KOMPAS.com - Selama ini, Panji Petualang dikenal publik sebagai sosok pemberani yang akrab dengan bahaya.
Ia kerap berhadapan langsung dengan ular berbisa mematikan tanpa ragu. Namun, keberanian itu justru runtuh ketika Panji harus menghadapi teror di rumahnya sendiri yang ia juluki Black House.
Rumah tersebut menyimpan pengalaman mencekam yang bukan hanya mengusik kenyamanan, tetapi juga memengaruhi kondisi fisik dan mental seluruh penghuni.
Keresahan itu akhirnya mendorong Panji meminta bantuan Ustaz Muhammad Faizar untuk melakukan ruqyah melalui kanal YouTube Muhammad Faizar pada akhir Desember 2025.
Kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi, melainkan upaya pembersihan spiritual dari gangguan yang diyakini berkaitan dengan makhluk gaib, seperti jin dan setan.
Baca juga: Mengenal Jin Dasim: Perusak Rumah Tangga dan Cara Mengatasinya
Islam secara tegas menyatakan keberadaan jin sebagai makhluk ciptaan Allah. Jin disebutkan diciptakan dari api, berbeda dengan manusia yang diciptakan dari tanah.
Keberadaan mereka bukan sekadar simbolik, melainkan nyata, meskipun berada di alam yang tidak dapat dijangkau pancaindra manusia. Keberadaan jin ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Ar-Rahman ayat 15:
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān
Artinya: “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar-Rahman [55]: 15)
Dikutip dari buku Rahasia Alam Malaikat Jin dan Setan karya Umar Sulaiman Al-Asyqar, jin adalah makhluk berakal, memiliki kehendak bebas, serta dibebani taklif sebagaimana manusia.
Karena itu, di antara jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Setan sendiri bukanlah jenis makhluk terpisah, melainkan sifat pembangkangan terhadap perintah Allah yang dapat melekat pada jin maupun manusia.
Alquran menyebut setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia, bukan dalam pengertian selalu menampakkan diri, melainkan melalui godaan, bisikan, dan pengaruh psikologis yang menyesatkan.
Inilah sebabnya, dalam Islam, kewaspadaan terhadap setan lebih ditekankan pada aspek moral dan spiritual, bukan semata ketakutan fisik.
Baca juga: Apakah Jin Bisa Mati? Simak Penjelasannya
Istilah gul kerap muncul dalam cerita rakyat dan kisah-kisah tradisional. Dalam literatur Islam klasik, gul disebut sebagai salah satu jenis jin yang memiliki kemampuan menampakkan diri dan menipu manusia, terutama di tempat sepi atau asing.
Gul digambarkan sebagai makhluk dari golongan jin yang sering berubah rupa untuk menyesatkan manusia.
Namun, para ulama berbeda pendapat tentang sejauh mana keberadaan gul harus dipahami secara literal.
Sebagian memaknainya sebagai jenis jin tertentu, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk simbolik dari gangguan jin yang memanifestasikan ketakutan manusia.
Perbedaan tafsir ini menunjukkan bahwa Islam mengakui keberadaan jin, tetapi tetap mendorong umatnya bersikap proporsional dan tidak berlebihan dalam menafsirkan setiap peristiwa ganjil sebagai ulah makhluk gaib.
Dalam akidah Islam, mengingkari keberadaan jin berarti menolak salah satu informasi yang secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an.
Karena itu, mayoritas ulama sepakat bahwa meyakini adanya jin dan setan merupakan bagian dari iman kepada hal-hal gaib.
Dikutip dari buku Aqidah Seorang Muslim karya Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, iman kepada yang gaib mencakup keyakinan terhadap makhluk-makhluk yang tidak terlihat, termasuk malaikat dan jin, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam wahyu.
Penolakan terhadap keberadaan jin bukan sekadar persoalan opini, melainkan berimplikasi pada fondasi keimanan.
Namun demikian, Islam tidak mewajibkan umatnya untuk mengaitkan setiap gangguan fisik atau psikologis dengan jin.
Ulama menegaskan pentingnya ikhtiar rasional dan medis sebelum menarik kesimpulan yang bersifat gaib.
Baca juga: Jika Allah SWT Menghendaki Kebaikan, Mengapa Setan Diciptakan?
Islam menempatkan persoalan jin dan setan dalam kerangka kewaspadaan, bukan ketakutan. Umat diajarkan untuk mengakui keberadaan mereka, tetapi tidak menjadikan jin sebagai pusat perhatian hidup. Fokus utama tetap pada tanggung jawab manusia sebagai makhluk berakal dan beriman.
Rasulullah SAW tidak mengajarkan umatnya untuk mencari-cari keberadaan jin, melainkan memperkuat keimanan dan akhlak agar terlindung dari pengaruh buruk setan.
Dalam konteks ini, kisah gangguan yang dialami Panji Petualang dapat dipahami sebagai refleksi kegelisahan manusia saat berhadapan dengan sesuatu di luar jangkauan nalar.
Islam menawarkan kerangka pemahaman yang seimbang, mengakui keberadaan alam gaib sebagaimana diajarkan wahyu, tanpa terjebak pada ketakutan berlebihan atau spekulasi yang menjauhkan manusia dari rasionalitas dan keteguhan iman.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang