JAKARTA, KOMPAS.com - Ribuan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 dilatih menangani kondisi kegawatdaruratan untuk mengantisipasi berbagai risiko kesehatan yang bisa terjadi pada jemaah haji Indonesia.
Pelatihan tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PPIH di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (12/1/2026).
Sejumlah dokter dan tenaga medis menjadi narasumber dan memeragakan sejumlah situasi kegawatdaruratan yang bisa menimpa jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.
Seperti memberi bantuan hidup dasar dan penanganan pada jemaah yang terserang heat stroke atau serangan panas.
Baca juga: Petugas Haji 2026 Resmi Ditempa Semi Militer 20 Hari di Asrama Haji Jakarta
Dokter Aida Hastuti mengatakan bantuan hidup dasar bisa dilakukan jika jemaah mengalami kondisi gawat darurat baik di pelataran, hotel, dan di lokasi mana pun.
"Bantuan hidup dasar boleh dilakukan oleh siapa saja termasuk para petugas haji, " kata Aida Hastuti di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (13/1/2026).
Petugas yang mendapati jemaah yang mengalami henti napas dan henti jantung, tambahnya, bisa melakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru atau RJP.
Petugas haji 2026 juga mendapatkan materi praktik bagaimana melakukan resusitasi jantung dan paru hingga memastikan jemaah haji benar-benar dalam kondisi aman.
Sengatan panas (heat stroke) dan dehidrasi juga menjadi ancaman bagi jemaah haji Indonesia. Terlebih ibadah haji merupakan ibadah fisik. Jemaah dihadapkan pada cuaca panas, kering, dan kelembaban suhu yang rendah di Arab Saudi.
Doker Andi Nilagading mengungkapkan, heat stroke merupakan kondisi tubuh terpapar panas yang sangat lama.
"Jika tidak tertangani dengan cepat dan tepat dapat menyebabkan kerusakan organ permanen (otak) hingga kematian," kata dia saat ditemui di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (13/1/2026).
Adapun gejala heat stroke yang paling sering ditemukan yakni suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celcius, pusing, nyeri kepala, kulit teraba panas, tampak kemerahan, dan kering.
"Kemudian denyut jantung meningkat, laju pernapasan meningkat, pasien bahkan bisa merasa bingung, kejang hingga mengalami penurunan kesadaran," ujarnya.
Pertolongan pertama yg dapat dilakukan jika menemukan jamaah dengan gejala heat stroke yakni memindahkan ke tempat yang aman, sejuk, dan teduh.
Baca juga: Nusuk Hajj Dibuka, Saudi Mulai Pemilihan Paket Haji 2026 untuk Program Haji Langsung
Selanjutnya, baringkan pasien, longgarkan pakaian dan kompres dingin sesegera mungkin dengan es.
Petugas juga bisa menyemprot dengan air dingin sambil mengipasi.
"Yang tak kalah penting adalah edukasi untuk minum air sesering mungkin. Rujuk segera mungkin jika terjadi perburukan kondisi jamaah baik kejang atau kesadaran menurun," katanya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang