KOMPAS.com – Dalam perjalanan hidup, mencari pasangan bukan sekadar soal perasaan, tetapi juga ikhtiar spiritual yang melibatkan doa dan ketulusan hati.
Dalam Al-Qur’an, terdapat salah satu doa yang kerap diamalkan umat Islam ketika berharap jodoh dan rezeki, yaitu doa yang dipanjatkan oleh Nabi Musa AS.
Doa ini bukan hanya singkat, tetapi juga sarat makna. Ia lahir dari kondisi paling sulit dalam hidup Nabi Musa saat sendirian, tanpa harta, dan jauh dari kampung halaman.
Namun justru dari titik itulah, pertolongan Allah SWT datang, menghadirkan rezeki sekaligus jodoh.
Dalam Al-Qur’an, kisah ini diabadikan dalam Surah Al-Qasas ayat 24. Diceritakan bahwa Nabi Musa AS melarikan diri dari Mesir setelah peristiwa yang membuatnya harus meninggalkan istana Firaun.
Ia tiba di Madyan dalam kondisi kelelahan dan tanpa bekal. Dalam tafsir klasik seperti karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Nabi Musa AS kemudian melihat dua perempuan yang kesulitan memberi minum ternak mereka karena harus menunggu para penggembala laki-laki selesai.
Dengan penuh empati, Nabi Musa membantu keduanya tanpa pamrih. Setelah itu, ia menepi dan berteduh di bawah pohon, dalam keadaan lapar dan lelah. Di situlah, ia memanjatkan doa yang sangat sederhana, tetapi penuh ketundukan:
رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ
Rabbi innii limaa anzalta ilayya min khairin faqiir
Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”
Baca juga: Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut, Ini Penjelasan Ulama
Dalam buku Doa dalam Al-Quran dan Sunnah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa doa ini mencerminkan totalitas penghambaan.
Nabi Musa AS tidak menyebutkan secara spesifik apa yang ia butuhkan, apakah makanan, pekerjaan, atau pasangan hidup melainkan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Pendekatan ini menunjukkan kedalaman spiritual seorang hamba tidak selalu harus merinci permintaan, tetapi cukup menunjukkan kebutuhan dan ketergantungan kepada Sang Pencipta.
Makna “faqir” dalam doa tersebut bukan sekadar miskin secara materi, tetapi juga menunjukkan kebutuhan total manusia terhadap rahmat Allah SWT.
Menariknya, jawaban atas doa tersebut datang dengan cara yang tidak terduga. Dalam kelanjutan ayat, salah satu perempuan yang dibantu Nabi Musa kembali bersama ayahnya, yang oleh banyak mufasir diyakini sebagai Nabi Syu'aib AS.
Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa Nabi Musa kemudian diundang, diberi pekerjaan, dan akhirnya dinikahkan dengan salah satu putri Nabi Syu’aib.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa doa yang dipanjatkan dengan tulus dapat membuka pintu rezeki sekaligus jodoh dalam satu rangkaian takdir.
Baca juga: Siapa Firaun Pengejar Nabi Musa yang Ditelan Laut Merah? Ramses II vs Merneptah
Doa Nabi Musa AS ini sering diamalkan oleh umat Islam yang sedang menanti jodoh. Bukan karena doa ini secara eksplisit menyebut pasangan hidup, tetapi karena konteksnya menunjukkan bagaimana Allah memberikan jodoh sebagai bagian dari “kebaikan” yang dimohonkan.
Dalam buku Kumpulan Doa Khusus Wanita, Arina Milatal Haq menyebutkan bahwa doa ini sangat relevan dibaca oleh siapa pun yang sedang berharap kebaikan hidup, termasuk pasangan yang saleh atau salehah.
Selain itu, doa ini juga mengajarkan pentingnya sikap:
Secara umum, doa ini bisa dibaca kapan saja. Namun, terdapat beberapa waktu yang dianggap lebih utama, antara lain:
Hal ini sejalan dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Umamah, bahwa doa setelah salat wajib dan di waktu malam memiliki peluang besar untuk dikabulkan.
Baca juga: Makna Dialog Nabi Muhammad dan Nabi Musa dalam Isra Miraj
Perlu dipahami bahwa doa bukan satu-satunya jalan. Dalam berbagai literatur Islam, termasuk Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, disebutkan bahwa doa harus diiringi dengan ikhtiar nyata.
Dalam konteks mencari jodoh, hal ini berarti:
Nabi Musa AS sendiri tidak hanya berdoa, tetapi juga berbuat baik dengan membantu orang lain. Dari perbuatan itulah pintu rezeki dan jodoh terbuka.
Kisah Nabi Musa AS di Madyan memberikan pelajaran penting bahwa jodoh bukan sekadar hasil usaha manusia, tetapi juga bagian dari ketentuan Allah yang datang di waktu terbaik.
Doa yang sederhana itu menjadi simbol ketulusan seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa, tetapi tetap berharap penuh kepada Tuhannya.
Di tengah kegelisahan mencari pasangan hidup, doa ini seolah menjadi pengingat bahwa kadang, yang dibutuhkan bukan permintaan yang panjang, tetapi hati yang benar-benar berserah. Dan mungkin, dari kalimat singkat itu pula, pintu kebaikan akan terbuka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang