Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Doa dan Cara Meraih Haji Mabrur yang diharapkan Seluruh Jemaah Serta Tanda-Tandanya Setelah Kepulangan

Kompas.com, 28 April 2026, 22:01 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com - Ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan ruhani yang penuh kesabaran, pengorbanan, disiplin, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Karena itu, kemabruran haji tidak cukup diukur dari pakaian ihram atau selesainya rangkaian manasik semata.

Predikat haji mabrur lahir dari niat yang tulus, ibadah yang benar, serta perubahan akhlak setelah pulang dari haji.

Baca juga: Haji Tidak Selalu Mabrur, Ini Tanda dan Cara Agar Ibadah Diterima

Setiap jamaah tentu berharap memperoleh kemuliaan tersebut karena balasannya sangat agung di sisi Allah.

Dilansir dari laman MUI, Balasan bagi haji mabrur dijelaskan dalam hadits yang sangat masyhur yaitu:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Khutbah Jumat Hari Ini: Mengenal Apa Itu Haji Mabrur dan Ciri-cirinya

Predikat haji mabrur menjadi harapan seluruh jamaah haji. Namun, kemabruran tidak datang otomatis hanya karena seseorang telah tiba di Makkah dan menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji.

Cara Meraih Haji Mabrur dengan Manasik yang Benar

Predikat tersebut harus diupayakan melalui dua jalan besar, yakni ikhtiar lahiriah dan permohonan batiniah kepada Allah SWT.

1. Manasik Haji Sebelum Berangkat

Langkah pertama menuju haji mabrur adalah dengan mencari ilmu dengan menjalankan seluruh manasik sesuai tuntunan syariat.

Karena itu, mempelajari fikih haji, memahami rukun, wajib, sunnah, larangan ihram, adab thawaf, sa’i, wukuf, mabit, hingga melontar jumrah merupakan bagian penting dari kesungguhan ibadah.

Banyak orang bersemangat berangkat haji, tetapi minim persiapan ilmu. Padahal ibadah tanpa ilmu rentan jatuh pada kekeliruan.

Para ulama sejak dahulu membahas haji secara rinci dalam kitab-kitab fikih, menunjukkan bahwa ibadah ini membutuhkan kesiapan yang matang.

2. Menjaga Akhlak Selama Menjalankan Haji

Selain sah secara hukum, jamaah juga perlu menjaga akhlak selama berhaji.

Di antaranya adalah sabar saat antre, lembut kepada sesama jamaah, tidak mudah marah, menjaga lisan, serta memperbanyak dzikir.

Haji mabrur bukan hanya ibadah yang benar secara fikih, tetapi juga baik secara perilaku.

3. Memanjatkan Doa Agar Haji Menjadi Mabrur

Setelah ikhtiar maksimal, seorang hamba tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Sebab yang menilai kemabruran bukan manusia, bukan panitia, dan bukan pula gelar sosial setelah pulang haji.

Ilustrasi hajiPexels/ Lalezarfa Ilustrasi haji

Bacaan Doa Agar Haji Menjadi Mabrur

Dalam pembahasan manasik terdapat riwayat doa yang populer dibaca ketika melontar jumrah:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا

“Ya Allah, jadikanlah ini haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.”

Riwayat ini disebutkan dari praktik Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Dalam kitab Ad-Du‘a karya Imam ath-Thabrani disebutkan:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدٍ الْحِنَّائِيُّ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا رَمَى الْجِمَارَ كَبَّرَ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ وَقَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا

“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad al-Hinna’i, telah menceritakan kepada kami Syaiban, telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau apabila melempar jumrah, beliau bertakbir pada setiap lemparan batu kecil, lalu berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.’ (Ad-Du‘a li ath-Thabrani [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], h. 276)

Artinya, Ibnu Umar ketika melempar jumrah bertakbir pada setiap lemparan batu, lalu berdoa memohon haji mabrur dan ampunan dosa.

Dalam tradisi mazhab Syafi’i, doa tersebut juga dikenal dengan tambahan lafaz:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا

“Ya Allah, jadikanlah ini haji yang mabrur, dosa yang diampuni, dan usaha yang diterima dengan penuh syukur.”

Hal ini sebagaimana riwayat yang dicatat Imam al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra:

أَخْبَرَنَا أَبُو سَعِيدِ بْنُ أَبِي عَمْرٍو، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ الْأَصَمُّ، أنبأ الرَّبِيعُ، قَالَ: قَالَ الشَّافِعِيُّ: أُحِبُّ كُلَّمَا حَاذَى بِهِ يَعْنِي بِالْحَجَرِ الْأَسْوَدِ أَنْ يُكَبِّرَ، وَأَنْ يَقُولَ فِي رَمَلِهِ: اللهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا، وَسَعْيًا مَشْكُورًا

“Telah mengabarkan kepada kami Abu Sa‘id bin Abi ‘Amr, telah menceritakan kepada kami Abu al-‘Abbas al-Ashamm, telah memberitakan kepada kami ar-Rabi‘, ia berkata: Imam asy-Syafi‘i berkata: ‘Aku menyukai agar setiap kali seseorang sejajar dengan Hajar Aswad, ia bertakbir. Dan hendaknya ia mengucapkan ketika melakukan ramal: ‘Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur, dosa yang diampuni, dan usaha yang diterima dengan penuh syukur.’” (As-Sunan al-Kubra [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], juz 5, h. 137)

Keterangan serupa juga terdapat dalam kitab Al-Umm:

وَأُحِبُّ كُلَّمَا حَاذَى بِهِ أَنْ يُكَبِّرَ وَأَنْ يَقُولَ فِي رَمَلِهِ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا

“Aku menyukai agar setiap kali seseorang sejajar dengan Hajar Aswad, ia bertakbir. Dan hendaknya ia mengucapkan ketika melakukan ramal: ‘Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur, dosa yang diampuni, dan usaha yang diterima dengan penuh syukur.’” (Al-Umm [Beirut: Dar al-Fikr], juz 2, h. 230)

Sebagian orang mengira doa ini merupakan hadis Nabi secara langsung. Padahal para ahli hadis menilai penyandaran tersebut kepada Nabi tidak kuat atau lemah.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengomentari:

حَدِيثُ رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي رَمَلِهِ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا... لَمْ أَجِدْهُ

“Hadits yang menyebut Nabi berdoa demikian ketika ramal, aku tidak menemukannya.”

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa al-Baihaqi menyebutkannya sebagai perkataan Imam Syafi’i, sedangkan riwayat dari jalur Ibnu Mas‘ud dan Ibnu Umar dinilai lemah. (At-Talkhis al-Habir, juz 2, h. 542)

Meski demikian, doa ini tetap boleh diamalkan sebagai doa yang baik, namun tidak dipastikan sebagai sunnah Nabi dengan sanad sahih.

Tanda atau Ciri Orang yang Hajinya Mabrur

Predikat haji mabrur juga dapat dilihat dari perubahan setelah seseorang pulang berhaji.

Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ. قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللهِ مَا بِرُّالْحَجِّ الْمَبْرُورُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

“Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, apakah tanda kebaikan haji mabrur itu?’ Beliau menjawab, ‘Memberi makan dan menyebarkan salam.’”

Dalam Mu’jam al-Ausath disebutkan riwayat lain:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ. قَالَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: ِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَطِيبُ الْكَلَامِ

“Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga. Sahabat bertanya, ‘Apa tanda kemabrurannya?’ Beliau menjawab, ‘Memberi makan dan berkata baik.’”

Dari riwayat tersebut dapat dipahami bahwa kemabruran haji tampak dalam kehidupan sehari-hari selepas berhaji.

Ukuran haji mabrur terlihat dari manfaat sosialnya. Orang yang hajinya baik akan ringan tangan membantu sesama, peduli kepada orang lain, menyebarkan kedamaian, menjaga silaturahim, dan senantiasa berkata baik.

Haji mabrur diraih melalui manasik yang benar, akhlak yang baik, doa yang tulus, dan perubahan nyata setelah pulang dari Tanah Suci.

Seorang Muslim tidak cukup hanya menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah, tetapi juga dituntut peduli kepada sesama.

Jika seluruh ikhtiar itu dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka insya Allah seseorang meraih haji mabrur yang balasannya adalah surga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Catatan MUI Tentang Tradisi Rebo Wekasan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Catatan MUI Tentang Tradisi Rebo Wekasan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Aktual
Rebo Wekasan 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Amalan yang Bisa Dikerjakan
Rebo Wekasan 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Amalan yang Bisa Dikerjakan
Aktual
Empat Syarat Agar Pekerjaan Bernilai Ibadah
Empat Syarat Agar Pekerjaan Bernilai Ibadah
Aktual
Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur
Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur
Aktual
Baznas Ajak Bangsa Pererat Persatuan lewat Zakat, Infak, Sedekah
Baznas Ajak Bangsa Pererat Persatuan lewat Zakat, Infak, Sedekah
Aktual
Jangan Keliru, Bekerja Cari Nafkah Juga Bagian dari Ibadah
Jangan Keliru, Bekerja Cari Nafkah Juga Bagian dari Ibadah
Aktual
Bagian dari Syiar Islam, MTQ Jawa Barat Tetap Digelar, Ini Jadwalnya
Bagian dari Syiar Islam, MTQ Jawa Barat Tetap Digelar, Ini Jadwalnya
Aktual
Hadapi Tantangan Kebangsaan, Gus Rozin Paparkan 5 Strategi NU
Hadapi Tantangan Kebangsaan, Gus Rozin Paparkan 5 Strategi NU
Aktual
Willie Salim Belajar Agama ke KH Cholil Nafis di Pesantren Depok
Willie Salim Belajar Agama ke KH Cholil Nafis di Pesantren Depok
Aktual
Mengintip Tren Fesyen Muslim Gen Z 2026, Terinspirasi Gaya Korea
Mengintip Tren Fesyen Muslim Gen Z 2026, Terinspirasi Gaya Korea
Aktual
Khitan Gratis untuk Yatim dan Dhuafa di Bandung, Begini Cara Mengikutinya
Khitan Gratis untuk Yatim dan Dhuafa di Bandung, Begini Cara Mengikutinya
Aktual
Apakah Anak Piatu Berhak Mendapat Santunan seperti Anak Yatim? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Apakah Anak Piatu Berhak Mendapat Santunan seperti Anak Yatim? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Doa Sebelum Bekerja di Hari Senin agar Rezeki Lancar dan Diberi Kemudahan
Doa Sebelum Bekerja di Hari Senin agar Rezeki Lancar dan Diberi Kemudahan
Doa dan Niat
Hukum Sengaja Tidak Membayar Hutang Padahal Mampu, Benarkah Termasuk Dosa Besar?
Hukum Sengaja Tidak Membayar Hutang Padahal Mampu, Benarkah Termasuk Dosa Besar?
Aktual
Doa Pelunas Hutang dalam Islam dan Waktu Paling Mustajab Membacanya
Doa Pelunas Hutang dalam Islam dan Waktu Paling Mustajab Membacanya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar