Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Pengepungan Rumah Nabi Muhammad SAW Sebelum Hijrah

Kompas.com, 13 September 2025, 16:16 WIB
Add on Google
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Gelombang hijrah kaum muslim ke Madinah membuat kaum Musyrikin Quraisy semakin gusar dan khawatir. Berkembangnya Islam di Madinah tentu akan memunculkan kekuatan besar yang sewaktu-waktu bisa menyerang kaum kafir Quraisy.

Selain itu, arus perdagangan para kafilah dagang Quraisy juga akan terganggu, sebab Madinah menjadi salah satu jalur penting dalam perdagangan kaum Musyrikin Quraisy.

Baca juga: Kisah Hijrah Pertama Kaum Muslimin ke Habasyah

Musyawarah di Darun Nadwah

Kondisi yang ada membuat pembesar-pembesar Kaum Musyrikin berkumpul untuk mengadakan musyawarah. Mereka berkumpu di Darun Nadwah, yaitu balai pertemuan kaum Quraisy yang dibangun pada masa leluhur kaum Quraisy bernama Qusay bin Qilab.

Dalam musyawarah tersebut, kaum Musyrikin Quraisy sepakat bahwa masalah utama ada pada Nabi Muhammad SAW. Maka cara terbaik untuk menghilangkan masalah adalah dengan memberangus Nabi Muhammad SAW.

Dalam pertemuan tersebut, tiba-tiba muncul seorang lelaki tua yang hendak turut. Ia mengaku berasal dari Najd. Tujuannya hadir dalam pertemuan tersebut adalah untuk memberikan pendapat atau nasehat.

Beberapa riwayat menjelaskan bahwa sebenarnya lelaki tua tersebut adalah iblis yang menyamar.

Baca juga: Kisah Hijrah Umat Islam ke Madinah

Berbagai usulan muncul untuk mencelakakan Nabi Muhammad SAW. Ada yang mengusulkan mengusir Nabi Muhammad SAW, ada yang mengusulkan agar Nabi Muhammad SAW dipenjara hingga meninggal. Namun semua usulan itu ditolak oleh iblis yang menyamar menjadi orang tua.

Pendapat terakhir muncul dari Abu Jahal. Ia mengusulkan agar setiap kabilah mengirimkan pemudanya yang paling cakap dan terhormat untuk mengepung dan membunuh Rasulullah. Dengan demikian, Bani Hasyim tidak akan mampu menuntut balas karena semua kabilah terlibat.

Usulan Abu Jahal ini disetujui oleh Iblis, ia menyatakan: “Aku setuju dengan pendapat ini dan tidak kulihat pendapat yang lain.”

Maka pertemuan tersebut telah sepakat untuk menjalankan usulan Abu Jahal yang dikuatkan oleh Iblis.

Peristiwa Sebelum Hijrah Nabi Muhammad SAW

Pasca pertemuan di Darun Nadwah, Malaikat Jibril turun menyampaikan informasi tentang rencana kaum Musyrikin Quraisy dan menyampaikan bahwa Allah sudah mengizinkan Beliau untuk berhijrah.

Nabi Muhammad SAW kemudian menemui Abu Bakar Ash Shiddiq untuk mengajaknya berhijrah.

Baca juga: Alasan Penduduk Madinah Menerima Islam dengan Tangan Terbuka

Pengepungan Rumah Nabi Muhammad SAW

Malam harinya, para pemuka Quraisy mulai melaksanakan strateginya. Mereka mengepung rumah Nabi Muhammad SAW. Abu Jahal yang turut dalam pengepungan tersebut merasa optimis rencananya akan berhasil.

Namun tentu Allah punya rencana lain untuk mematahkan tipu daya mereka. Hal ini disampaikan Allah dalam Q.S. Al Anfal ayat 30:

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَٰكِرِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”

Nabi Muhammad SAW memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan Beliau di tempat tidur, Nabi Muhammad SAW berpesan: “Tidurlah di atas tempat tidurku, berselimutlah dengan mantelku warna hijau yang berasal dari Hadramaut ini. Sesungguhnya engkau tetap akan aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan.”

Meskipun dikepung, Allah SWT memberikan jalan bagi Nabi Muhammad SAW untuk bisa keluar. Allah membuatkan tabir antara Nabi Muhammad SAW dengan kaum kafir sehingga dengan leluasa Nabi Muhammad SAW keluar dari rumahnya. Bahkan Rasulullah sempat mengambil segenggam pasir dan menaburkannya ke kepala para kaum kafir Quraisy tersebut.

وَجَعَلْنَا مِنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

Artinya: “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Q.S. Yasin: 9).

Nabi Muhammad SAW berhijrah pada tanggal 27 Shafar tahun ke-14 Nubuwah. Ia segera menuju rumah Abu Bakar. Keduanya lantas meninggalkan Mekkah. Jalur yang diambil Rasulullah dan Abu Bakar berbeda dari rute biasanya.

Baca juga: Kisah Baiat Aqabah Pertama dan Kedua: Janji Kesetiaan Penduduk Madinah

Letak Madinah berada di utara Mekkah. Namun Nabi Muhammad SAW mengambil jalur ke selatan untuk menghindari kejaran kaum kafir Quraisy. Mereka singgah di Gunung Tsur untuk beristirahat.

Adapun orang-orang kafir yang mengepung mereka mendapat informasi bahwa Nabi Muhammad SAW sudah meninggalkan rumahnya. Iblis Kembali menyamar sebagai seorang laki-laki dan memberikan informasi tersebut.

"Allah telah menggagalkan rencana kalian. Demi Allah, Muhammad telah keluar dari rumahnya saat kalian masih di sini, ia menaburkan tanah ke atas kepala kalian semua, lalu pergi. Apa kalian tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi?" Ujar Iblis yang menyamar.

Namun begitu melihat masih ada sosok yang tidur di rumah Nabi Muhammad SAW, mereka tetap berjaga hingga fajar menyingsing. Saat itu barulah mereka sadar bahwa yang tidur itu adalah Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib sempat diseret ke dekat Ka’bah dan dipukuli. Namun Ali bin Abi Thalib tetap tidak bergeming. Kaum Musyrikin Quraisy pun kemudian menuju rumah Abu Bakar Ash Shiddiq. Disana mereka menggedor rumah Abu Bakar untuk bertanya mengenai keberadaan Abu Bakar, namun keberadaan Abu Bakar juga tidak diketahui.

Sayembara pun digelar untuk mencari keberadaan Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar. Barangsiapa yang dapat menemukan keduanya, ada hadiah 100 ekor unta yang telah disediakan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kenapa Shalat Terasa Berat? Bisa Jadi Tanda Belum Diizinkan Allah, Ini Kata Buya Yahya
Kenapa Shalat Terasa Berat? Bisa Jadi Tanda Belum Diizinkan Allah, Ini Kata Buya Yahya
Doa dan Niat
Puasa Daud: Niat, Tata Cara, Keutamaan, dan Hukumnya Lengkap
Puasa Daud: Niat, Tata Cara, Keutamaan, dan Hukumnya Lengkap
Doa dan Niat
Kemenhaj Ingatkan Calon Jemaah Haji Bangkalan Terkait Batasan Maksimal Bawa Rokok ke Tanah Suci
Kemenhaj Ingatkan Calon Jemaah Haji Bangkalan Terkait Batasan Maksimal Bawa Rokok ke Tanah Suci
Aktual
8 Calon Jemaah Haji Cadangan Asal Sumenep Berangkat Lebih Dulu dari Jemaah Reguler
8 Calon Jemaah Haji Cadangan Asal Sumenep Berangkat Lebih Dulu dari Jemaah Reguler
Aktual
Bukan Perjalanan Spiritual Biasa, Teuku Zulkhairi: Ibadah Haji Sebaiknya Jadi Impian Sejak Usia Dini
Bukan Perjalanan Spiritual Biasa, Teuku Zulkhairi: Ibadah Haji Sebaiknya Jadi Impian Sejak Usia Dini
Aktual
Pilih Kambing Jantan atau Betina untuk Kurban? Ini Kata Ulama
Pilih Kambing Jantan atau Betina untuk Kurban? Ini Kata Ulama
Aktual
PPIH Makassar Ingatkan Jemaah Haji Jangan Nekat Bawa Pulang Air Zamzam di Koper
PPIH Makassar Ingatkan Jemaah Haji Jangan Nekat Bawa Pulang Air Zamzam di Koper
Aktual
Jadwal dan Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah Mei 2026 Lengkap dengan Keutamaannya
Jadwal dan Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah Mei 2026 Lengkap dengan Keutamaannya
Aktual
Jangan Asal Beli, Ini Oleh-oleh Haji yang Dilarang di Pesawat
Jangan Asal Beli, Ini Oleh-oleh Haji yang Dilarang di Pesawat
Aktual
Museum Biografi Nabi Muhammad di Madinah, Wisata Religi Futuristik Dekat Masjid Nabawi
Museum Biografi Nabi Muhammad di Madinah, Wisata Religi Futuristik Dekat Masjid Nabawi
Aktual
Nekat Jalan Kaki Lewat Gurun ke Makkah, 5 WN Afghanistan Ditahan
Nekat Jalan Kaki Lewat Gurun ke Makkah, 5 WN Afghanistan Ditahan
Aktual
Daker Bandara Jeddah Terima 49 Koper Cadangan untuk Jamaah Haji yang Kopernya Rusak
Daker Bandara Jeddah Terima 49 Koper Cadangan untuk Jamaah Haji yang Kopernya Rusak
Aktual
Jelang Haji 2026, Saudi Siapkan Call Center 24 Jam dalam 11 Bahasa
Jelang Haji 2026, Saudi Siapkan Call Center 24 Jam dalam 11 Bahasa
Aktual
Pernah Overstay di Arab Saudi, JCH Asal Polman Gagal Berangkat Haji 2026 karena Dicekal Imigrasi
Pernah Overstay di Arab Saudi, JCH Asal Polman Gagal Berangkat Haji 2026 karena Dicekal Imigrasi
Aktual
Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba
Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com