Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PWNU Jawa Timur Tegaskan Tidak Berpihak dalam Polemik PBNU, Pilih Jaga Persatuan NU

Kompas.com, 16 Desember 2025, 22:31 WIB
Khairina

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com-Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menegaskan sikap tidak berpihak kepada siapa pun dalam polemik struktural di tingkat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) karena pemihakan dinilai berpotensi memicu perpecahan, sementara PWNU Jatim berkomitmen menjaga persatuan organisasi.

Sikap tersebut ditegaskan Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudzh atau Gus Kikin bersama Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Abdul Matin Djawahir dalam rapat harian Syuriah–Tanfidziyah di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Selasa (16/12/2025) dilansir dari Antara.

“Dalam silaturahmi ke cabang (PCNU) yang saat ini sudah menjangkau 24 cabang atau kurang 18 cabang lagi, ada beberapa pengurus yang tanya, PWNU Jatim mendukung siapa?! Saya tegaskan PWNU Jatim mendukung NU,” kata Gus Kikin.

Rapat harian tersebut juga dihadiri Rais Syuriah PWNU Jatim KH Anwar Manshur.

Baca juga: PBNU Kerahkan Seluruh Elemen NU Bantu Penyintas Banjir Sumatera, dari Sembako hingga Trauma Healing

Gus Kikin menegaskan bahwa mendukung NU berarti tidak memihak kubu mana pun karena sikap berpihak justru berpotensi menimbulkan perpecahan, sementara Nahdlatul Ulama berdiri di atas prinsip anti-perpecahan.

“Kita tidak fokus pada polemik, tapi kita fokus membina cabang (PCNU) dan MWC (NU tingkat kecamatan), karena itu kita fokus pada silaturrahmi sejak 19 November 2025 hingga Februari 2026, jadi ramai di atas, di bawah segar,” ujar Gus Kikin.

Selain pembinaan PCNU dan MWC, pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut juga menanggapi rencana peringatan Satu Abad NU di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 31 Januari 2026.

Menurut Gus Kikin, PWNU Jatim mempertimbangkan langkah istikharah atau menggelar acara internal PWNU Jawa Timur yang berskala cukup besar.

Pandangan tersebut mendapat dukungan dari Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Abdul Matin Djawahir.

“Silaturahmi kita ke PCNU/MWC NU itu sudah lama kita adakan sebelum ada polemik di PBNU, jadi seperti siram-siram yang segar,” kata KH Abdul Matin Djawahir.

Baca juga: Musyawarah Besar Warga NU 2025 Akan Digelar di Ciganjur, Bahas Arah Masa Depan NU

Ia menilai polemik di tingkat PBNU cukup diselesaikan di level PBNU, sementara PCNU, MWC NU, dan struktur kepengurusan di bawah tetap berjalan sebagaimana mestinya.

“Silaturahmi justru membuat PCNU lebih tenang dan gembira, karena ada kebersamaan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim Prof. Dr. H. Maskuri Bakri.

“Alhamdulillah, selama saya ikuti silaturahmi ke cabang-cabang, pengurus cabang umumnya menyambut kunjungan PWNU sebagai langkah yang adem, adem,” kata Maskuri.

Ia menilai kegiatan turun ke bawah atau silaturahmi tersebut tidak sekadar pertemuan struktural, tetapi juga menjadi ajang konsolidasi besar yang mempertemukan semangat, pengalaman, dan arah gerak organisasi NU di Jawa Timur.

“Acaranya juga laporan program dan capaian, seperti program BMT NU, gotong royong antar-lembaga pendidikan NU, klinik kesehatan, dan sebagainya, lalu ada arahan Ketua PWNU Jatim KH Kikin Abdul Hakim. Silaturahmi itu tradisi yang penting,” ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca Surat Yasin 3 Kali pada Malam Nisfu Sya’ban, Ini Penjelasan Hukumnya
Baca Surat Yasin 3 Kali pada Malam Nisfu Sya’ban, Ini Penjelasan Hukumnya
Aktual
Warga NU Tolak Keterlibatan RI di Board of Peace, Kecam Sikap PBNU
Warga NU Tolak Keterlibatan RI di Board of Peace, Kecam Sikap PBNU
Aktual
Doa- doa Malam Nisfu Syaban 2026 yang Dianjurkan Sesuai Sunnah
Doa- doa Malam Nisfu Syaban 2026 yang Dianjurkan Sesuai Sunnah
Doa dan Niat
Malam Nisfu Sya’ban: Waktu Terbaik Taubat Sebelum Ramadhan
Malam Nisfu Sya’ban: Waktu Terbaik Taubat Sebelum Ramadhan
Doa dan Niat
Hari Pertama Puasa 2026: Ide Ngabuburit Seru Bareng Keluarga
Hari Pertama Puasa 2026: Ide Ngabuburit Seru Bareng Keluarga
Aktual
Jangan Lewatkan Nisfu Sya’ban, Istighfar Jadi Kunci Ampunan
Jangan Lewatkan Nisfu Sya’ban, Istighfar Jadi Kunci Ampunan
Aktual
Kapan Puasa Nisfu Syaban 2026? Simak Waktu, Niat, dan Keutamaannya
Kapan Puasa Nisfu Syaban 2026? Simak Waktu, Niat, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Malam Nisfu Sya’ban 2026, Ini Doa lengkap dan Amalan yang Dianjurkan
Malam Nisfu Sya’ban 2026, Ini Doa lengkap dan Amalan yang Dianjurkan
Doa dan Niat
Gerhana Matahari Cincin Ramadhan 2026, Ini Pesan Langit Jelang Puasa
Gerhana Matahari Cincin Ramadhan 2026, Ini Pesan Langit Jelang Puasa
Aktual
Puasa Nisfu Syaban 2026: Waktu Pelaksanaan, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Puasa Nisfu Syaban 2026: Waktu Pelaksanaan, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Gerhana Matahari Cincin Ramadhan 2026, Ini Jadwal dan Faktanya
Gerhana Matahari Cincin Ramadhan 2026, Ini Jadwal dan Faktanya
Aktual
Puasa Pertama 2026: Niat Mandi Wajib agar Puasa Sah
Puasa Pertama 2026: Niat Mandi Wajib agar Puasa Sah
Doa dan Niat
Awal Puasa 2026, Ini Hikmah Puasa Ramadhan Menurut Alquran
Awal Puasa 2026, Ini Hikmah Puasa Ramadhan Menurut Alquran
Doa dan Niat
Keutamaan Malam Nisfu Syaban, Ulama Anjurkan Perbanyak Shalawat dan Ibadah
Keutamaan Malam Nisfu Syaban, Ulama Anjurkan Perbanyak Shalawat dan Ibadah
Aktual
Hari Ini Malam Nisfu Syaban, Jangan Lupa Baca Yasin 3 Kali dan Berdoa Supaya Hajat Dikabulkan
Hari Ini Malam Nisfu Syaban, Jangan Lupa Baca Yasin 3 Kali dan Berdoa Supaya Hajat Dikabulkan
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com