KOMPAS.com - Isra dan Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Melalui peristiwa ini, Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, lalu mengangkat beliau hingga Sidratul Muntaha untuk menghadap Sang Pencipta.
Perjalanan yang melampaui batas nalar manusia ini bukan sekadar mukjizat kenabian, tetapi juga sarat dengan pesan spiritual, moral, dan peradaban bagi umat Islam sepanjang zaman.
Allah SWT menegaskan peristiwa Isra’ dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Isra dan Mi’raj adalah kehendak langsung Allah untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Rasul-Nya.
Karena itu, peristiwa ini tidak cukup dipahami sebagai kisah luar biasa, tetapi sebagai sumber pelajaran iman dan kehidupan.
Dalam Shahih Bukhari, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa sebelum memulai perjalanan Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW mengalami penyucian hati.
Malaikat datang membedah dada Nabi, membersihkannya, lalu mengisinya dengan iman. Peristiwa ini menandai kesiapan spiritual Rasulullah untuk menerima amanah besar dari Allah SWT.
Nabi kemudian melakukan perjalanan dengan mengendarai Buraq, ditemani Malaikat Jibril, dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha. Dari sanalah Mi’raj dimulai, menembus lapisan-lapisan langit.
Baca juga: Peringatan Isra Miraj 2026: Jadwal, Makna, dan Pesan Spiritual bagi Umat Islam
Dalam perjalanan Mi’raj, Nabi Muhammad SAW bertemu para nabi terdahulu di setiap lapisan langit.
Di langit pertama, Rasulullah bertemu Nabi Adam AS, bapak seluruh manusia. Jibril meminta Nabi Muhammad memberi salam, dan Nabi Adam membalas salam dengan penuh penghormatan.
Di langit kedua, Nabi bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS. Langit ketiga mempertemukan Rasulullah dengan Nabi Yusuf AS yang dikenal dengan ketampanan dan keteguhan imannya. Di langit keempat, Nabi bertemu Nabi Idris AS, disusul Nabi Harun AS di langit kelima.
Pertemuan paling menyentuh terjadi di langit keenam ketika Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Musa AS.
Dalam riwayat disebutkan, Nabi Musa menangis karena mengetahui umat Nabi Muhammad akan lebih banyak masuk surga dibanding umatnya. Di sinilah pula Nabi Musa kelak memberi nasihat penting terkait kewajiban shalat.
Di langit ketujuh, Rasulullah bertemu Nabi Ibrahim AS, yang bersandar di Baitul Makmur, tempat ibadah para malaikat.
Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat bertawaf di sana dan tidak kembali lagi hingga hari kiamat.
Perjalanan dilanjutkan hingga Sidratul Muntaha, batas tertinggi yang hanya bisa dicapai makhluk tertentu atas izin Allah. Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat.
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, menjelaskan bahwa awalnya shalat diwajibkan sebanyak 50 kali sehari.
Atas nasihat Nabi Musa AS, Rasulullah kembali menghadap Allah untuk memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu, namun dengan pahala setara 50 shalat.
Baca juga: Isra Mi’raj hingga Ash-Shiddiq: Kisah Iman Tanpa Keraguan Abu Bakar
Isra dan Mi’raj terjadi pada fase yang sangat berat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Beliau baru saja kehilangan dua sosok penopang dakwah, yaitu Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib. Dukacita personal bercampur dengan tekanan sosial dari kaum Quraisy yang semakin keras.
Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqa’i wa Tahlil Ihdats karya Ali Muhammad Ash-Shallabi menjelaskan bahwa Isra dan Mi’raj merupakan bentuk penghiburan ilahi bagi Rasulullah.
Allah menguatkan hati Nabi dengan memperlihatkan kebesaran-Nya secara langsung, agar beliau tetap teguh dalam menyampaikan risalah Islam meskipun menghadapi penolakan dan penderitaan.
Keesokan hari setelah Isra dan Mi’raj, Nabi Muhammad SAW menyampaikan peristiwa tersebut kepada masyarakat Makkah.
Mayoritas kaum Quraisy menolak dan mengejek, bahkan sebagian orang yang sebelumnya beriman memilih berpaling karena menganggap kisah itu tidak masuk akal.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah mencatat bahwa dalam situasi ini, Abu Bakar tampil sebagai sosok yang membenarkan Rasulullah tanpa ragu.
Ia berkata bahwa dirinya telah mempercayai kabar dari langit, maka tidak ada alasan untuk meragukan kabar tentang Baitul Maqdis.
Sikap inilah yang membuat Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq. Dari sini umat Islam belajar bahwa iman sejati tidak selalu menuntut pembuktian rasional, tetapi berdiri di atas kepercayaan penuh terhadap kebenaran risalah.
Isra dan Mi’raj juga dapat dibaca sebagai isyarat penting tentang hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan.
Perjalanan Nabi Muhammad SAW melintasi langit merupakan perjalanan pertama manusia melampaui batas bumi dan kembali dengan selamat.
Para pemikir Muslim kontemporer melihat peristiwa ini sebagai dorongan agar umat Islam tidak tutup mata terhadap sains dan teknologi.
Jika perjalanan luar angkasa telah diperlihatkan sebagai mukjizat pada masa Nabi, maka umat Islam di kemudian hari dituntut untuk bangkit, belajar, dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.
Pesan ini sejalan dengan semangat Islam sebagai agama yang mendorong pencarian ilmu dan kemajuan, tanpa melepaskan dimensi spiritual.
Baca juga: Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 2026: Sejarah Peristiwa dan Makna Pensyariatan Sholat
Penyebutan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dalam peristiwa Isra Miraj menegaskan ikatan spiritual umat Islam dengan dua masjid suci tersebut. Masjidil Aqsha bukan sekadar situs sejarah, tetapi bagian dari identitas keimanan umat Islam.
Ali Muhammad Ash-Shallabi menekankan bahwa membela Masjidil Aqsha dan sekitarnya adalah bagian dari pembelaan terhadap agama Islam itu sendiri.
Bentuknya dapat beragam, mulai dari diplomasi, solidaritas kemanusiaan, hingga doa dan dukungan moral sesuai kemampuan masing-masing.
Isra dan Mi’raj mengajarkan bahwa iman, ibadah, ilmu, dan kepedulian sosial merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Peristiwa ini mengajak umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Allah melalui shalat, meneladani kejujuran dan keyakinan Abu Bakar, serta mengambil peran aktif dalam membangun peradaban dan menjaga nilai kemanusiaan.
Bukan sekadar mengenang peristiwa luar biasa, Isra dan Mi’raj adalah panggilan untuk menjadikan iman sebagai kekuatan yang hidup dan membumi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang