Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Kompas.com, 23 Januari 2026, 14:46 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Bulan suci Ramadhan 2026 segera tiba. Umat Islam berlomba-lomba mempersiapkan diri menghadapi bulan mulia. Salah satu persiapan yang bisa dilakukan adalah melakukan Tazkiyatun Nafs.

Tazkiyatun Nafs terdiri dari dua kata, tazkiyah dan nafs. Secara bahasa, tazkiyah berasal dari kata zakā yang berarti bersih, tumbuh, dan berkembang. Sedangkan nafs berarti jiwa atau diri. Dengan demikian, Tazkiyatun Nafs berarti membersihkan diri atau jiwa dari dosa dan penyakit hati sekaligus menumbuhkannya dengan iman dan amal saleh.

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan bahwa Tazkiyatun Nafs bukan sekadar meninggalkan maksiat semata, tetapi juga menghiasi jiwa dengan ketaatan dan akhlak mulia.

Baca juga: Amalan Sebelum Tidur: Penenang Jiwa dan Penjaga Iman di Malam Hari

Urgensi Tazkiyatun Nafs dalam Islam

Islam memandang hati sebagai pusat kebaikan dan keburukan manusia. Rasulullah SAW bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menegaskan bahwa inti dari seluruh ibadah adalah perbaikan hati, karena amal lahir tidak akan bernilai tanpa hati yang bersih dan ikhlas.

Tahapan Tazkiyatun Nafs Menurut Ulama

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa Tazkiyatun Nafs memiliki tahapan yang saling berkaitan:

1. Takhalli (Mengosongkan Diri dari Penyakit Hati)

Tahap awal adalah membersihkan jiwa dari penyakit hati dan sifat tercela seperti:

  • Riya’ (pamer)
  • Hasad (iri dengki)
  • Ujub (berbangga diri)
  • Takabbur (sombong)
  • Kikir atau pelit
  • zalim (menyakiti atau merugikan orang lain)
  • Cinta dunia berlebihan

Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa dosa dan penyakit hati ibarat racun yang menghalangi cahaya iman masuk ke dalam hati.

Baca juga: Latar Belakang Isra Miraj: Rihlah Bagi Jiwa yang Dilanda Duka

2. Tahalli (Menghiasi Diri dengan Akhlak Mulia)

Setelah hati dikosongkan dari keburukan, langkah selanjutnya adalah menghiasi hati dengan berbagagai sifat atau akhlak terpuji. Beberapa diantara sifat tersebut adalah:

  • Ikhlas, semata-mata mencari ridha Allah SWT dan menerima segala takdir yang telah ditetapkan.
  • Sabar, menerima segala ketentuan dengan lapang dada.
  • Syukur, berterimakasih atas segala nikmat yang diberikan dan menggunakannya untuk ketaatan.
  • Tawakal, berserah diri kepada Allah SWT setelah ikhtiar dan berdoa.
  • Ridha, rela, senang, dan puas terhadap Allah SWT.

3. Tajalli (Merasakan Kedekatan dengan Allah)

Tajalli adalah buah dari Tazkiyatun Nafs, ketika seorang hamba merasakan ketenangan, kehadiran Allah dalam hidupnya, dan kelezatan iman.

Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menyebut bahwa ketenangan hati adalah tanda kuatnya iman dan bersihnya jiwa.

Cara Praktis Melakukan Tazkiyatun Nafs

Berikut ini beberapa cara praktis untuk melakukan Tazkiyatun Nafs.

1. Taubat yang Tulus

Taubat adalah pintu utama penyucian jiwa. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. At-Tahrim: 8)

Menurut Imam Al-Qurtubi, taubat yang benar mencakup penyesalan, berhenti dari dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya.

Baca juga: Manfaat Puasa Senin Kamis bagi Tubuh dan Jiwa: Panduan Lengkap & Dalilnya

2. Dzikir dan Mengingat Allah

Dzikir membersihkan hati dari kelalaian. Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ibn Taimiyah menyatakan dalam Majmu’ Al-Fatawa bahwa dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan, tanpanya, hati akan mati.

3. Muhasabah dan Muraqabah

Muhasabah adalah introspeksi diri, sedangkan muraqabah adalah merasa diawasi Allah setiap saat. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

Orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, berarti ia telah sampai derajat ihsan.

4. Lingkungan dan Guru yang Saleh

Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya lingkungan yang baik dalam proses Tazkiyatun Nafs, karena jiwa sangat mudah terpengaruh oleh kebiasaan sekitarnya.

Oleh karena itu, setelah tahapan Tazkiyatun Nafs dilakukan, selanjutnya adalah mencari lingkungan dan teman-teman yang dapat menguatkan kesucian hati.

Baca juga: Doa Memohon Kesucian Jiwa: Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahannya

Tazkiyatun Nafs Sebagai Persiapan Ramadhan

Tidak sedikit orang yang memasuki Ramadhan dengan tubuh berpuasa, tetapi hati masih dipenuhi iri, dengki, amarah, dan luka batin yang belum selesai. Padahal Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, melainkan bulan penyucian jiwa.

Di sinilah Tazkiyatun Nafs menjadi persiapan terpenting sebelum Ramadhan tiba. Tanpa jiwa yang dibersihkan, Ramadhan berisiko berlalu begitu saja, sibuk secara ritual, namun miskin secara spiritual.

Bagi orang yang dapat mencapai kesucian diri atau jiwa, ia akan mencapai kebahagiaan hakiki. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Madarijus Salikin pernah berkata, “Kesucian hati adalah jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.”

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Malam Nisfu Syaban 2026: Tanggal, Amalan, Keutamaan dan Dalilnya
Malam Nisfu Syaban 2026: Tanggal, Amalan, Keutamaan dan Dalilnya
Aktual
Dampak Buruk Berbuka Puasa Secara Berlebihan dalam Perspektif Islam
Dampak Buruk Berbuka Puasa Secara Berlebihan dalam Perspektif Islam
Doa dan Niat
Suhu Arab Saudi Anjlok hingga -3 Derajat, Embun Beku Selimuti Wilayah Perbatasan Utara
Suhu Arab Saudi Anjlok hingga -3 Derajat, Embun Beku Selimuti Wilayah Perbatasan Utara
Aktual
Tanggal Berapa Puasa 2026? Ini Perkiraan Awal Ramadan & Versi Muhammadiyah
Tanggal Berapa Puasa 2026? Ini Perkiraan Awal Ramadan & Versi Muhammadiyah
Aktual
Bulan Syaban Jadi Saksi Pernikahan Rasulullah dan Hafshah
Bulan Syaban Jadi Saksi Pernikahan Rasulullah dan Hafshah
Doa dan Niat
5 Dzikir Saat Hidup Sulit: Penawar Hati di Tengah Tekanan Meninggi
5 Dzikir Saat Hidup Sulit: Penawar Hati di Tengah Tekanan Meninggi
Doa dan Niat
Potensi Zakat dan Wakaf Rp 480 Triliun, Wamenag: Bisa Jadi Motor Keadilan Sosial Nasional
Potensi Zakat dan Wakaf Rp 480 Triliun, Wamenag: Bisa Jadi Motor Keadilan Sosial Nasional
Aktual
Sampai Kapan Puasa Qadha Ramadan? Ini Batas Akhir Resminya
Sampai Kapan Puasa Qadha Ramadan? Ini Batas Akhir Resminya
Aktual
Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa 18 Februari, Lebaran 20 Maret 2026: Ini Jadwal Lengkapnya
Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa 18 Februari, Lebaran 20 Maret 2026: Ini Jadwal Lengkapnya
Aktual
Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Doa dan Niat
Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Idul Fitri & Cuti Bersama Lengkap Berikut Hitung Mundur Puasa
Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Idul Fitri & Cuti Bersama Lengkap Berikut Hitung Mundur Puasa
Aktual
Benarkah Puasa Setelah Nisfu Syaban Dilarang? Ini Jawabannya
Benarkah Puasa Setelah Nisfu Syaban Dilarang? Ini Jawabannya
Aktual
Awas! Inilah 12 Perkara yang Dapat Menghapus Pahala dan Menjadikan Amal Sia-sia
Awas! Inilah 12 Perkara yang Dapat Menghapus Pahala dan Menjadikan Amal Sia-sia
Aktual
MUI Minta Pemerintah Tegas soal Dewan Perdamaian Bentukan Trump
MUI Minta Pemerintah Tegas soal Dewan Perdamaian Bentukan Trump
Aktual
Qadha Puasa Ramadhan: Bolehkah Tidak Berurutan dan Bagaimana Jika Tertunda?
Qadha Puasa Ramadhan: Bolehkah Tidak Berurutan dan Bagaimana Jika Tertunda?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com