KOMPAS.com – Di tengah masa kehamilan, banyak ibu Muslim berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa dan bacaan Al-Qur’an.
Salah satu amalan yang cukup populer di masyarakat adalah membaca Surah Maryam dengan harapan memperoleh keberkahan bagi janin.
Namun, muncul pertanyaan yang tak kalah penting, benarkah Surah Maryam dianjurkan secara khusus untuk ibu hamil? Ataukah praktik ini sekadar tradisi yang berkembang di tengah umat?
Berikut ulasan lengkapnya, ditinjau dari perspektif syariat, literatur keislaman, hingga makna spiritual yang terkandung di dalamnya.
Baca juga: Unik, Alquran Kuningan Abad 18 Jadi Koleksi Museum di Makkah
Dalam praktiknya, membaca Surah Maryam bagi ibu hamil memang telah menjadi tradisi yang cukup luas di kalangan Muslim.
Surah ini dikenal mengandung kisah agung tentang Maryam, sosok perempuan suci yang melahirkan Nabi Isa AS, serta doa Nabi Zakariya AS yang memohon keturunan.
Meski demikian, secara teologis, tidak ditemukan dalil khusus—baik dari Al-Qur’an maupun hadis sahih yang secara eksplisit menganjurkan pembacaan Surah Maryam bagi ibu hamil.
Dalam buku Agar Momonganmu Cantik dan Tampan: Lapis-lapis Keberkahan Surat Yusuf dan Maryam bagi Ibu Hamil karya Ana Syarafatin dijelaskan bahwa praktik ini tidak berasal dari tuntunan langsung Rasulullah SAW maupun para sahabat, melainkan berkembang sebagai bentuk ikhtiar spiritual di tengah masyarakat.
Artinya, amalan ini tidak termasuk sunnah yang disyariatkan secara khusus, namun tetap diperbolehkan selama tidak diyakini sebagai kewajiban.
Baca juga: Doa Agar Cepat Hamil dan Diberikan Keturunan Lengkap dengan Artinya
Meski tidak ada dalil spesifik, membaca Al-Qur’an sendiri merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, termasuk bagi ibu hamil.
Dalam buku Ulumul Qur’an karya Manna Khalil al-Qattan dijelaskan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas lisan, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ketenangan batin.
Bagi ibu hamil, ketenangan psikologis memiliki pengaruh besar terhadap kondisi janin. Oleh karena itu, membaca Surah Maryam, seperti halnya surah lainnya tetap memiliki nilai ibadah dan manfaat spiritual.
Dengan kata lain, yang dianjurkan adalah membaca Al-Qur’an secara umum, bukan Surah Maryam secara khusus sebagai “amalan wajib”.
Surah Maryam merupakan surah ke-19 dalam Al-Qur’an, terdiri dari 98 ayat, dan tergolong sebagai surah Makkiyah. Isinya sarat dengan pesan keimanan, kesabaran, dan ketundukan kepada Allah.
Beberapa bagian penting yang sering dikaitkan dengan kehamilan antara lain:
Dalam buku Mukjizat Surat Yusuf dan Maryam karya Rizem Aizid dijelaskan bahwa kisah-kisah ini menjadi inspirasi spiritual bagi para orang tua yang menginginkan keturunan saleh.
Namun, penting dipahami bahwa nilai utama dari Surah Maryam bukan terletak pada “efek fisik”, melainkan pada pesan keimanan dan keteladanan.
Baca juga: Doa Agar Cepat Hamil dan Diberikan Keturunan Lengkap dengan Artinya
Di tengah masyarakat, sebagian ibu hamil kerap membaca Surah Maryam secara penuh atau memilih ayat-ayat tertentu, terutama ayat 1–11 yang berisi doa Nabi Zakariya AS. Berikut Bacaannya:
كۤهٰيٰعۤصۤ ۚ .1
Kaf Ha Ya 'Ain Shad
2. ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهٗ زَكَرِيَّا ۚ
Zikru raḥmati rabbika 'abdahụ zakariyyā
Artinya: "(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria,"
3. اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا
Iż nādā rabbahụ nida'an khafiyyā
Artinya: "(Yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut."
4. قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا
Qaala rabbi innii wahanal-'azmu minnī wasyta'alar-ra'su syaibaw wa lam akum bidu'a'ika rabbi syaqiyyaa
Artinya: "Dia (Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku'."
5. وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا ۙ
Wa innii khiftul-mawaaliya miw waraa'ii wa kaanatimra'atii 'aqiran fa hab lii mil ladungka waliyyaa
Artinya: "Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu"
6. يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
Yariṡunii wa yariṡu min aali ya'qụba waj'al-hu rabbi raḍiyyaa
Artinya: "Yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai."
7. يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ِۨاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا
Yaa zakariyya innaa nubasysyiruka bigulaaminismuhụ yaḥyaa lam naj'al lahụ ming qablu samiyyaa
Artinya: "(Allah berfirman), 'Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.'
8. قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا وَّقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا
Qaala rabbi annaa yakụnu lii gulāmuw wa kānatimra'atī 'āqiraw wa qad balagtu minal-kibari 'itiyyaa
Artinya: "Dia (Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?'
9. قَالَ كَذٰلِكَۗ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَّقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا
Qaala każālik, qaala rabbuka huwa 'alayya hayyinuw wa qad khalaqtuka ming qablu wa lam taku syai'aa
Artinya: "(Allah) berfirman, 'Demikianlah.' Tuhanmu berfirman, 'Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali'."
10. قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةً ۗقَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَ لَيَالٍ سَوِيًّا
Qaala rabbij'al lī aayah, qāla aayatuka allaa tukalliman-nāsa ṡalāṡa layālin sawiyyaa
Artinya: "Dia (Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.' (Allah) berfirman, 'Tandamu ialah engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat.'
11. فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا
Fa kharaja 'alā qaumihī minal-miḥrābi fa auḥaa ilaihim an sabbiḥụ bukrataw wa 'asyiyyā
Artinya: "Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka; bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang."
Doa tersebut menggambarkan harapan seorang hamba kepada Allah agar dikaruniai keturunan, meski dalam kondisi yang tampak mustahil secara manusiawi.
Secara substansi, doa ini bukan sekadar permohonan anak, tetapi juga harapan akan keturunan yang diridai Allah.
Sejumlah literatur populer menyebutkan berbagai keutamaan membaca Surah Maryam bagi ibu hamil, seperti:
Dalam buku Panduan Hamil Sehat & Syar’i karya Sa’idatul Nafisah, disebutkan bahwa amalan ini dapat menjadi bagian dari ikhtiar spiritual selama tidak diyakini sebagai sebab pasti.
Di sinilah pentingnya membedakan antara keyakinan dan harapan. Islam mengajarkan bahwa segala hasil tetap berada di tangan Allah SWT, sementara amalan hanya menjadi wasilah (perantara).
Baca juga: Menitipkan Anak di Daycare, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Dalam Islam, keutamaan seorang anak tidak diukur dari rupa semata, melainkan dari iman, akhlak, dan ketakwaannya.
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali dijelaskan bahwa keindahan sejati manusia terletak pada hati dan perilakunya, bukan pada fisik semata.
Karena itu, doa yang dipanjatkan oleh orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada kecantikan atau ketampanan, tetapi juga mencakup:
Agar amalan tetap bernilai ibadah, terdapat beberapa adab yang perlu diperhatikan:
Membaca Al-Qur’an dianjurkan dalam keadaan suci sebagai bentuk penghormatan.
Tidak tergesa-gesa dan memahami maknanya.
Lingkungan yang nyaman membantu kekhusyukan.
Sebagai bentuk ibadah, bukan sekadar ritual.
Menyerahkan hasil sepenuhnya kepada-Nya.
Membaca Surah Maryam bagi ibu hamil tidak memiliki dalil khusus yang mewajibkan atau menganjurkannya secara spesifik.
Namun, sebagai bagian dari membaca Al-Qur’an, amalan ini tetap diperbolehkan dan bernilai ibadah.
Yang terpenting adalah menjaga niat, tidak berlebihan dalam keyakinan, serta memahami bahwa semua hasil berasal dari kehendak Allah SWT.
Pada akhirnya, setiap doa orang tua adalah bentuk cinta yang tulus. Lebih dari sekadar harapan akan rupa yang indah, Islam mengajarkan bahwa anak terbaik adalah mereka yang membawa cahaya iman dan menjadi penyejuk hati bagi keluarganya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang