Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ratusan Pengasuh Pesantren Kumpul di Jakarta, Bahas Masa Depan Pendidikan Islam

Kompas.com, 3 September 2025, 23:19 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com – Ratusan pengasuh pesantren dari berbagai wilayah di Indonesia akan berkumpul di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Jakarta, pada 17–18 September 2025 untuk membahas masa depan pendidikan bercorak Islam.

Para kiai, bu nyai, gus, ning, dan berbagai kalangan yang tergabung dalam Gerakan Nasional (Gernas) Ayo Mondok akan menggelar rapat kerja (Raker) perdana guna merumuskan program-program strategis pendidikan pesantren.

"Raker akan diikuti sekitar 120 pengurus gerakan nasional ini, baik dari tingkatan pusat maupun koordinator wilayah (Korwil)," ujar Sekretaris Jenderal Gernas Ayo Mondok, M Zahrul Azhar As’ad di Jakarta, Rabu (3/9/2025).

Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Targetkan Pesantren di Tangerang Berstandar Cambridge Internasional

Zahrul mengatakan, forum ini menjadi ajang strategis untuk bertemu, menyamakan visi dan persepsi, sekaligus merumuskan program terbaik pesantren ke depan.

"Pada dua tahun ke depan kita akan fokus memperkuat, membangun citra pesantren agar publik tetap memiliki trust (kepercayaan) kepada pesantren lebih tinggi lagi," katanya.

Pria yang akrab disapa Gus Hans itu menambahkan, jumlah pondok pesantren di Indonesia mencapai lebih dari 39.551. Potensi besar ini, menurutnya, harus dikelola dengan baik agar pendidikan pesantren semakin berkualitas di tengah perubahan zaman.

"Yang kita harapkan dari banyaknya pesantren di Indonesia tidak sekedar menjadi buih di lautan yang tidak memiliki makna. Sebab, sejatinya banyak potensi di pesantren yang bisa berdampak untuk membangun karakter bangsa," ujarnya.

Pembukaan Raker ke-1 Gernas Ayo Mondok akan digelar di Ponpes Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, asuhan KH Ahmad Mahrus Iskandar. Acara tersebut direncanakan dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dan dihadiri sekitar 350 undangan.

Baca juga: HUT ke-80 RI di Pesantren, Kemenag dan Densus 88 Kobarkan Semangat Persatuan

Gerakan Nasional Ayo Mondok, kata Gus Hans, merupakan wadah para alumni, pengasuh, dan pengurus pesantren untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pesantren dipandang strategis karena mendidik anak berkarakter, cinta bangsa, negara, dan agama sesuai dengan tradisi ketimuran serta nilai keulamaan.

"Andaikan profesionalisme, intelektualitas digabungkan dengan akhlakul karimah, insya Allah akan mampu membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi," tutup Gus Hans.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com