengan jujur mengungkapkan permintaannya: meminta izin untuk melakukan zina.
Permintaan itu sontak mengagetkan para sahabat. Sebagian merasa marah, sebagian lain terkejut.
Namun Rasulullah SAW tidak bereaksi dengan kemarahan. Sebaliknya, beliau menunjukkan ketenangan dan kebijaksanaan yang luar biasa.
Dalam buku Ar-Rahiq al-Makhtum karya Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu mengedepankan kelembutan ketika menghadapi persoalan moral, terutama yang melibatkan anak muda. Beliau memahami bahwa masa muda adalah fase penuh gejolak emosi dan naluri.
Baca juga: Zina dengan Istri Orang dalam Pandangan Islam
Alih-alih memarahi pemuda tersebut, Rasulullah SAW mempersilakannya mendekat dan mengajaknya berdialog secara personal. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya komunikasi empatik dalam menyelesaikan masalah.
Beliau kemudian mengajukan pertanyaan reflektif:
“Apakah engkau rela jika perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?”
Pemuda itu menjawab dengan tegas bahwa ia tidak rela. Rasulullah SAW lalu menyampaikan bahwa perasaan manusia pada dasarnya sama: tidak ada yang ingin kehormatan keluarganya dirusak.
Pertanyaan serupa diajukan tentang anak perempuan, saudari, dan kerabat dekat. Setiap kali, pemuda itu mengakui bahwa ia tidak sanggup membayangkan hal tersebut menimpa orang-orang yang ia cintai.
Menurut M. Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an, metode dialog seperti ini menunjukkan kecerdasan emosional Rasulullah SAW.
Beliau tidak hanya menyampaikan hukum, tetapi membangkitkan kesadaran moral dari dalam diri seseorang.
Baca juga: Tata Cara Taubat dari Zina, Jangan Sampai Terlaknat Dunia Akhirat
Setelah dialog tersebut, Rasulullah SAW meletakkan tangan beliau di dada pemuda itu dan berdoa:
“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”
Doa ini bukan sekadar permohonan ampunan, tetapi juga permintaan agar hati pemuda itu dibersihkan dari dorongan maksiat dan diberikan kekuatan menjaga kehormatan diri.
Dalam riwayat disebutkan bahwa sejak peristiwa tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi mendekati perbuatan zina.
Perubahan itu bukan karena ancaman hukuman, melainkan karena kesadaran spiritual yang tumbuh dari sentuhan kasih sayang Nabi.
Kisah ini mengandung banyak hikmah yang relevan untuk kehidupan modern, terutama dalam pendidikan karakter remaja Muslim.
Pertama, Islam tidak menutup mata terhadap realitas naluri manusia. Dorongan biologis diakui sebagai fitrah, tetapi harus diarahkan melalui jalur yang halal dan bermartabat.
Kedua, pendekatan keras sering kali tidak efektif dalam membina moral. Rasulullah SAW justru memilih dialog, empati, dan sentuhan hati sebagai sarana dakwah.
Ketiga, doa dan pembinaan spiritual memiliki peran penting dalam membentuk karakter. Perubahan sejati tidak hanya terjadi di tingkat perilaku, tetapi juga di tingkat hati.
Dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani dijelaskan bahwa keberhasilan dakwah Rasulullah SAW terletak pada keseimbangan antara ketegasan hukum dan kelembutan sikap.
Baca juga: Mengapa Islam Melarang Zina? Ini Dampak dan Hikmahnya
Fenomena pergaulan bebas, pornografi digital, dan krisis identitas di kalangan remaja saat ini menunjukkan bahwa tantangan moral semakin kompleks.
Kisah pemuda yang meminta izin berzina mengajarkan bahwa solusi tidak cukup dengan larangan semata.
Orang tua, pendidik, dan tokoh agama perlu meneladani metode Rasulullah SAW: mendengarkan, memahami kegelisahan anak muda, lalu membimbing dengan pendekatan rasional dan spiritual.
Dalam buku Psikologi Islam karya Malik Badri ditegaskan bahwa pendidikan berbasis empati jauh lebih efektif dalam membangun kontrol diri dibandingkan pendekatan hukuman semata.
Kisah pemuda yang meminta izin berzina bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin metode dakwah Rasulullah SAW yang relevan sepanjang zaman.
Dengan kelembutan, dialog yang menyentuh nurani, dan doa yang tulus, Nabi berhasil mengubah arah hidup seorang anak muda.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang mematikan naluri, tetapi membimbingnya menuju jalan yang suci, bermartabat, dan penuh keberkahan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang