Penulis
KOMPAS.com - Walisongo dikenal sebagai penyebar dakwah di yang berhasil membumikan Islam tanah Jawa. Keberhasilan ini ditunjang oleh berbagai metode dakwah yang tidak kaku, tetapi melakukan akulturasi budaya. Apa yang sudah ada di masyarakat Jawa tidak dihilangkan sepenuhnya, tetapi diganti dengan makna-makna Islam.
Ajaran memasukkan Islam secara perlahan-lahan ini membuat orang dengan sukarela memeluk agama Islam. Salah satu metode yang diterapkan adalah dengan menciptakan tembang atau lagu.
Dengan tembang atau lagu ini, nuansanya menjadi gembira sehingga mudah memasukkan nilai-nilai yang dibawanya. Salah satu tembang yang paling luar biasa dari gubahan para Wali adalah tembang Jawa berjudul Lir Ilir.
Baca juga: 7 Tradisi Ramadhan Zaman Dulu yang Kini Jarang Ditemui
Lagu Lir Ilir diciptakan oleh Sunan Kalijaga atau Rades Syahid. Satu-satunya anggota Walisongo yang asli dari Jawa. Beliau menggunakan pendekatan kultural untuk menyebarkan dakwah Islam.
Salah satu tembang yang diciptakannya adalah tembang Jawa berjudul Lir Ilir ini. Meskipun termasuk tembang dolanan, tetapi makna salah satu lagu daerah ini sangat mendalam, menggambarkan kebangkitan iman di masyarakat Jawa dan bagaimana harus merawatnya.
Menurut Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Jawa, menyebut bahwa tembang ini sebagai bagian dari strategi dakwah Sunan Kalijaga, anggota Walisongo yang dikenal menggunakan pendekatan kultural dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Lagu ini diciptakan sekitar Abad ke-16 ketika pengaruh Islam semakin kuat dan masyarakat berbondong-bondong masuk Islam. Saat banyak masyarakat sudah memeluk Islam, lagu ini diciptakan dengan tujuan menguatkan iman.
Berikut ini lirik lagu Lir Ilir yang diciptakan Sunan Kalijaga:
Lir ilir, lir ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon
Penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomana jlumatana
Kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surako, surak iyo.
Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia
Inilah makna filosofis dari tembang jawa Lir Ilir sebagai sarana untuk berdakwah kepada masyarakat.
Kata lir ilir berarti bangun dari tidur. Maknanya bukan tidur secara harfiah, melainkan bangkitnya kesadaran spiritual Islam di Jawa.
Tanaman yang mulai hijau melambangkan iman yang mulai hidup dan tumbuh subur serta Islam yang mulai diterima di masyarakat. Ini menimbulkan harapan baru di masa depan akan perkembangan Islam di Jawa.
Hal ini menggambarkan keyakinan terhadap orang yang baru mengenal Islam, masih bersih, penuh semangat, dan siap menjalani hidup baru dengan nilai tauhid seperti halnya pengantin baru.
Mereka adalah orang-orang yang siap untuk dididik dengan iman dan Islam sehingga keyakinannya akan menguat.
Cah angon adalah gambaran orang yang sedang mengendalikan hawa nafsunya. ia diminta untuk memanjat pohon belimbing. Belimbing adalah buah yang memiliki lima sudut, yaitu melambangkan ajaran rukun Islam.
Ini berarti bahwa orang yang baru masuk Islam harus berlatih mengendalikan hawa nafsunya dengan cara menjalankan rukun Islam.
Baca juga: Tradisi Sadranan di Bulan Sya’ban: Begini Pandangan Para Ulama
Meskipun licin dan banyak halangan, tetap harus melaksanakan rukun Islam untuk menyucikan diri atau membersihkan hati dan jiwa. Pakaian terbaik bagi manusia adalah pakaian takwa sebagaimana disampaikan dalam Al Quran.
وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ
Artinya: "Tetapi pakaian takwa, itulah yang terbaik." (Q.S. Al A'raf: 26).
Iman dan takwa kepada Allah SWT terkadang naik turun dan goyang hingga bisa menyebabkannya rusak.
Maknanya adalah iman dan takwa yang rusak harus diperbaiki kembali sebelum datangnya ajal atau menghadap Allah SWT di akhirat.
Iman dan takwa yang rusak harus dibenahi ketika masih ada kesempatan hidup dan cahaya hidayah masih menyinari hati.
Ajakan untuk memperbaiki iman dan takwa ini harus disambut dengan teriakan gembira dan persetujuan sehingga pada akhirnya akan selamat dunia akhirat.
Baca juga: Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa
Tembang Lir Ilir adalah warisan dakwah yang luar biasa: sederhana, puitis, namun dalam maknanya. Ia mengajarkan bahwa kebangkitan iman dimulai dari kesadaran, dirawat dengan amal, dan dijalani dengan kegembiraan.
Ketika masih ada waktu, iman dan takwa harus diperbaiki dengan sungguh-sungguh dan riang gembira sehingga tidak kecewa ketika nanti menghadap Allah SWT.
Islam hadir bukan untuk menghapus jati diri Nusantara, tetapi menyucikannya dan memberinya arah Ilahi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang