Editor
KOMPAS.com-Bulan Sya’ban menempati posisi istimewa dalam kalender Hijriah karena berada di antara dua bulan mulia, yakni Rajab dan Ramadhan.
Kehadiran Sya’ban sering dipandang sebagai fase transisi, tetapi dalam tradisi Islam, bulan ini menyimpan berbagai keutamaan yang berkaitan erat dengan peningkatan ibadah dan persiapan spiritual menuju Ramadhan.
Dilansir dari laman MUI, para ulama menjelaskan bahwa Sya’ban bukan sekadar bulan penghubung, melainkan waktu penting untuk menata kembali kualitas keimanan dan amal saleh sebelum memasuki bulan puasa.
Baca juga: Akhir Bulan Rajab Tinggal Hitungan Hari, Ini Jadwal Awal Syaban 1447 H dan Keutamaannya
Sya’ban dikenal sebagai bulan yang memiliki kedekatan khusus dengan Rasulullah SAW. Hal ini merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan pembagian kemuliaan bulan-bulan tertentu dalam Islam.
رَجَبٌ شَهْرُ اللَّهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِي وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي
Artinya, “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”
Hadis ini menjadi dasar pemahaman bahwa Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus terhadap Sya’ban sebagai bulan yang sarat dengan ibadah dan kedekatan spiritual.
Baca juga: Doa Awal Bulan Sya’ban, Lengkap dengan Keutamaan dan Amalan Sunnah Menyambut Ramadhan
Selain disebut sebagai bulannya Rasulullah SAW, Sya’ban juga dikenal dengan sebutan Syahrul Qurra’ atau bulan para pembaca Alquran.
Sebutan ini muncul karena kuatnya anjuran para ulama salaf untuk memperbanyak tilawah Alquran pada bulan ini.
Salmah bin Kuhail menuturkan bahwa Sya’ban sejak dahulu dikenal sebagai bulan Al-Qur’an.
وقال سلمة بن كهيل : كان يقال : شهر شعبان شهر القراء .وكان حبيب بن أبي ثابت إذا دخل شعبان قال: هذا شهر القراء. وكان عمرو بن قيس الملائي إذا دخل شعبان، أغلق حانوته وتفرغ لقراءة القرآن.
Artinya, “Bulan Sya’ban disebut sebagai Syahrul Qurra’ (bulan para pembaca Al-Qur’an). Hubaib bin Abi Tsabit ketika memasuki Sya’ban berkata, ‘Ini adalah bulan para pembaca Al-Qur’an.’ Amru bin Qais al-Mula’iy ketika memasuki Sya’ban menutup tokonya dan menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an.”
Riwayat ini menunjukkan bahwa generasi awal Islam menjadikan Sya’ban sebagai momentum untuk memperkuat hubungan dengan Alquran.
Baca juga: Mengapa Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali? Ini Penjelasannya
Keistimewaan lain dari bulan Sya’ban berkaitan dengan turunnya perintah Allah SWT untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah tersebut termaktub dalam Alquran Surat Al-Ahzab ayat 56.
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Karena ayat ini diturunkan pada bulan Sya’ban, para ulama menyebutnya sebagai bulan yang tepat untuk memperbanyak shalawat sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.
Para ulama juga mengibaratkan Sya’ban sebagai fase perawatan amal sebelum panen ibadah di bulan Ramadhan.
شهر رجب شهر للزرع و شعبان شهر للسقي و رمضان شهر حصاد الزرع
Artinya, “Bulan Rajab adalah masa menanam, bulan Sya’ban adalah masa menyiram dan merawat, sedangkan bulan Ramadhan adalah masa memanen.”
Perumpamaan ini menegaskan bahwa amalan yang dilakukan pada Sya’ban berperan penting dalam menentukan kualitas ibadah di bulan Ramadhan.
Baca juga: Doa Mustajab di Masjid Nabawi: Melangitkan Harapan di Kota Rasulullah
Keutamaan Sya’ban juga terletak pada peristiwa diangkatnya amal perbuatan manusia kepada Allah SWT.
Kesadaran akan hal ini mendorong Rasulullah SAW untuk memperbanyak puasa sunnah pada bulan tersebut.
Usamah bin Zaid RA meriwayatkan dialognya dengan Rasulullah SAW:
عَنْ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya, “Dari Usamah bin Zaid berkata, ‘Aku bertanya, wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa sunnah sebanyak engkau berpuasa di bulan Sya’ban.’ Beliau menjawab, ‘Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Allah Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.’” (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Khuzaimah).
Baca juga: Mengapa Awal Ramadhan 2026 Berpotensi Berbeda? Ini Penjelasan Kemenag dan BRIN
Hadis ini memperlihatkan betapa besar nilai spiritual Sya’ban dalam pandangan Rasulullah SAW.
Beragam keutamaan tersebut menunjukkan bahwa bulan Sya’ban memiliki peran penting dalam siklus ibadah tahunan umat Islam.
Dengan memahami makna dan keistimewaan Sya’ban, umat Islam diharapkan dapat memaksimalkan ibadah, memperbanyak amal saleh, dan mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang