Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jarang Diungkap, Yerusalem Pernah Menjadi Kota Toleransi Antariman

Kompas.com, 21 Desember 2025, 09:23 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perang Salib kerap dipahami sebagai konflik agama antara Islam dan Kristen dalam perebutan Kota Suci Yerusalem.

Namun catatan sejarah menunjukkan bahwa sebelum perang besar itu meletus pada akhir abad ke-11, Yerusalem justru pernah mengalami periode panjang kehidupan antarumat beragama yang relatif damai di bawah pemerintahan Islam sebelum Perang Salib meletus.

Ketika pasukan Islam memasuki Yerusalem pada 637 Masehi, penaklukan berlangsung tanpa pembantaian.

Khalifah Umar bin Khattab menerima penyerahan kota dari Patriark Kristen Sophronius melalui sebuah perjanjian damai yang kemudian dikenal sebagai Perjanjian Umar atau al-‘Uhdah al-Umariyah.

Baca juga: Kisah Perang Uhud: Kekalahan Umat Islam atas Pasukan Kaum Musyrikin

 Isi perjanjian tersebut menjamin kebebasan beribadah bagi umat Kristen dan Yahudi, perlindungan terhadap gereja dan tempat suci, serta keamanan jiwa dan harta penduduk.

Dalam perjanjian itu pula ditegaskan bahwa umat Kristen tidak akan dipaksa memeluk Islam. Mereka tetap diperbolehkan mengelola gereja, menjalankan ritual keagamaan, dan hidup berdampingan dengan umat Islam.

Sebagai imbalannya, penduduk non-Muslim membayar jizyah sebagai kewajiban administratif negara, bukan sebagai bentuk diskriminasi agama.

Dikutip dari buku Perang Salib Timur dan Barat karya Sevy Kusdianita, kebijakan ini berlangsung konsisten selama berabad-abad.

Di bawah Kekhalifahan Umayah dan Abbasiyah, Yerusalem berkembang sebagai kota multiagama.

Baca juga: Kisah Usamah bin Zaid: Panglima Perang Termuda dalam Sejarah Islam

Peziarah Kristen dari Eropa masih dapat mengunjungi Gereja Makam Kudus, sementara komunitas Yahudi kembali memperoleh ruang hidup setelah lama terpinggirkan pada masa Bizantium.

Kondisi tersebut bertahan hingga akhir abad ke-10. Ketegangan mulai meningkat ketika Yerusalem berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Fatimiyah.

Pada 1009 Masehi, Khalifah al-Hakim bi-Amrillah mengeluarkan kebijakan represif terhadap komunitas Kristen dan Yahudi, termasuk perusakan Gereja Makam Kudus.

Peristiwa ini menjadi salah satu faktor yang memicu kemarahan dunia Kristen di Eropa.
Meski demikian, para sejarawan menilai Perang Salib tidak semata dipicu oleh persoalan agama.

Faktor geopolitik dan militer turut berperan besar, terutama setelah Kekaisaran Bizantium terdesak oleh ekspansi Turki Seljuk di wilayah Anatolia.

Kekalahan Bizantium dalam Pertempuran Manzikert pada 1071 membuat Kaisar Alexios I meminta bantuan Paus Urbanus II.

Baca juga: Kisah Perang Badar, Perang Besar Pertama Umat Islam

Permintaan tersebut berujung pada seruan Perang Salib dalam Konsili Clermont pada 1095. Paus Urbanus II mengajak kerajaan-kerajaan Kristen Eropa mengangkat senjata dengan tujuan membantu Bizantium sekaligus merebut Yerusalem.

Agama menjadi simbol pemersatu, tetapi kepentingan politik dan kekuasaan tidak terpisahkan dari perang tersebut.

Ironisnya, ketika pasukan Salib berhasil menguasai Yerusalem pada 1099, kota itu justru mengalami pembantaian besar-besaran.

Catatan sejarah menyebut ribuan Muslim dan Yahudi dibunuh, sementara tempat ibadah dirusak. Situasi ini kontras dengan penyerahan Yerusalem kepada Islam pada abad ke-7 yang berlangsung tanpa kekerasan.

Sejarah kembali mencatat pendekatan berbeda saat Sultan Shalahuddin al-Ayyubi merebut Yerusalem pada 1187.

Ia memberikan jaminan keselamatan bagi penduduk Kristen, mengizinkan mereka beribadah, dan melindungi situs-situs suci. Kebijakan ini mempertegas bahwa praktik toleransi lintas iman pernah menjadi bagian nyata dari pemerintahan Islam.

Membaca ulang Perang Salib dari sudut toleransi membuka ruang refleksi yang lebih jernih. Konflik panjang itu tidak hanya menyimpan kisah permusuhan, tetapi juga pelajaran tentang bagaimana nilai keadilan, perlindungan minoritas, dan hidup berdampingan pernah menjadi praktik nyata dalam sejarah Islam.

Di tengah dunia modern yang masih diwarnai ketegangan antaridentitas agama, kisah-kisah toleransi dari masa lalu ini menjadi pengingat bahwa perdamaian bukanlah utopia. Ia pernah hidup, dipraktikkan, dan meninggalkan jejak yang patut dirawat bersama.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar