Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Persiapan Ramadhan dari Rumah hingga Hati, Sudahkah Anda Siap?

Kompas.com, 24 Januari 2026, 19:45 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bulan suci Ramadhan selalu datang membawa pesan pembaruan spiritual. Bagi umat Islam, Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum pendidikan jiwa, sebuah madrasah ruhani yang hanya hadir sekali dalam setahun.

Namun realitas di lapangan menunjukkan, tidak sedikit orang justru kewalahan mengatur ritme hidup ketika Ramadhan sudah berjalan. Masalah fisik, pekerjaan, hingga urusan rumah tangga kerap menyita energi ibadah.

Padahal, Alquran telah menegaskan bahwa puasa Ramadhan diturunkan sebagai sarana pembentukan ketakwaan. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah pembinaan spiritual. Karena itu, persiapan matang menjadi kunci agar tujuan tersebut benar-benar tercapai.

Baca juga: Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit

Menguatkan Fondasi Ibadah

Ulama klasik menekankan pentingnya menyambut Ramadhan dengan kesiapan hati. Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali, disebutkan bahwa para salaf biasa mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan sejak bulan Sya’ban.

Mereka memperbanyak puasa sunnah, memperbaiki niat, serta menata kembali hubungan dengan Allah SWT.

Salah satu langkah utama yang dianjurkan adalah melunasi hutang puasa (qadha) Ramadhan sebelumnya.

Ini bukan sekadar kewajiban fikih, tetapi juga latihan mental agar tubuh dan jiwa kembali terbiasa dengan pola puasa.

Selain itu, memperdalam ilmu fikih puasa menjadi fondasi penting agar ibadah tidak gugur akibat kesalahan teknis, seperti keliru memahami hal-hal yang membatalkan puasa atau tata cara ibadah malam.

Baca juga: Ramadhan Tinggal Hitungan Hari, Sudahkah Kita Muhasabah Diri?

Menyiapkan Tubuh Menyambut Perubahan Ritme

Ramadhan membawa perubahan besar pada jam makan, tidur, dan aktivitas. Karena itu, adaptasi fisik perlu dilakukan secara bertahap.

Rasulullah SAW sendiri dikenal memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Aisyah RA.

Dari sisi kesehatan, pola ini membantu metabolisme tubuh menyesuaikan diri sebelum memasuki puasa wajib sebulan penuh.

Dalam buku Jurus Sehat Rasulullah karya dr. Zaidul Akbar, dijelaskan bahwa adaptasi pola makan sebelum Ramadhan dapat mencegah keluhan umum seperti pusing, lemas, hingga gangguan lambung.

Mengurangi konsumsi gula berlebih, kafein, serta rokok sejak dini juga membantu tubuh bertransisi lebih stabil.

Pemeriksaan kesehatan bagi penderita penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau maag juga menjadi langkah bijak.

Konsultasi dengan dokter akan membantu mengatur waktu minum obat agar tidak mengganggu ibadah puasa.

Menata Produktivitas dan Target Ibadah

Ramadhan bukan alasan untuk menurunkan produktivitas. Sebaliknya, bulan ini justru mengajarkan disiplin dan manajemen waktu.

Para ulama menyebut Ramadhan sebagai “bulan keberkahan waktu”, karena setiap amal dilipatgandakan pahalanya.

Menyusun jadwal harian yang seimbang antara pekerjaan, istirahat, dan ibadah menjadi kebutuhan mendesak.

Banyak orang gagal memaksimalkan Ramadhan karena kelelahan akibat pola tidur yang tidak teratur.

Membiasakan tidur lebih awal dan bangun sebelum subuh sejak sebelum Ramadhan dapat membantu tubuh menyesuaikan ritme sahur.

Selain itu, menetapkan target ibadah seperti khatam Al-Qur’an, rutin tarawih, dan sedekah harian akan membuat Ramadhan lebih terarah.

Dalam buku Hayatushohabah Puasa Ramadhan karya KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), dijelaskan bahwa target ibadah berfungsi sebagai “kompas ruhani” agar Ramadhan tidak berlalu tanpa bekas spiritual.

Baca juga: Doa Awal Bulan Sya’ban, Lengkap dengan Keutamaan dan Amalan Sunnah Menyambut Ramadhan

Mengurangi Beban Pikiran Selama Ramadhan

Aspek praktis sering kali luput diperhatikan. Padahal, persoalan dapur, belanja, dan menu harian bisa menyita energi besar.

Meal preparation atau perencanaan menu sejak awal terbukti membantu banyak keluarga Muslim menghemat waktu dan biaya.

Dengan stok bahan pokok yang cukup dan menu yang terencana, waktu luang bisa dialihkan untuk tadarus, dzikir, atau berkumpul bersama keluarga.

Prinsip kesederhanaan dalam konsumsi juga sejalan dengan semangat Ramadhan yang mengajarkan pengendalian diri.

Baca juga: Ramadhan 2026 Bertepatan Musim Hujan, Begini Cara Tetap Khusyuk Puasa

Menyiapkan Dana Sedekah dan Zakat

Ramadhan dikenal sebagai bulan berbagi. Dalam Fiqh Zakat Kontemporer karya Yusuf al-Qaradawi, dijelaskan bahwa menunaikan zakat dan memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan memiliki dimensi sosial yang sangat kuat, karena langsung menyentuh kelompok rentan.

Menyisihkan dana khusus sejak sebelum Ramadhan membantu umat Islam lebih konsisten dalam bersedekah tanpa mengganggu kebutuhan pokok keluarga.

Selain zakat fitrah, sedekah berbuka puasa dan bantuan sosial menjadi amalan yang sangat dianjurkan.

Taubat dan Rekonsiliasi Sosial

Tidak kalah penting adalah persiapan batin. Ramadhan seharusnya dimasuki dengan hati yang bersih.

Meminta maaf kepada orang tua, pasangan, kerabat, dan rekan kerja merupakan bagian dari taubat sosial yang sering terlupakan.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali menekankan bahwa dosa sosial,seperti menyakiti orang lain tidak cukup ditebus dengan ibadah ritual semata. Rekonsiliasi menjadi pintu pembuka agar doa dan amal diterima dengan lebih lapang.

Menciptakan Suasana yang Kondusif

Lingkungan fisik juga memengaruhi kualitas ibadah. Rumah yang bersih, tempat shalat yang rapi, serta Al-Qur’an yang mudah dijangkau dapat meningkatkan motivasi beribadah.

Psikologi modern menyebut ini sebagai “stimulus lingkungan positif” yang membantu membentuk kebiasaan baik.

Ketika rumah berubah menjadi ruang ibadah kecil, suasana Ramadhan akan terasa lebih hidup dan bermakna, terutama bagi anak-anak yang sedang belajar mencintai ibadah sejak dini.

Baca juga: Saudi Tegaskan Aturan Speaker Masjid Saat Ramadhan, Jemaah Perlu Tahu

Menyambut Ramadhan dengan Kesadaran Penuh

Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi tentang membentuk manusia baru yang lebih sabar, disiplin, dan peduli.

Persiapan yang matang baik spiritual, fisik, maupun sosial akan membuka ruang lebih luas bagi jiwa untuk mendekat kepada Allah SWT.

Sebagaimana pepatah Arab mengatakan, “Man jadda wajada” siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan hasil.

Ramadhan pun demikian. Semakin serius persiapannya, semakin besar pula keberkahan yang bisa dipetik.

Kini, saat Ramadhan tinggal menghitung hari, pertanyaannya bukan lagi “sudah siap atau belum”, melainkan “seberapa sungguh kita ingin berubah”.

Karena Ramadhan bukan sekadar tamu tahunan, tetapi kesempatan emas yang belum tentu datang kembali tahun depan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Puasa yang Dilarang dalam Islam: Jenis, Dalil, dan Penjelasannya
Puasa yang Dilarang dalam Islam: Jenis, Dalil, dan Penjelasannya
Doa dan Niat
Bacaan Tahlil Lengkap dengan Doa: Arab, Latin, dan Artinya
Bacaan Tahlil Lengkap dengan Doa: Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Wamenhaj Ingatkan Petugas Haji Jaga Stamina, Mayoritas Ibadah Haji Bersifat Fisik
Wamenhaj Ingatkan Petugas Haji Jaga Stamina, Mayoritas Ibadah Haji Bersifat Fisik
Aktual
Daftar Wilayah di Arab Saudi yang Beku hingga Suhu -3 Derajat
Daftar Wilayah di Arab Saudi yang Beku hingga Suhu -3 Derajat
Aktual
Persiapan Ramadhan dari Rumah hingga Hati, Sudahkah Anda Siap?
Persiapan Ramadhan dari Rumah hingga Hati, Sudahkah Anda Siap?
Aktual
Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit
Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit
Aktual
Kapan Nisfu Syaban 2026? Ini Tanggal dan Asal Usulnya
Kapan Nisfu Syaban 2026? Ini Tanggal dan Asal Usulnya
Aktual
6 Peristiwa Penting di Bulan Sya‘ban: Jejak Penting yang Mengubah Arah
6 Peristiwa Penting di Bulan Sya‘ban: Jejak Penting yang Mengubah Arah
Aktual
Salju Turun di Arab Saudi: Benarkah Tanda Kiamat atau Hanya Perubahan Iklim Global?
Salju Turun di Arab Saudi: Benarkah Tanda Kiamat atau Hanya Perubahan Iklim Global?
Aktual
Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari
Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari
Aktual
Hukum Trading Forex dan Kripto dalam Islam, Ini Penjelasan MUI
Hukum Trading Forex dan Kripto dalam Islam, Ini Penjelasan MUI
Aktual
Bukan Superman, tapi Superteam: Cara Petugas Haji 2026 Siap Hadapi Puncak Haji di Armuzna
Bukan Superman, tapi Superteam: Cara Petugas Haji 2026 Siap Hadapi Puncak Haji di Armuzna
Aktual
Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Bisa Dipesan Besok, Begini Cara Mudah Pesanannya
Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Bisa Dipesan Besok, Begini Cara Mudah Pesanannya
Aktual
Beasiswa S2 Double Degree Kemenag–LPDP 2026 Dibuka, Kuliah di Indonesia dan Australia
Beasiswa S2 Double Degree Kemenag–LPDP 2026 Dibuka, Kuliah di Indonesia dan Australia
Aktual
Amalan Bulan Syaban: Waktu Mustajab Sebelum Berbuka Puasa
Amalan Bulan Syaban: Waktu Mustajab Sebelum Berbuka Puasa
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com