KOMPAS.com - Bagi masyarakat modern, makan sering kali dianggap sebagai aktivitas mekanis untuk sekadar mengenyangkan perut atau memenuhi gaya hidup melalui tren kuliner.
Namun, dalam tradisi Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, setiap suapan adalah sebuah seni yang memadukan rasa syukur, kesahajaan, dan pemahaman mendalam tentang keseimbangan tubuh.
Di hadapan hidangan, Baginda Nabi tidak hanya melihat rasa, tetapi juga keberkahan yang terkandung di dalamnya.
Baca juga: Jejak Empat Sungai Mulia Berasal dari Surga yang Disebut Rasulullah
Salah satu rujukan paling otoritatif untuk membedah bagaimana keseharian Nabi adalah kitab klasik Al-Shamail al-Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi.
Dalam buku tersebut, Imam At-Tirmidzi secara mendetail mengumpulkan riwayat tentang karakteristik fisik dan kebiasaan harian Nabi, termasuk bab khusus yang membahas lauk-pauk serta tata cara makan beliau.
Baca juga: Amul Huzni: Episode Terberat Kehidupan dan Dakwah Rasulullah SAW
Meski dikenal sebagai pemimpin besar, meja makan Rasulullah jauh dari kemewahan yang berlebihan. Namun, pilihan menu beliau justru selaras dengan prinsip nutrisi yang baik.
Dalam kitab tersebut, dikisahkan bahwa Nabi pernah memuji cuka dengan sabdanya: "Sebaik-baik lauk adalah cuka."
Di balik kesederhanaan cuka, dunia kesehatan modern kini mengakui manfaatnya bagi pencernaan dan keseimbangan gula darah.
Selain itu, Nabi sangat menggemari buah labu. Anas bin Malik RA menceritakan bahwa beliau sering melihat Nabi mencari potongan labu di sela-sela hidangan, sebuah sayuran yang kaya serat dan menenangkan sistem pencernaan.
Untuk asupan protein, Rasulullah menyukai daging bagian lengan atau kaki depan kambing karena teksturnya yang lebih lembut dan mudah dicerna.
Beliau juga tercatat pernah mengonsumsi daging unggas seperti ayam dan burung puyuh. Sebagai penutup atau camilan, Baginda sangat menyukai madu dan makanan yang manis secara alami, sebuah sumber energi instan yang thayyib (baik).
Baca juga: Mengalami Mimpi Buruk? Ini Adab dan Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW
Satu hal yang menarik dalam literatur syamail (karakteristik Nabi) adalah kecerdasan beliau dalam memadukan jenis makanan.
Dikutip dari buku Zad Al-Ma’ad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dijelaskan bahwa Rasulullah sering mengombinasikan dua jenis makanan yang memiliki sifat berlawanan untuk menciptakan keseimbangan bagi tubuh.
Misalnya, Nabi terbiasa memakan mentimun atau semangka yang bersifat "dingin" dengan kurma matang yang bersifat "panas".
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa kombinasi ini bertujuan untuk menetralisir efek samping dari masing-masing makanan tersebut sehingga lebih ramah bagi lambung.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa sehat dalam perspektif Nabi bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi bagaimana cara memadukannya.
Imam At-Tirmidzi dalam Al-Shamail al-Muhammadiyyah juga menyoroti perilaku fisik Nabi saat makan yang secara medis terbukti menyehatkan:
Baca juga: 6 Faktor Kesabaran dan Keteguhan Hati Masa Rasulullah yang Relevan Hingga Kini
Bagi Rasulullah, keberkahan bisa jadi terletak pada suapan terakhir. Inilah mengapa beliau membiasakan diri untuk membersihkan jemari (menjilat jari) sebelum mencucinya.
Hal ini bukan sekadar kebiasaan fisik, melainkan bentuk apresiasi tertinggi bahwa tak ada satu pun butir rezeki yang boleh tersia-sia.
Kesadaran spiritual ini dimulai dengan Basmalah sebagai pengakuan bahwa makanan tersebut adalah pemberian Tuhan, dan diakhiri dengan Hamdalah sebagai bentuk syukur.
Meneladani cara makan Rasulullah adalah langkah konkret untuk meraih kesehatan yang holistik.
Dengan memilih makanan yang halal lagi baik, serta memperhatikan adab yang santun, meja makan kita tidak hanya menjadi tempat mengisi energi fisik, tetapi juga menjadi sarana ibadah.
Sehat ala Nabi adalah tentang kecukupan, bukan kelimpahan; tentang kesadaran, bukan kerakusan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang