Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Istidraj: Banyak Nikmat Tetapi Tidak Menambah Taat

Kompas.com, 22 Januari 2026, 15:39 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Pernahkah melihat orang yang sedemikian mudah hidupnya? Rezeki datang mengalir tanpa henti. Semua kenikmatan datang silih berganti. Namun disatu sisi, tidak pernah terlihat kedekatannya pada Ilahi. Semua kenikmatan hanya digunakan untuk mengejar kenikmatan duniawi.

Dalam Islam, kondisi semacam itu bukan selalu menjadi kabar baik. Bisa jadi, itulah yang disebut istidraj dari Allah SWT. Istidraj adalah keadaan ketika Allah SWT memberikan kelapangan rezeki dan berbagai kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara ketaatannya tidak bertambah, bahkan semakin berpaling dari-Nya.

Baca juga: Kenapa Kenikmatan Dunia Bisa Menyesatkan? Mengenal Istidraj

Definisi Istidraj

Dalam buku Ihsan Ways, Agus Susanto menjelaskan bahwa istidraj adalah saat Allah membiarkan seorang hamba tenggelam dalam kenikmatan hingga ia merasa aman, sombong, dan menganggap dirinya berada di atas segalanya. Pada titik itu, hati menjadi lalai, doa terasa hampa, dan dosa tak lagi dianggap beban.

Ketika kesadaran telah tertutup oleh rasa “berhasil”, Allah mencabut nikmat itu, bukan sekadar harta, tetapi ketenangan, keberkahan, dan arah hidup. Yang tersisa hanyalah kesengsaraan dan kebinasaan.

Dalil Tentang Istidraj

Perkara istidraj ini telah disinggung Allah SWT dan Rasul-nya. Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Artinya:
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Q.S. Al An'am: 44).

Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

Artinya:
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (H.R. Ahmad).

Baca juga: Teks Khutbah Jumat Singkat: Hati-hati Terhadap Istidraj

Cara Membedakan Nikmat dan Istidraj

Pembeda utama antara nikmat sejati dan istidraj bukan terletak pada banyak atau sedikitnya harta, melainkan pada perubahan perilaku.

Nikmat yang berupa Istidraj dapat dikenali dengan kondisi berikut:

  • Rezeki bertambah tetapi ibadah menurun,
  • Hati semakin keras dan jauh dari Allah,
  • Merasa aman dari dosa dan hukuman Allah.

Sementara nikmat sejati dapat dikenali dengan tanda berikut:

  • Hati semakin bersyukur,
  • Ketaatan dan ibadah meningkat,
  • Semakin rendah hati dan takut kepada Allah.

Jika sebuah kenikmatan membuat seseorang lebih dekat dan taat kepada Allah, maka itulah nikmat sejati. Namun jika kenikmatan justru menjauhkan dari Allah dan menambah maksiat, maka patut dicurigai sebagai istidraj.

Cara Menghindari Istridraj

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari istdraj, diantaranya adalah:

1. Ukur nikmat dari dampaknya pada iman, bukan pada banyak jumlahnya

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menegaskan bahwa nikmat yang tidak menambah ketaatan sejatinya adalah ujian yang berbahaya. Jika rezeki bertambah tetapi sholat makin lalai, hati makin keras, dan dosa terasa biasa, maka nikmat itu patut dicurigai.

Baca juga: Perbaiki Hidup dengan Memperbaiki Shalat agar Hidup Menjadi Nikmat

2. Perbanyak Syukur yang Aktif, Bukan Sekadar Ucapan

Syukur bukan hanya ucapan Alhamdulillah. Syukur sejati adalah ketaatan yang bertambah setelah nikmat diterima.

Para ulama menjelaskan bahwa tambahan nikmat terbesar bukan selalu harta, tetapi tambahan hidayah dan keistiqamahan. Nikmat yang disyukuri dengan maksiat justru bisa berubah menjadi istidraj.

3. Biasakan Muhasabah Saat Hidup Terasa Terlalu Nyaman

Saat hidup terasa berat, seseorang mudah mengingat Allah. Namun saat hidup terasa nyaman, justru di situlah muhasabah paling dibutuhkan.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

Muhasabah membuat seseorang sadar bahwa kelapangan bukan jaminan keselamatan. Ia menahan hati dari rasa aman palsu, yaitu perasaan seolah Allah pasti ridha hanya karena hidup sedang baik-baik saja.

4. Jangan Terbuai oleh Aib yang Ditutupi

Salah satu bentuk istidraj yang paling halus adalah aib yang terus ditutupi, meski dosa terus dilakukan dan menumpuk.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah sering menutup aib seseorang bukan karena ridha, tetapi sebagai penundaan hukuman. Jika aib ditutup namun taubat tidak dilakukan, maka itu bisa menjadi tanda istidraj.

Karena itu, jangan tunggu dipermalukan untuk bertaubat. Taubat yang datang saat nikmat masih ada jauh lebih selamat daripada taubat yang datang setelah semuanya dicabut.

Baca juga: Doa Berlindung dari Hilangnya Nikmat Lengkap dengan Artinya

5. Perbanyak Doa Agar Nikmat Menjadi Keberkahan

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak hanya meminta dunia, tetapi juga keselamatan iman. Rasulullah SAW mengajarkan doa dalam hadits yang diriwayatkan Imam At tirmidzi sebagai berikut:

Arab:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

Latin:

Allāhumma lā taj‘alid-dunyā akbara hamminā, wa lā mablagha ‘ilminā.

Artinya:

Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia sebagai puncak pengetahuan kami.”

Doa adalah pengakuan bahwa nikmat tanpa penjagaan Allah bisa menjadi bencana. Orang yang takut istidraj akan lebih sering berdoa saat senang daripada saat susah.

6. Jadikan Nikmat sebagai Alat Ketaatan

Nikmat harta, jabatan, dan kemampuan sejatinya adalah amanah. Jika nikmat digunakan untuk maksiat, ia berubah menjadi hujjah yang memberatkan di akhirat.

Hasan Al-Bashri pernah berkata: “Setiap nikmat yang tidak mendekatkanmu kepada Allah, maka ia adalah musibah.”

Menghindari istidraj berarti menggunakan setiap nikmat sebagai sarana mendekat, bukan menjauh.

Baca juga: Kumpulan Doa Syukur Nikmat Lengkap dengan Terjemahannya

Penutup

Istidraj adalah peringatan halus dari Allah yang sering kali disalahartikan sebagai keberhasilan dan keberuntungan. Oleh karena itu, setiap kenikmatan yang diterima hendaknya diiringi dengan muhasabah, rasa takut, dan syukur yang mendalam.

Sebagaimana diajarkan para ulama, nikmat terbesar bukanlah kelapangan dunia, melainkan hati yang tetap hidup dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Jangan tertipu oleh nikmat semu yang membawa bahagia di awal tapi binasa pada akhirnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
Aktual
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Aktual
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
Aktual
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
Aktual
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
Aktual
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
Aktual
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
Aktual
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Aktual
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Aktual
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Aktual
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Presiden Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII Hari Ini, MUI Himpun 87 Ormas Bahas Masa Depan Bangsa
Presiden Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII Hari Ini, MUI Himpun 87 Ormas Bahas Masa Depan Bangsa
Aktual
Wasekjen PBNU soal Kuota Hangus: Jangan Ambil Hak Pelanggan Secara Batil
Wasekjen PBNU soal Kuota Hangus: Jangan Ambil Hak Pelanggan Secara Batil
Aktual
Menlu RI dan Negara Muslim Kecam Keras Eskalasi Israel di Al-Aqsa
Menlu RI dan Negara Muslim Kecam Keras Eskalasi Israel di Al-Aqsa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar