Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Itu Multazam? Lokasi, Keutamaan, dan Amalan Doa Mustajab

Kompas.com, 13 April 2026, 13:30 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di antara titik paling sakral di sekitar Ka'bah, terdapat satu area yang selalu dipadati jamaah haji dan umrah.

Mereka berdesakan, menempelkan tubuh, bahkan menitikkan air mata sambil berdoa. Tempat itu dikenal dengan nama Multazam, sebuah lokasi yang diyakini sebagai salah satu titik paling mustajab untuk bermunajat kepada Allah SWT.

Bagi banyak orang, kesempatan berada di Multazam bukan sekadar ritual, melainkan momen spiritual yang sulit dilupakan.

Lantas, apa sebenarnya Multazam, di mana letaknya, serta bagaimana tata cara berdoa di sana menurut para ulama?

Apa Itu Multazam? Makna dan Asal Usulnya

Secara bahasa, kata “Multazam” berasal dari akar kata Arab iltazama yang berarti “melekat”, “berpegang erat”, atau “menempel dengan kuat”.

Makna ini menggambarkan praktik ibadah yang dilakukan di tempat tersebut, yakni menempelkan tubuh ke dinding Ka'bah sambil berdoa.

Dalam konteks ibadah, Multazam adalah bagian dari dinding Ka'bah yang memiliki keutamaan khusus sebagai tempat memanjatkan doa.

Dalam buku Bimbingan Lengkap Haji dan Umrah karya Syukron Maksum dijelaskan bahwa Multazam merupakan lokasi di mana seorang hamba “mengikatkan” harapannya kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.

Baca juga: Doa Thawaf Lengkap 7 Putaran dan Doa Setelah Thawaf

Di Mana Letak Multazam?

Multazam terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, tepatnya di sisi timur bangunan suci tersebut. Jaraknya sekitar dua meter, menjadikannya area yang relatif sempit namun sangat diminati.

Karena posisinya yang strategis dan penuh keutamaan, tidak jarang jamaah harus menunggu atau berdesakan untuk bisa mencapai titik ini, terutama saat musim haji atau umrah.

Dalam keterangan yang dikutip dari berbagai riwayat, termasuk hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, disebutkan:

“Tidaklah seseorang berdoa di Multazam memohon sesuatu kepada Allah, kecuali Allah akan mengabulkannya.”

Meskipun sebagian ulama menilai kualitas hadis ini, maknanya tetap diterima secara luas sebagai dorongan untuk memperbanyak doa di tempat tersebut.

Keutamaan Berdoa di Multazam

Multazam bukan sekadar lokasi fisik, tetapi juga ruang spiritual yang sarat makna. Para ulama menjelaskan sejumlah keutamaan berdoa di tempat ini.

1. Tempat Doa Mustajab

Banyak riwayat menyebutkan bahwa doa di Multazam memiliki peluang besar untuk dikabulkan.

Dalam kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi menegaskan anjuran memperbanyak doa di tempat-tempat mulia, termasuk di sekitar Ka'bah.

2. Momen Kedekatan Spiritual

Menempelkan tubuh ke dinding Ka'bah menghadirkan rasa kedekatan yang mendalam antara hamba dan Tuhannya. Ini menjadi pengalaman batin yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

3. Sarana Memohon Ampunan

Banyak jamaah memanfaatkan momen ini untuk bertobat. Tangisan dan doa yang dipanjatkan di Multazam diyakini sebagai bentuk penyesalan yang tulus.

4. Simbol Totalitas Doa

Posisi tubuh yang menempel mencerminkan ketundukan total. Dalam buku Syama'il Rasulullah karya Ahmad Mustafa Mutawalli, dijelaskan bahwa praktik ini menunjukkan kesungguhan seorang hamba dalam memohon kepada Allah.

Baca juga: Doa-doa di Makkah Al-Mukarramah: Bacaan Arab, Arti, dan Keutamaannya bagi Jemaah Haji

Tata Cara Berdoa di Multazam

Meski tidak ada tata cara baku yang bersifat wajib, para ulama memberikan panduan berdasarkan riwayat dan praktik salaf.

1. Niat dan Persiapan Hati

Datanglah dengan niat tulus, bukan sekadar mengikuti arus jamaah. Keikhlasan menjadi kunci utama dalam berdoa.

2. Menempelkan Tubuh ke Dinding Ka'bah

Menurut penjelasan Ibnu Taimiyyah, dianjurkan untuk menempelkan dada, wajah, dan kedua tangan ke dinding Multazam.

3. Posisi Tangan

Tangan kanan diarahkan ke pintu Ka'bah, sementara tangan kiri mengarah ke Hajar Aswad. Posisi ini disebut dalam beberapa riwayat, meskipun tidak bersifat wajib.

4. Membaca Doa

Salah satu doa yang dianjurkan terdapat dalam kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi, yang berisi pujian kepada Allah, shalawat kepada Nabi, serta permohonan perlindungan dan keberkahan.

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَكَ وَيُكَافِي مَزِيدَكَ أَحْمَدُكَ بِجَمِيعِ مَحَامِدِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ عَلَى جَمِيعِ نِعَمِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ وأَعِذْنِي مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَقَنَعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي وَبَارِكْ لِي فِيهِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أَكْرَمِ وَفْدِكَ عَلَيْكَ وَأَلْزِمْنِي سَبِيْلَ الْاسْتِقَامَةِ حَتَّى أَلْقَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

Allahumma lakal hamdu hamday yuwaafi ni'amika wa yukaafiu maziidak, ahmaduka bi jamii-i mahaamidika maa 'alimtu minhaa wa maa lam a'lam 'alaa jamii-i ni'amika maa 'alimtu minhaa wa maa lam a'lam wa 'alaa kulli haal, allaahumma shalli wa sallim 'alaa muhammadin wa'alaa aali muhammad, allaahumma a'idznii minasy syaithaanir rajiim, wa 'aid- znii min kulli suu', wa qanni'nii bi maa razaqtanii wa baarik lii fiih. Allaa- hummaj 'alnii min akrami wafdika 'alaika, wa alzimnii sabiilal istiqaamati hattaa alqaaka yaa rabbal 'aalamiin.

Artinya: "Ya Allah, Segala puji bagi-Mu, dengan pujian yang menyampaikan pada kenikmatan-Mu dan menepati tambahan kenikmatan itu. Aku memuji-Mu dengan semua pujian baik yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui atas seluruh kenikmatan-Mu baik yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, atas segala keadaan. Ya Allah, limpahkanlah sholawat dan salam atas Nabi Muhammad SAW dan keluarga Nabi Muhammad SAW. Ya Allah, lindungilah aku dari setan-setan yang terkutuk, dan lindungilah aku dari segala keburukan dan jadikanlah aku qanaah menerima apa yang Engkau berikan dan berkahilah di dalamnya untukku. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang mulia yang Engkau utus, dan tetapkanlah istikamah sampai aku bertemu kepada-Mu, wahai Tuhan pemilik seluruh alam."

5. Sampaikan Hajat Pribadi

Setelah membaca doa yang dianjurkan, jamaah dipersilakan memanjatkan doa apa pun—tentang kehidupan, keluarga, ampunan, hingga harapan masa depan.

Waktu Terbaik Berdoa di Multazam

Multazam dapat didatangi kapan saja, tetapi beberapa ulama menganjurkan waktu tertentu, seperti:

  • Setelah selesai tawaf
  • Menjelang tawaf wada’ (perpisahan)
  • Saat kondisi tidak terlalu padat

Dalam buku Panduan Beribadah Khusus Pria karya Syaikh Hasan Muhammad Ayyub, disebutkan bahwa momentum setelah tawaf memiliki nilai spiritual yang tinggi karena hati berada dalam kondisi lebih khusyuk.

Baca juga: Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah

Multazam: Antara Keyakinan dan Pengalaman Spiritual

Bagi sebagian orang, Multazam adalah tempat di mana doa-doa terasa lebih dekat dengan langit. Banyak kisah dari jamaah yang mengaku doanya terkabul setelah bermunajat di sana.

Namun, para ulama mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah tempat semata, melainkan keikhlasan dan keyakinan dalam berdoa. Multazam hanyalah salah satu wasilah yang Allah muliakan.

Kesimpulan: Ruang Sunyi di Tengah Keramaian

Di tengah hiruk pikuk Masjidil Haram, Multazam menghadirkan ruang sunyi bagi setiap jiwa yang ingin bersandar kepada Tuhannya.

Ia bukan sekadar lokasi di antara batu dan pintu, melainkan titik pertemuan antara harapan manusia dan rahmat Ilahi.

Bagi yang berkesempatan, Multazam adalah momen langka. Namun bagi yang belum sampai ke sana, esensi doa tetap sama, bahwa setiap tempat bisa menjadi “Multazam”, selama hati benar-benar melekat kepada Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
6 Calon Petugas Haji 2026 Gugur saat Diklat PPIH Arab Saudi, Terkendala Masalah Kesehatan dan Disiplin
6 Calon Petugas Haji 2026 Gugur saat Diklat PPIH Arab Saudi, Terkendala Masalah Kesehatan dan Disiplin
Aktual
DPR Tegas! Kenaikan Biaya Penerbangan Haji Harus Ditanggung Negara, Bukan Jemaah
DPR Tegas! Kenaikan Biaya Penerbangan Haji Harus Ditanggung Negara, Bukan Jemaah
Aktual
Halalbihalal Kompas Gramedia: Tradisi Tahunan yang Menyatukan Keberagaman
Halalbihalal Kompas Gramedia: Tradisi Tahunan yang Menyatukan Keberagaman
Aktual
Pasutri Pedagang Pecel Lele di Bekasi Tertipu Modus Percepatan Haji, Uang Rp600 Juta Raib
Pasutri Pedagang Pecel Lele di Bekasi Tertipu Modus Percepatan Haji, Uang Rp600 Juta Raib
Aktual
Penipuan Percepatan Haji Ditemukan di Bekasi, Puluhan Warga Hampir Jadi Korban
Penipuan Percepatan Haji Ditemukan di Bekasi, Puluhan Warga Hampir Jadi Korban
Aktual
Persiapan Jemaah Haji Bengkulu Masuk Tahap Akhir, Jemaah Mulai Masuk Asrama 23 April
Persiapan Jemaah Haji Bengkulu Masuk Tahap Akhir, Jemaah Mulai Masuk Asrama 23 April
Aktual
Kesiapan Haji 2026 Dibahas di DPR, Menhaj Soroti Fasilitas hingga Biaya Penerbangan
Kesiapan Haji 2026 Dibahas di DPR, Menhaj Soroti Fasilitas hingga Biaya Penerbangan
Aktual
6 Penghalang Doa dalam Islam, Ini Penyebab Doa Sulit Dikabulkan
6 Penghalang Doa dalam Islam, Ini Penyebab Doa Sulit Dikabulkan
Doa dan Niat
Haji 2026 Hanya untuk Pemegang Visa Resmi, Arab Saudi Tegaskan Sanksi Berat bagi Pelanggar
Haji 2026 Hanya untuk Pemegang Visa Resmi, Arab Saudi Tegaskan Sanksi Berat bagi Pelanggar
Aktual
Kuota Haji Fakfak 2026 Turun Jadi 17 Orang, Antrean Tembus 1.227 Calon Jemaah
Kuota Haji Fakfak 2026 Turun Jadi 17 Orang, Antrean Tembus 1.227 Calon Jemaah
Aktual
Doa Mustajab di Makam Ibrahim Saat Tawaf, Ini Bacaan Lengkapnya
Doa Mustajab di Makam Ibrahim Saat Tawaf, Ini Bacaan Lengkapnya
Aktual
Apakah Telinga Berdengung Tanda Dibicarakan? Ini Menurut Islam & Medis
Apakah Telinga Berdengung Tanda Dibicarakan? Ini Menurut Islam & Medis
Aktual
Bacaan Doa Awal Bulan Zulkaidah: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Bacaan Doa Awal Bulan Zulkaidah: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Aktual
Hukum Kurban untuk Orang Meninggal, Boleh atau Tidak? Ini Kata Ulama
Hukum Kurban untuk Orang Meninggal, Boleh atau Tidak? Ini Kata Ulama
Aktual
Biaya Penerbangan Haji 2026 Naik Rp 1,77 Triliun, Kemenhaj Gandeng Kejagung Cari Solusi
Biaya Penerbangan Haji 2026 Naik Rp 1,77 Triliun, Kemenhaj Gandeng Kejagung Cari Solusi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com