KOMPAS.com - Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki posisi sentral dalam kehidupan spiritual umat Muslim.
Kewajiban ini tidak langsung disyariatkan sejak awal kenabian, melainkan turun ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah hijrah ke Madinah.
Pertanyaan yang kerap muncul kemudian adalah berapa kali Rasulullah SAW menjalani ibadah puasa Ramadhan sepanjang hidupnya?
Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditelusuri melalui catatan sejarah Islam klasik yang merekam fase-fase akhir kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Puasa Ramadhan mulai diwajibkan pada tahun kedua Hijriah. Peristiwa ini terjadi sekitar 18 bulan setelah Rasulullah SAW menetap di Madinah.
Ketetapan tersebut ditandai dengan turunnya Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menjadi dasar hukum puasa bagi umat Islam. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Dalam buku Fiqh Sirah Nabawiyah karya Syaikh Muhammad Al-Ghazali dijelaskan bahwa puasa Ramadhan menjadi bagian dari proses pembinaan spiritual umat Islam Madinah, setelah fondasi akidah dan persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshar mulai terbentuk kuat.
Baca juga: Doa Memohon Keberkahan di Bulan Sya’ban untuk Menyambut Ramadhan
Berdasarkan riwayat sejarah, Rasulullah SAW menjalani puasa Ramadhan sebanyak sembilan kali.
Hal ini karena beliau wafat pada tahun ke-11 Hijriah, sementara kewajiban puasa dimulai sejak tahun ke-2 Hijriah.
Dalam Ensiklopedia Sejarah Nabi Muhammad karya Mahdi Rizqullah Ahmad disebutkan bahwa sejak Ramadhan pertama di Madinah hingga Ramadhan terakhir sebelum wafat, Rasulullah SAW menjalani ibadah puasa selama sembilan tahun berturut-turut.
Dari sembilan kali Ramadhan tersebut, delapan kali berlangsung selama 29 hari dan satu kali berlangsung selama 30 hari.
Perbedaan ini berkaitan dengan sistem kalender Qamariyah yang bergantung pada peredaran bulan, sehingga jumlah hari dalam satu bulan bisa berbeda.
Bulan Ramadhan tidak hanya diisi Rasulullah SAW dengan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dengan peningkatan kualitas ibadah secara menyeluruh, baik personal maupun sosial.
Dalam buku Ensiklopedia Peradaban Islam: Makkah dan Madinah dijelaskan bahwa setiap malam di bulan Ramadhan, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW untuk melakukan tadarus Al-Qur’an bersama. Tradisi ini dikenal sebagai mu’aradhah, yaitu saling memperdengarkan bacaan Al-Qur’an.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan merupakan bulan penguatan hubungan antara wahyu dan Rasulullah SAW, sekaligus menjadi teladan bagi umat Islam untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an.
Selain itu, Rasulullah SAW juga dikenal memperbanyak sedekah. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa kedermawanan Nabi mencapai puncaknya saat Ramadhan, bahkan diibaratkan lebih cepat dari hembusan angin dalam memberi bantuan kepada orang lain.
Baca juga: Ramadhan Berapa Hari Lagi? Cek Hitung Mundur Ramadhan 2026 dan Persiapannya
Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan adalah umrah. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Umrah di bulan Ramadhan setara dengan haji bersamaku.”
Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kesetaraan ini bukan dalam aspek kewajiban, melainkan dalam besarnya pahala yang Allah berikan kepada orang yang melaksanakannya dengan ikhlas.
Para ulama membagi puasa ke dalam beberapa tingkatan berdasarkan kualitas spiritualnya. Pembagian ini banyak dikutip dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
Tingkatan pertama adalah puasa orang awam, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Tingkatan kedua adalah puasa khawas, yaitu menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat, termasuk lisan, pendengaran, dan pandangan.
Adapun tingkatan tertinggi adalah puasa khawasul khawas, yaitu puasa hati dari segala bentuk ketergantungan duniawi dan memusatkan kesadaran sepenuhnya kepada Allah SWT.
Konsep ini sejalan dengan hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, di mana Allah SWT berfirman:
“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Baca juga: Doa Masuk Bulan Syaban, Menyiapkan Hati Menyambut Ramadhan
Dari catatan sejarah tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah SAW menjalani sembilan kali Ramadhan dengan penuh kesungguhan, kedisiplinan ibadah, serta kepedulian sosial yang tinggi.
Ramadhan bagi Nabi bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum pembinaan umat, penguatan spiritual, dan peneguhan nilai kemanusiaan.
Teladan ini menjadi rujukan utama bagi umat Islam dalam menghidupkan Ramadhan, bukan hanya melalui puasa fisik, tetapi juga melalui puasa akhlak dan pengendalian diri secara menyeluruh.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang