KOMPAS.com - Kalender Hijriyah setiap tahun selalu menghadirkan momentum spiritual yang khas.
Salah satu bulan yang memiliki posisi strategis dalam pembinaan ibadah umat Islam adalah bulan Sya'ban.
Bulan yang terletak di antara Rajab dan Ramadhan ini tidak hanya menjadi masa transisi menuju Ramadhan, tetapi juga menyimpan berbagai julukan yang mencerminkan keistimewaan spiritual, sosial, dan edukatif.
Dalam literatur klasik Islam, Sya'ban dikenal dengan beberapa sebutan, di antaranya Bulan Rasulullah SAW, Syahrul Qurra’ (bulan para ahli Alquran), bulan memperbanyak shalawat, serta bulan diangkatnya amal-amal manusia.
Julukan-julukan ini tidak muncul tanpa dasar, melainkan berakar pada Alquran, hadis Nabi, serta penjelasan para ulama.
Artikel ini mengulas secara sistematis makna dan latar belakang julukan bulan Sya'ban, serta relevansinya dalam kehidupan Muslim modern.
Baca juga: Doa Khatam Alquran: Arab, Latin, dan Artinya
Salah satu julukan paling populer bagi Sya'ban adalah "Bulan Rasulullah SAW". Julukan ini bersandar pada hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, di mana Rasulullah SAW bersabda:
"Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku."
Dalam kitab Latha’if al-Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, dijelaskan bahwa penyandaran Sya'ban kepada Rasulullah SAW menunjukkan intensitas ibadah yang dilakukan Nabi pada bulan ini, khususnya puasa sunnah.
Nabi Muhammad SAW tercatat sebagai sosok yang paling banyak berpuasa sunnah di bulan Sya'ban dibandingkan bulan lainnya di luar Ramadhan.
Hadis riwayat Aisyah RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sering berpuasa hampir sebulan penuh di Sya'ban.
Menurut Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, hal ini menunjukkan keutamaan Sya'ban sebagai bulan latihan spiritual sebelum memasuki Ramadhan.
Baca juga: Puasa Syaban Tanggal Berapa? Ini Jadwal Lengkap 2026
Selain dikenal sebagai Bulan Rasulullah, Sya'ban juga mendapat julukan Syahrul Qurra’ atau bulan para pembaca Al-Qur’an.
Tradisi ini berkembang di kalangan salafus shalih sebagai bentuk persiapan ruhani menyambut Ramadhan.
Dalam riwayat yang dinukil oleh Imam Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, disebutkan bahwa para ulama generasi awal memperbanyak tilawah Al-Qur’an ketika memasuki Sya'ban.
Salamah bin Kuhail menyatakan bahwa Sya'ban disebut sebagai bulan para ahli Al-Qur’an. Habib bin Abi Tsabit bahkan menegaskan bahwa Sya'ban adalah momentum khusus untuk memperdalam interaksi dengan Al-Qur’an.
Menurut Prof. Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an, kebiasaan memperbanyak tilawah sebelum Ramadhan merupakan strategi spiritual agar hati lebih siap menerima limpahan rahmat di bulan suci. Sya'ban menjadi fase pengondisian jiwa agar Ramadhan tidak berlalu tanpa makna.
Baca juga: 5 Ayat Tentang Sabar dalam Alquran, Penenang Hati Saat Menghadapi Ujian Hidup
Keutamaan lain dari bulan Sya'ban adalah meningkatnya anjuran untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini dikaitkan dengan turunnya perintah bershalawat dalam Surah Al-Ahzab ayat 56.
Dalam kitab Tafsir al-Qurthubi, dijelaskan bahwa perintah bershalawat memiliki dimensi teologis dan sosial.
Bershalawat bukan hanya bentuk penghormatan kepada Nabi, tetapi juga sarana memperkuat kecintaan umat kepada Rasulullah SAW.
Ulama kontemporer seperti Syekh Ali Jum’ah dalam Al-Shalatu ‘ala an-Nabi menegaskan bahwa memperbanyak shalawat di bulan Sya'ban menjadi bentuk penyucian hati, karena shalawat berfungsi sebagai media pembersih jiwa dari sifat lalai dan kerasnya hati.
Baca juga: Keistimewaan Bulan Syaban: Bulannya Rasulullah, Alquran, dan Diangkatnya Amal
Para ulama mengibaratkan rangkaian bulan Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan sebagai siklus pertanian spiritual. Dalam ungkapan hikmah yang populer disebutkan:
"Rajab adalah masa menanam, Sya'ban adalah masa merawat, dan Ramadhan adalah masa memanen."
Dalam buku Tarbiyatul Qulub karya Imam Al-Ghazali, dijelaskan bahwa amal ibadah membutuhkan kesinambungan.
Sya'ban menjadi fase konsolidasi amal, di mana seorang Muslim memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak istighfar, dan menata niat agar Ramadhan menjadi puncak produktivitas spiritual.
Secara psikologis, pembiasaan ibadah di Sya'ban juga membantu membentuk rutinitas yang lebih stabil, sehingga transisi menuju Ramadhan tidak terasa berat.
Salah satu keistimewaan utama Sya'ban adalah peristiwa pengangkatan amal manusia kepada Allah SWT.
Hal ini berdasarkan hadis dari Usamah bin Zaid RA yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i.
Dalam penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani di kitab Fath al-Bari, disebutkan bahwa pengangkatan amal tahunan terjadi pada bulan Sya'ban, berbeda dengan laporan amal harian dan mingguan yang juga disebut dalam hadis-hadis lain.
Rasulullah SAW menyukai amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa. Ini menunjukkan bahwa puasa Sya'ban memiliki dimensi evaluatif, yaitu sebagai momen muhasabah tahunan sebelum memasuki Ramadhan.
Baca juga: 5 Surat Terpanjang dalam Alquran dan Makna Pentingnya bagi Umat Islam
Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat, makna julukan bulan Sya'ban tetap relevan.
Bulan ini dapat dimaknai sebagai fase persiapan mental, spiritual, dan sosial menjelang Ramadhan.
Ulama kontemporer seperti Prof. Wahbah az-Zuhaili dalam Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menekankan bahwa ibadah tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga membentuk karakter. Sya'ban mengajarkan disiplin, konsistensi, serta kesadaran akan pentingnya evaluasi diri.
Dengan memaknai Sya'ban sebagai Bulan Rasulullah, Syahrul Qurra’, bulan shalawat, dan bulan pengangkatan amal, umat Islam diajak untuk tidak menjadikan bulan ini sekadar waktu penantian Ramadhan, melainkan sebagai fase strategis pembentukan kualitas iman.
Julukan-julukan bulan Sya'ban bukan sekadar simbol religius, tetapi mengandung pesan teologis dan pedagogis yang mendalam.
Bulan ini menjadi jembatan spiritual antara Rajab dan Ramadhan, tempat umat Islam mempersiapkan diri secara optimal.
Dengan memperbanyak puasa sunnah, tilawah Alquran, shalawat, dan amal kebajikan, Sya'ban dapat menjadi momentum transformasi diri.
Harapannya, ketika Ramadhan tiba, umat Islam telah berada pada kondisi spiritual yang matang dan siap memanen keberkahan.
Bulan Syaban bukan hanya memiliki banyak julukan mulia, tetapi juga menjadi momentum persiapan spiritual menuju Ramadhan.
Rasulullah SAW memperbanyak ibadah pada bulan ini sebagai bentuk kesiapan menghadapi bulan puasa.
Puasa sunnah menjadi amalan utama di bulan Syaban. Rasulullah SAW bersabda bahwa pada bulan ini amal-amal manusia diangkat kepada Allah dan beliau ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa (HR Ahmad dan An-Nasa’i).
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan bahwa puasa Syaban melatih kesiapan fisik dan mental sebelum Ramadhan.
Syaban dikenal sebagai Syahrul Qurra’ atau bulan para ahli Al-Qur’an. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menyebut para ulama salaf menjadikan Syaban sebagai waktu meningkatkan tilawah sebagai persiapan Ramadhan.
Perintah bershalawat termaktub dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:
Innallāha wa malā'ikatahu yuṣallūna ‘alan nabī…
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi...”
Selain itu, memperbanyak istighfar dianjurkan untuk membersihkan hati dan memperbaiki kualitas amal sebelum memasuki Ramadhan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang