KOMPAS.com - Upaya pemerintah Indonesia meningkatkan kualitas pelayanan ibadah haji dan umrah memasuki babak baru.
Untuk pertama kalinya, Indonesia secara resmi memiliki aset properti di Arab Saudi yang dirancang khusus sebagai Komplek Haji Indonesia.
Proyek bernilai sekitar 500 juta dolar AS atau setara Rp 8,33 triliun ini digadang-gadang menjadi terobosan besar dalam sejarah penyelenggaraan haji nasional.
Langkah strategis tersebut tidak hanya mencerminkan keberhasilan diplomasi, tetapi juga komitmen negara dalam menghadirkan fasilitas yang lebih layak, terintegrasi, dan manusiawi bagi jutaan jemaah Indonesia yang setiap tahun menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
Baca juga: RI Sukses Punya Kampung Haji di Mekkah, Poin Baru Pelayanan Haji
Selain hotel yang telah dibeli, pemerintah juga mengamankan lahan seluas sekitar 5 hektare di depan kompleks Novotel Thakher.
Di atas lahan tersebut, Danantara merencanakan pembangunan 13 menara hotel tambahan yang seluruhnya diperuntukkan bagi jemaah haji Indonesia.
Jika seluruh menara selesai dibangun, total kapasitas akomodasi akan meningkat menjadi 6.025 kamar, yang mampu menampung lebih dari 23.000 jemaah haji dalam satu musim.
CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut pembelian hotel ini sebagai langkah awal untuk menghadirkan fasilitas pemondokan yang lebih layak dan terintegrasi bagi jemaah Indonesia di Tanah Suci.
Rosan menegaskan bahwa kendati prosesnya masih berlanjut, Indonesia telah melampaui fase awal yang sangat menentukan.
Melalui Danantara, pemerintah telah meneken conditional sales and purchase agreement, yaitu perjanjian jual beli yang bersifat bersyarat sebagai dasar kepemilikan awal.
“Indonesia sudah memulai langkah awal. Dengan kita, Alhamdulillah, sudah melakukan conditional sales and purchase agreement untuk pembelian bersyarat,” ujar Rosan, dilansir dari antaranews.com, Selasa (13/12026).
Baca juga: Presiden Prabowo Telepon MBS Bahas Kelanjutan Pembangunan Kampung Haji Indonesia di Mekkah
Tidak hanya menyediakan akomodasi, kawasan Komplek Haji Indonesia juga akan dilengkapi satu pusat perbelanjaan (mall) yang dirancang khusus melayani kebutuhan jemaah Indonesia.
Mall ini akan menjadi bagian dari kawasan terintegrasi yang memudahkan jemaah memperoleh kebutuhan logistik, konsumsi, dan perlengkapan ibadah tanpa harus keluar jauh dari area penginapan.
Keberadaan mall ini diharapkan mengurangi kepadatan mobilitas jemaah sekaligus meningkatkan aspek keamanan dan kenyamanan.
Salah satu fasilitas strategis yang akan dibangun adalah Jembatan Al-Hujun, berupa terowongan yang menghubungkan langsung kawasan Komplek Haji Indonesia dengan Masjidil Haram.
Keberadaan jembatan ini akan memangkas jarak tempuh jemaah menjadi sekitar 2,5 kilometer.
Jarak tersebut jauh lebih dekat dibandingkan lokasi pemondokan jemaah Indonesia selama ini yang berkisar antara 4,5 hingga 6 kilometer.
Pembangunan jembatan Al-Hujun ditargetkan rampung pada 2026, sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan pada musim haji berikutnya.
Baca juga: Nusuk Hajj Dibuka, Saudi Mulai Pemilihan Paket Haji 2026 untuk Program Haji Langsung
Meski pembelian hotel dan lahan telah diumumkan, status kepemilikan aset Kampung Haji Indonesia masih bersifat bersyarat.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, sebagaimana dilansir antaranews.com menjelaskan bahwa ketentuan ini mengikuti regulasi kepemilikan properti di Arab Saudi.
Aset hotel dan lahan tersebut direncanakan resmi sepenuhnya menjadi milik Indonesia pada Januari 2026, setelah seluruh persyaratan hukum dipenuhi.
Keberhasilan ini disebut sebagai buah dari diplomasi pemerintah Indonesia yang berhasil membuka ruang kepemilikan aset negara asing di Arab Saudi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang