Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Syahid yang Berjalan di Bumi, Kisah Pengorbanan Thalhah bin Ubaidillah

Kompas.com, 20 Desember 2025, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Thalhah bin Ubaidillah tercatat dalam sejarah Islam sebagai salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Rasulullah dalam Perang Uhud serta dijuluki “syahid yang berjalan di muka bumi”.

Keberanian dan pengorbanannya membuat Nabi menyebut Thalhah sebagai sahabat yang telah berjihad dengan jiwa dan hartanya, sekaligus menempatkannya dalam deretan sahabat yang dijanjikan surga.

Awal Masuk Islam dari Lingkar Terdekat Nabi

Thalhah bin Ubaidillah lahir di Makkah sekitar tahun 595 Masehi dari keluarga terpandang suku Quraisy.

Ayahnya, Ubaidillah bin Utsman dan ibunya, Asma binti Amir, dikenal memiliki kedudukan sosial dan ekonomi yang kuat.

Lingkungan ini membentuk Thalhah sebagai pemuda yang cerdas, berwibawa, dan memiliki pandangan hidup luas, tanpa larut dalam gaya hidup berlebihan yang umum di kalangan elite Quraisy saat itu.

Hidayah Islam datang melalui Abu Bakar as-Siddiq, sahabat dekat Nabi Muhammad SAW yang dikenal aktif mengajak orang-orang berpengaruh memeluk Islam.

Dari Abu Bakar, Thalhah mendengar langsung ajaran tauhid yang dibawa Rasulullah. Ia merasakan ajaran itu sejalan dengan nurani dan fitrahnya.

Keputusan memeluk Islam menjadikan Thalhah bagian dari kelompok awal kaum Muslimin di Makkah. Konsekuensinya tidak ringan.

Ia menghadapi tekanan dan siksaan dari kaum Quraisy, namun tetap bertahan dalam keyakinannya. Bersama Abu Bakar, Thalhah turut berhijrah dan mengorbankan kenyamanan hidup demi mempertahankan iman.

Baca juga: Usianya Belum 22 Tahun, Al-Fatih Taklukkan Kota yang Dianggap Mustahil

Perang Uhud dan Ujian Kesetiaan

Perang Uhud pada tahun 625 Masehi menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam hidup Thalhah bin Ubaidillah.

Awalnya, pasukan Muslim berada di posisi unggul. Namun situasi berubah ketika sebagian pasukan pemanah meninggalkan pos mereka, membuka celah bagi serangan balik kaum Quraisy.

Di tengah kekacauan itu, Nabi Muhammad SAW berada dalam ancaman serius. Anak panah dan pedang musuh mengarah ke posisi beliau. Saat itulah Thalhah berdiri di garis terdepan, menjadikan tubuhnya sebagai perisai hidup.

Ia menahan serangan demi serangan. Tangannya terluka parah, tubuhnya penuh luka, darah mengalir deras. Namun Thalhah tidak mundur. Fokusnya hanya satu yaitu memastikan Rasulullah SAW selamat dari serangan musuh.

Baca juga: Kisah Sumur Raumah: Sedekah Abadi Utsman Bin Affan Hingga Saat Ini

Pengorbanan yang Nyaris Merenggut Nyawa

Dikutip dari buku Ensiklopedia Sahabat Nabi, Thalhah mengalami puluhan luka di tubuhnya. Salah satu tangannya bahkan nyaris tidak dapat digunakan kembali. Ia jatuh pingsan setelah memastikan Nabi berada dalam keadaan aman.

Melihat kondisi itu, Rasulullah SAW memberikan pujian yang kelak dikenang sepanjang sejarah.

Nabi menyebut Thalhah sebagai sahabat yang telah berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah. Dalam riwayat lain, Nabi menyebutnya sebagai syahid, meski ia masih hidup.

Sejak saat itu, julukan “syahid yang berjalan di bumi” melekat pada diri Thalhah. Sebuah gelar yang menggambarkan pengorbanan total, tanpa harus berakhir dengan kematian di medan perang.

Baca juga: Kisah Cinta Al-Fatih Penakluk Konstantinopel, Antara Pernikahan Politik dan Pengabdian pada Islam

Makna “Syahid yang Berjalan di Bumi”

Dalam tradisi Islam, syahid identik dengan mereka yang gugur di jalan Allah. Namun kisah Thalhah memperluas makna itu.

Syahid bukan hanya tentang kematian, melainkan tentang kesediaan menyerahkan diri sepenuhnya demi kebenaran.

Thalhah hidup setelah Perang Uhud, tetapi bekas luka di tubuhnya menjadi saksi pengorbanan yang nyata. Ia terus menjalani kehidupan sebagai Muslim yang setia, rendah hati, dan berkontribusi bagi umat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Doa Shalat Dhuha Pembuka Rezeki, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Shalat Dhuha Pembuka Rezeki, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
17 Tahun Lebaran di Tokyo Tak Semeriah Indonesia, Tapi Hangat oleh Kebersamaan
17 Tahun Lebaran di Tokyo Tak Semeriah Indonesia, Tapi Hangat oleh Kebersamaan
Aktual
Hukum Shalat dan Puasa Jika Haid Tidak Lancar, Ini Penjelasan Ulama
Hukum Shalat dan Puasa Jika Haid Tidak Lancar, Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Cara Sujud Sahwi dan Panduan Saat Lupa Jumlah Rakaat Saat Shalat
Cara Sujud Sahwi dan Panduan Saat Lupa Jumlah Rakaat Saat Shalat
Doa dan Niat
Cara Daftar Nikah di KUA 2026, Ini Alur Offline dan Online yang Wajib Diketahui
Cara Daftar Nikah di KUA 2026, Ini Alur Offline dan Online yang Wajib Diketahui
Aktual
5 Waktu yang Dilarang untuk Shalat, Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
5 Waktu yang Dilarang untuk Shalat, Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak di Pekalongan, Masjid Al-Fairus Layani Ratusan Pemudik
Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak di Pekalongan, Masjid Al-Fairus Layani Ratusan Pemudik
Aktual
Selain Ancaman Banjir Bandang, Arab Saudi Diterjang Hujan Es
Selain Ancaman Banjir Bandang, Arab Saudi Diterjang Hujan Es
Aktual
Kapan Lebaran Haji 2026? Ini Jadwal Idul Adha Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Kapan Lebaran Haji 2026? Ini Jadwal Idul Adha Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Aktual
Arus Balik Lebaran H+3 Membeludak, Jalur Puncak-Cianjur Macet Parah hingga Akses Wisata Disekat
Arus Balik Lebaran H+3 Membeludak, Jalur Puncak-Cianjur Macet Parah hingga Akses Wisata Disekat
Aktual
Haji 2026 Tetap Jalan! Menhaj Pastikan Keberangkatan Sesuai Jadwal Meski Geopolitik Memanas
Haji 2026 Tetap Jalan! Menhaj Pastikan Keberangkatan Sesuai Jadwal Meski Geopolitik Memanas
Aktual
Bisht, Jubah Tradisional Arab Saudi yang Jadi Simbol Kehormatan dan Tradisi Saat Idul Fitri
Bisht, Jubah Tradisional Arab Saudi yang Jadi Simbol Kehormatan dan Tradisi Saat Idul Fitri
Aktual
Lebaran Haji 2026 Bulan Apa? Ini Jadwal Lengkap Idul Adha, Libur, dan Tanggal Pentingnya
Lebaran Haji 2026 Bulan Apa? Ini Jadwal Lengkap Idul Adha, Libur, dan Tanggal Pentingnya
Aktual
Arab Saudi Larang Overstay Umrah 2026, Jemaah Terancam Deportasi
Arab Saudi Larang Overstay Umrah 2026, Jemaah Terancam Deportasi
Aktual
Menikah di Bulan Syawal, Benarkah Sunnah Nabi? Ini Dalil Hadits Nabi
Menikah di Bulan Syawal, Benarkah Sunnah Nabi? Ini Dalil Hadits Nabi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com