Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Perang Uhud: Kekalahan Umat Islam atas Pasukan Kaum Musyrikin

Kompas.com, 26 September 2025, 12:58 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Kekalahan kaum Musyrikin Mekkah di perang Badar membuat mereka memendam dendam kesumat terhadap Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya.

Untuk itu, kaum Musyrikin Mekkah menghimbun kekuatan untuk membalas dendam. Setelah satu tahun, mereka berhasil mengumpulkan 3000 unta dan 200 kuda untuk keperluan perang.

Setelah persiapan dirasa cukup, mereka mulai bergerak menuju Madinah. Pasukan tersebut dimpimpin oleh Abu Sufyan, sementara pasukan berkuda dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Ada pula para wanita yang turut serta. Mereka bertugas memberi semangat kepada pasukan Musyrikin. Para wanita ini dimpimpin oleh Hindun bin Utbah, yang tak lain istri dari Abu Sufyan.

Baca juga: Kisah Perang Badar, Perang Besar Pertama Umat Islam

Hindun bin Utbah turut serta dalam perang tersebut untuk membalaskan dendam atas kematian ayah dan saudaranya di perang Badar.

Berikut kisah lengkap perang Uhud seperti dikutip dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.

Persiapan Perang Uhud

Berita bergeraknya kaum Musyrikin sampai ke telinga Nabi Muhammad SAW. Beliau kemudian menyiagakan pasukan untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Penjagaan semakin diperketat dan mata-mata disebar untuk mengumpulkan informasi.

Pada awalnya Nabi Muhammad SAW berencana untuk menyambut pasukan di Madinah. Namun sebagian Sahabat mendesak Beliau untuk keluar Madinah menyambut pasukan musuh. Nabi kemudian menuruti permintaan tersebut.

Pasukan Nabi Muhammad SAW terdiri dari 1000 pasukan yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok Muhajirin dengan Mush’ab bin Umair sebagai pemegang panjinya, kelompok Aus dengan Usaid bin Hudhair sebagai pemegang panji, dan kelompok Khazraj dengan Al Hubab bin Mundzir sebagai pemegang panjinya.

Baca juga: Kisah Pengepungan Rumah Nabi Muhammad SAW Sebelum Hijrah

Pembelotan Abdullah bin Ubay

Saat pasukan Nabi Muhammad SAW sudah dekat dengan musuh, Abdullah bin Ubay dan pasukan yang dibawanya membelot. Ia beralasan Nabi Muhammad SAW tidak mendengarkan sarannya untuk bertahan di Madinah. Hal ini membuat pasukan kaum Muslimin berkurang hampir sepertiganya.

"Dia (Nabi Muhammad SAW) mentaati usulan sahabat-sahabatnya dan tidak mau mengambil pendapatku. Wahai manusia, kami tidak mau bunuh diri di tempat ini?" ujar Abdullah bin Ubay.

Sikap ini dilakukan Abdullah bin Ubay untuk menghancurkan mental pasukan Nabi Muhammad SAW karena memang sejak awal ia hanya berpura-pura masuk Islam dan menunggu kehancuran kaum Muslimin.

Strategi ini hampir berhasil. Pasukan Nabi Muhammad SAW dari Bani Haritsah dan Bani Salimah hampir saja kehilangan semangat hingga Allah meneguhkan mereka dengan firman-Nya.

إِذْ هَمَّت طَّآئِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَٱللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Artinya: “Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (Q.S. Ali Imran: 122)

Dengan pembelotan Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya, jumlah pasukan Muslim tersisa 700 orang.

Baca juga: Kisah Perjalanan Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah

Jalannya Perang Uhud

Perang Uhud terjadi pada Sabtu, 7 Syawal tahun 3 H. Perang diawali dengan duel antara Thalhah bin Abu Thalhah dengan Zubair bin Awwam. Dalam sekejab, Zubair berhasil membunuh Thalhah. Setelah itu pertempuran meletus.

Terjadi pertempuran sengit di sekitar panji-panji kaum Musyrikin. Pasukan muslim berhasil membunuh pembawa panji-panji hingga berganti sebanyak 10 kali.

Setelah itu bendera dibiarkan begitu saja hingga datang seorang budak bernama Shu’ab yang membawa bendera hingga akhirnya terbunuh dan bendera dibiarkan tergeletak begitu saja di tanah.

Pertempuran tak kalah sengit terjadi antara Abu Dujanah dengan pasukan Musyrikin. Abu Dujanah adalah seorang Sahabat yang mendapat kepercayaan Nabi Muhammad SAW untuk menerima pedangnya. Hal ini terjadi sebelum perang meletus.

Saat memberikan semangat kepada pasukannya, Nabi Muhammad SAW menghunus pedang dan bersabda: “Siapakah yang ingin mengambil pedang ini menurut haknya?”

Para Sahabat maju untuk mengambilnya, termasuk Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan Zubair bin Awwam. Namun pedang tak jua diserahkan hingga Abu Dujanah maju dan bertanya: “Apa haknya wahai Rasulullah?”

“Hendaknya engkau membabatkan pedang ini ke wajah-wajah musuh hingga bengkok,” ujar Rasulullah.

“Aku akan mengambilnya menurut haknya wahai Rasulullah,” janji Abu Dujanah. Dan benar saja, dia berhasil membuat kocar-kacir pasukan musuh dengan pedang tersebut.

Bahkan ia hampir saja mengayunkan pedang itu ke Hindun bin Utbah yang turut aktif dalam perang tersebut. Namun ia membatalkannya karena melihat bahwa ia adalah seorang wanita.

Dalam perang tersebut, kaum Muslim sebenarnya mampu menguasai keadaan hingga pasukan Musyrikin kocar-kacir meninggalkan harta bendanya di medan perang.

Baca juga: Kisah Hijrah Umat Islam ke Madinah

Pasukan Pemanah Tidak Disiplin

Pada perang ini, Nabi Muhammad SAW menempatkan pasukan pemanah sebanyak 50 orang yang dipimpin Abdullah bin Jubair di atas bukit Jabal Rumat. Beliau memerintahkan mereka untuk tetap bersiaga apapun yang terjadi.

“Lindungilah kami dengan anak panah agar musuh tidak menyerang kami dari arah belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita di atas angin ataupun terdesak, agar tidak diserang dari arahmu.

Lindungilah punggung kami. JIka kalian melihat kami sedang bertempur, maka kalian tak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami telah mengumpulkan harta rampasan, maka janganlah kalian turun bergabung bersama kami.” perintah Nabi Muhammad SAW.

Ketika kemenangan kaum Muslimin sudah di depan mata, pasukan pemanah tergiur untuk turut mengumpulkan rampasan perang.

Abdullah bin Jubair mengingatkan agar mereka tetap berada pada posisinya. Namun peringatan itu tidak digubris. Sebanyak 40 orang pemanah menuruni bukit untuk mengambil rampasan perang.

Kekalahan Kaum Muslimin di Perang Uhud

Tidak disiplinnya pasukan pemanah dilihat oleh Khalid bin Walid. Ia melihat ada peluang untuk membalikkan keadaan. Alhasil, Khalid bin Walid mengumpulkan pasukan yang sudah bercerai berai dan melakukan serangan kembali. Kondisi ini membuat pasukan Muslim kocar-kacir. Kemenangan yang sudah di depan mata sirna.

Nabi Muhammad SAW sempat terdesak bersama 9 orang Sahabat. Mereka mati-matian membela Nabi Muhammad SAW, 7 diantaranya gugur, tersisa dua orang, yaitu, Saad bin Abi Waqash dan Thalhah bin Ubaidillah.

Keduanya mati-matian menghalau kaum Musyrikin yang menyerang Nabi. Saad sebagai ahli panah terus melontarkan anak panahnya, sementara Thalhah terus merangsek hingga jari-jarinya putus dan mendapat lebih dari 30 luka. Berkat kegigihannya, Thalhah diberi julukan orang mati syahid yang berjalan di muka bumi.

Baca juga: Fathu Makkah: Penaklukan Kota Mekkah Tanpa Pertumpahan Darah

Dengan kondisi pasukan yang porak-poranda, Nabi Muhammad SAW memerintahkan pasukannya untuk mundur menuju jalan di bukit Uhud.

Jalanan yang sempit membuat pasukan Musyrikin tak leluasa menyerang. Setiap serangan mereka bisa dipatahkan hingga pasukan Muslim aman.

Mereka yang berhasil naik dihalau oleh Umar bin Khattab beserta beberapa pasukan lainnya. Sementara Rasulullah memerintahkan Saad bin Abi Waqash untuk terus melesatkan anak panahnya hingga membuat kaum Musyrikin ketakutan dan mundur.

Pada perang tersebut, 70 orang syahid. 65 berasal dari kaum Anshar, 4 orang dari kaum Muhajirin, dan 1 orang Yahudi bernama Mukhairiq. Sementara di pihak kaum Musyrikin, sebanyak 37 orang tewas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Menag Nasaruddin Umar: Peran Kemenag dan MUI Saling Melengkapi
Menag Nasaruddin Umar: Peran Kemenag dan MUI Saling Melengkapi
Aktual
Kemenhaj Salurkan Bantuan untuk Jemaah Haji Aceh Terdampak Bencana
Kemenhaj Salurkan Bantuan untuk Jemaah Haji Aceh Terdampak Bencana
Aktual
Hukum Membawa HP Berisi Aplikasi Al-Quran ke Toilet, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Membawa HP Berisi Aplikasi Al-Quran ke Toilet, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
40 Persen Santri Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon Hafal 30 Juz Hanya dalam 4 Bulan
40 Persen Santri Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon Hafal 30 Juz Hanya dalam 4 Bulan
Aktual
Surah Ali Imran Ayat 92: Belajar Melepas Harta yang Dicintai
Surah Ali Imran Ayat 92: Belajar Melepas Harta yang Dicintai
Aktual
Kisah Perantau Ikut Golek Garwo Kemenag, Ikhtiar Cari Jodoh Lewat Ta'aruf Sesuai Syariat
Kisah Perantau Ikut Golek Garwo Kemenag, Ikhtiar Cari Jodoh Lewat Ta'aruf Sesuai Syariat
Aktual
Hukum Wudhu saat Masih Memakai Makeup dan Skincare, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Wudhu saat Masih Memakai Makeup dan Skincare, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Merawat Sejak Lahir, Bolehkah Ayah Tiri Menjadi Wali Nikah? Begini Penjelasan Hukum Islam
Merawat Sejak Lahir, Bolehkah Ayah Tiri Menjadi Wali Nikah? Begini Penjelasan Hukum Islam
Aktual
Kemenhaj Imbau Masyarakat Cek Legalitas Travel Umrah, Jangan Tergiur Promosi Harga Murah
Kemenhaj Imbau Masyarakat Cek Legalitas Travel Umrah, Jangan Tergiur Promosi Harga Murah
Aktual
Kemenhaj: 90 Persen Jemaah Haji Indonesia Sudah Pulang, Petugas Tetap Siaga hingga Kloter Terakhir
Kemenhaj: 90 Persen Jemaah Haji Indonesia Sudah Pulang, Petugas Tetap Siaga hingga Kloter Terakhir
Aktual
Jelang Muktamar Ke-35 NU, KH Imam Jazuli dan Gus Muhaimin Bertemu Bahas Masa Depan NU
Jelang Muktamar Ke-35 NU, KH Imam Jazuli dan Gus Muhaimin Bertemu Bahas Masa Depan NU
Aktual
Para Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia, dari Penemu Algoritma hingga Sains Modern
Para Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia, dari Penemu Algoritma hingga Sains Modern
Aktual
Sakit atau Safar? Ini Cara Amalanmu Tetap Berpahala Sempurna
Sakit atau Safar? Ini Cara Amalanmu Tetap Berpahala Sempurna
Aktual
Mars Al-Irsyad: Manifesto Kesetaraan Islam dan Anti-Feodalisme
Mars Al-Irsyad: Manifesto Kesetaraan Islam dan Anti-Feodalisme
Aktual
Cak Imin: Santri Harus Punya Skill, Integritas, dan Taat Ilmu
Cak Imin: Santri Harus Punya Skill, Integritas, dan Taat Ilmu
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar