Penulis
KOMPAS.com - Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Di bulan Ramadhan, ada tradisi yang sudah menyatu dengan budaya nusantara, yaitu ngabuburit. Kegiatan ini dilakukan saat sore hari menjelang waktu berbuka.
Suasana sore di bulan Ramadhan selalu terasa berbeda. Jalanan ramai, masjid mulai dipenuhi jamaah, penjual takjil bermunculan, dan orang-orang sibuk mengisi waktu sambil menunggu adzan magrib.
Ngabuburit bukan sekadar kebiasaan menunggu buka puasa. Ia adalah tradisi yang memiliki akar sejarah panjang dan mencerminkan cara masyarakat Indonesia memadukan agama, budaya, dan kebersamaan.
Baca juga: Mengapa Sya‘ban Disebut Bulan Arwah? Inilah Jejak Sejarahnya dalam Tradisi Islam Nusantara
Secara etimologis, kata ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, dari kata burit yang berarti sore hari. Dalam Kamus Basa Sunda karya R. Satjadibrata, istilah ngabuburit dijelaskan sebagai kegiatan mengisi waktu menjelang sore atau maghrib.
Penggunaan istilah ini awalnya terbatas di wilayah Jawa Barat atau orang-orang Sunda. Namun, sebagaimana dicatat oleh antropolog Ajip Rosidi dalam kajian kebudayaan Sunda, banyak istilah lokal Sunda kemudian menjadi kosakata nasional karena migrasi, media, dan interaksi antarbudaya, termasuk istilah ngabuburit.
Sejarah praktik ngabuburit tidak bisa dilepaskan dari proses islamisasi Nusantara sejak abad ke-13. Dalam buku Islam Nusantara karya Azyumardi Azra, dijelaskan bahwa penyebaran Islam di Indonesia berlangsung secara damai melalui pendekatan budaya dan tradisi lokal.
Pada masa itu, umat Islam mengisi waktu menjelang maghrib dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti mengaji Al-Qur’an, berdzikir, dan mendengarkan kajian keagamaan di masjid maupun mushola.
Aktivitas menunggu waktu salat magrib inilah yang menjadi embrio tradisi ngabuburit bernuansa religius.
Di lingkungan pesantren, kegiatan menjelang maghrib saat Ramadhan sudah menjadi rutinitas sejak lama. Dalam penelitian Zamakhsari Dhofier melalui bukunya Tradisi Pesantren, dijelaskan bahwa waktu sore di bulan Ramadhan diisi dengan tadarus Al-Qur’an, pengajian, dan membaca wirid atau dzikir bersama.
Tradisi ini kemudian menyebar ke masyarakat umum. Di kampung-kampung muslim, ngabuburit menjadi momen kebersamaan: anak-anak bermain, orang tua berbincang, sementara masjid menjadi pusat aktivitas spiritual.
Baca juga: Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya
Pada masa penjajahan Belanda, praktik keagamaan seperti Ramadhan menjadi bagian penting dalam menjaga identitas umat Islam. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya mencatat bahwa masjid dan kegiatan keagamaan berfungsi sebagai ruang sosial sekaligus simbol perlawanan kultural.
Ngabuburit pada masa ini tidak hanya bermakna menunggu berbuka, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan identitas keislaman di tengah tekanan kolonial. Ngabuburit juga menjadi sarana untuk melakukan konsolidasi tanpa dicurigai.
Setelah Indonesia merdeka, tradisi ngabuburit mengalami transformasi. Modernisasi dan urbanisasi mengubah pola hidup masyarakat. Menurut kajian budaya populer oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra, tradisi keagamaan di Indonesia bersifat dinamis dan selalu menyesuaikan dengan konteks zaman.
Ngabuburit pun berkembang menjadi beberapa kegiatan yang tidak terkait langsung dengan nilai-nilai keagamaan, seperti:
Pasar takjil yang kini identik dengan ngabuburit mulai banyak muncul sejak era 1970–1980-an, seiring pertumbuhan ekonomi dan kota-kota besar.
Baca juga: Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari
Ngabuburit tidak sekadar aktivitas pengisi waktu, tetapi juga mengandung berbagai makna bagi masyakarat Indonesia, diantaranya adalah:
Antropolog budaya sepakat bahwa tidak banyak negara muslim yang memiliki istilah dan praktik serupa secara khusus di bulan Ramadhan, menjadikan ngabuburit sebagai ciri unik Islam di indonesia.
Ngabuburit adalah contoh bagaimana ajaran Islam berakar kuat dalam budaya lokal tanpa kehilangan nilai dasarnya. Dari surau sederhana hingga ruang digital, dari dzikir hingga berburu takjil, tradisi ini terus hidup dan menyesuaikan diri dengan zaman.
Selama esensinya tetap dijaga, mengisi waktu dengan hal positif dan mempererat kebersamaan, ngabuburit akan selalu menjadi wajah Ramadhan di Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang