KOMPAS.com - Waktu berbuka puasa bukan sekadar penanda berakhirnya lapar dan dahaga. Dalam Islam, momen ini memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa saat berbuka merupakan salah satu waktu mustajab untuk berdoa, ketika seorang hamba berada pada puncak kerendahan diri setelah seharian menahan hawa nafsu.
Karena itu, tata cara berbuka, doa yang dibaca, serta adab yang menyertainya bukanlah ritual biasa, melainkan bagian dari pendidikan ruhani yang diwariskan langsung oleh Nabi Muhammad SAW.
Di tengah tradisi berbuka yang semakin beragam di masyarakat modern, memahami kembali sunnah Nabi dalam berbuka puasa menjadi penting agar ibadah Ramadhan tidak kehilangan ruhnya.
Baca juga: Puasa Berapa Hari Lagi 2026? Simak Adab Buka Puasa Rasulullah
Allah SWT menegaskan tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumush-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Menurut Quraish Shihab dalam buku Tafsir Al-Mishbah, puasa tidak hanya mendidik ketahanan fisik, tetapi juga membentuk kesadaran moral dan spiritual.
Momen berbuka menjadi penutup dari proses pendidikan ini setiap hari, ketika seorang Muslim mengakhiri puasanya dengan rasa syukur dan harap akan diterimanya amal.
Baca juga: Hitung Mundur Puasa 2026: Kurang Berapa Hari Lagi Ramadhan 1447 H?
Rasulullah SAW mengajarkan doa yang ringkas, mudah dihafal, tetapi sarat makna. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa beliau membaca:
Dzahabaẓ-ẓama’u wabtallatil ‘urūqu wa tsabatal ajru insyā Allāh.
Artinya: “Telah hilang dahaga, telah basah kerongkongan, dan semoga pahala telah tetap, insya Allah.”
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa doa ini mencerminkan tiga dimensi ibadah, pengakuan kondisi fisik, ungkapan syukur, dan harapan akan pahala. Rasulullah juga sering membaca doa lain:
Allāhumma laka ṣumtu wa ‘alā rizqika afṭartu.
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Kesederhanaan redaksi doa ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kemudahan dalam ibadah. Fokusnya bukan pada panjangnya lafaz, melainkan pada keikhlasan dan kesadaran hati.
Baca juga: Apakah Boleh Puasa Tanpa Sahur? Ini Jawaban Ulama dan Dalilnya
Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
“Ada tiga golongan yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa ketika berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang dizalimi.”
Menurut penjelasan dalam kitab Syarah Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, kondisi orang yang berpuasa saat menjelang berbuka berada pada puncak ketergantungan kepada Allah SWT.
Lapar, lelah, dan haus menjadikan hati lebih lembut dan tunduk. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan memperbanyak doa beberapa menit sebelum adzan Maghrib hingga selesai berbuka.
Dalam riwayat Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW biasa berbuka dengan ruthab (kurma segar).
Jika tidak ada, beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Jika keduanya tidak tersedia, beliau berbuka dengan beberapa teguk air putih.
Dalam buku Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dijelaskan bahwa pilihan Rasulullah ini bukan tanpa alasan.
Kurma mengandung gula alami yang cepat diserap tubuh, sehingga mampu memulihkan energi setelah seharian berpuasa.
Air putih membantu mengembalikan keseimbangan cairan tubuh. Pola ini terbukti relevan dengan prinsip kesehatan modern.
Menariknya, Rasulullah tidak langsung makan dalam porsi besar. Beliau berbuka ringan terlebih dahulu, lalu menunaikan shalat Maghrib, baru kemudian melanjutkan makan. Pola ini mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan prioritas ibadah.
Baca juga: Niat Puasa Ramadhan: Doa Sahur Rasulullah yang Jarang Diketahui
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
Dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dijelaskan bahwa menyegerakan berbuka merupakan simbol ketaatan terhadap sunnah dan penolakan terhadap sikap berlebih-lebihan dalam ibadah.
Dari sisi kesehatan, berbuka tepat waktu membantu mencegah penurunan kadar gula darah yang dapat memicu pusing dan kelelahan berlebihan.
Selain berbuka dengan kurma dan air, Rasulullah SAW memiliki kebiasaan sosial yang kuat saat berbuka.
Beliau gemar berbuka bersama para sahabat, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau sering mengundang sahabat yang kurang mampu untuk berbuka di rumahnya.
Rasulullah juga menganjurkan memberi makan orang yang berbuka. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, beliau bersabda:
“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”
Dalam buku Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, dijelaskan bahwa amalan ini menanamkan nilai empati sosial yang menjadi ruh utama Ramadhan. Berbuka bukan hanya soal diri sendiri, tetapi juga tentang berbagi.
Sunnah Rasulullah SAW memberikan prinsip dasar berbuka yang relevan hingga kini, sederhana, tidak berlebihan, dan bergizi.
Kurma menyediakan energi cepat, air putih menjaga hidrasi, sementara makan bertahap melindungi sistem pencernaan.
Dalam buku Thibbun Nabawi karya Ibn Qayyim, disebutkan bahwa pola makan Rasulullah SAW menunjukkan keseimbangan antara kebutuhan tubuh dan ketenangan jiwa.
Beliau menghindari kekenyangan, karena perut yang terlalu penuh dapat melemahkan semangat ibadah malam seperti tarawih dan qiyamul lail.
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa Ramadhan 2026? Prediksi Awal dan Tips Persiapannya
Selain doa utama, terdapat doa lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah:
Allāhumma laka ṣumtu wa ‘alā rizqika afṭartu fataqabbal minnī innaka antas samī‘ul ‘alīm.
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Maka terimalah dariku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Keberagaman redaksi ini menunjukkan fleksibilitas Islam. Umat diperbolehkan memilih doa yang shahih sesuai kebutuhan spiritualnya, selama substansinya tetap mengandung syukur, penghambaan, dan harapan akan rahmat Allah SWT.
Di tengah budaya buka puasa bersama yang semakin populer, sunnah Nabi memberi arah agar tradisi tersebut tidak kehilangan nilai ibadah.
Berbuka bersama seharusnya menjadi sarana memperkuat silaturahmi, berbagi dengan sesama, dan mengingat Allah SWT, bukan sekadar ajang konsumsi berlebihan.
Menghidupkan doa berbuka, menyegerakan berbuka tepat waktu, memilih makanan sehat, serta berbagi dengan orang lain merupakan rangkaian ibadah yang saling terhubung. Inilah esensi berbuka menurut Rasulullah SAW, sederhana dalam praktik, tetapi dalam makna.
Dengan meneladani sunnah Nabi dalam berbuka puasa, umat Islam tidak hanya meraih pahala ritual, tetapi juga membangun karakter disiplin, empati sosial, dan ketakwaan yang menjadi tujuan utama Ramadhan.
Dan di situlah letak keistimewaan berbuka puasa, bukan sekadar mengakhiri lapar, tetapi membuka pintu keberkahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang