Editor
KOMPAS.com - Bulan Syaban selalu hadir sebagai jembatan menuju Ramadhan. Dalam tradisi Islam, bulan kedelapan kalender Hijriah ini dipandang sebagai masa persiapan spiritual sebelum memasuki puasa wajib.
Para ulama menyebut Syaban sebagai waktu emas untuk membersihkan hati, memperbanyak amal, dan memperkuat doa agar dipertemukan dengan Ramadhan.
Rasulullah SAW memberi teladan istimewa pada bulan ini. Dalam hadis riwayat An-Nasa’i, Nabi menjelaskan bahwa Syaban adalah bulan ketika amal manusia diangkat kepada Allah SWT.
Baca juga: Mengapa Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali? Ini Penjelasannya
Karena itu, beliau memperbanyak puasa agar saat catatan amal dilaporkan, dirinya berada dalam keadaan taat.
Umat Islam dianjurkan membaca doa yang masyhur di kalangan ulama sejak generasi salaf. Doa ini dikutip dalam berbagai kitab seperti Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”
Makna doa tersebut sangat dalam. Kita tidak hanya memohon umur panjang, tetapi juga keberkahan waktu, kesehatan, serta kekuatan untuk beribadah.
Syekh Nawawi al-Bantani menafsirkan bahwa keberkahan berarti kemampuan memanfaatkan hari-hari untuk ketaatan, bukan sekadar bertambahnya bilangan usia.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengingatkan bahwa manusia kerap memasuki Ramadhan tanpa persiapan batin.
Menurutnya, Syaban adalah momentum “mengetuk pintu hati” agar karat dosa perlahan terkikis. “Ibadah besar memerlukan latihan jiwa, dan latihan itu bernama Syaban,” tulis Hamka.
Sementara Quraish Shihab menjelaskan, doa memasuki Syaban mengandung pendidikan optimisme. Memohon dipertemukan dengan Ramadhan berarti mengakui bahwa kesempatan beribadah adalah karunia, bukan kepastian. Karena itu seorang Muslim hendaknya menyambut Syaban dengan rasa syukur, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menggambarkan Syaban seperti taman yang harus ditanami sebelum panen Ramadhan tiba.
Puasa sunnah, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan istighfar menjadi benih yang kelak berbuah ketakwaan.
Di Indonesia, tradisi menghidupkan Syaban tampak dalam majelis zikir, pembacaan shalawat, hingga saling bermaafan menjelang Nisfu Syaban.
Esensinya bukan pada bentuk seremonial, melainkan memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Para ulama menyarankan beberapa amalan praktis:
1. Puasa sunnah mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW.
2. Memperbanyak istighfar dan shalawat untuk membersihkan hati.
3. Mempererat silaturahmi serta menyelesaikan perselisihan.
4. Belajar fikih puasa agar Ramadhan dijalani dengan benar.
5. Melazimkan doa Syaban setiap selesai shalat.
Baca juga: Akhir Bulan Rajab Tinggal Hitungan Hari, Ini Jadwal Awal Syaban 1447 H dan Keutamaannya
Syaban sejatinya adalah undangan ilahi untuk berbenah. Dengan mengulang doa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Seorang Muslim diajak menata niat dan langkah. Seperti pesan Buya Hamka, Ramadhan yang agung hanya bisa dimasuki oleh hati yang telah digembleng sebelumnya.
Semoga Syaban tahun ini menjadi awal perubahan, hingga saat Ramadhan tiba kita menyambutnya dengan jiwa yang lebih bersih, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang