Editor
KOMPAS.com – Tradisi halalbihalal selalu menjadi momen khas setelah Idulfitri di Indonesia. Mulai dari acara keluarga, kantor, hingga komunitas, istilah ini begitu akrab digunakan. Namun, masih banyak yang bertanya: halalbihalal digabung atau dipisah?
Pertanyaan ini ternyata bukan sekadar soal penulisan, tetapi juga berkaitan dengan pemahaman bahasa dan budaya yang telah mengakar kuat di masyarakat.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang benar adalah halalbihalal (ditulis satu kata)
Sementara itu, bentuk seperti halal bihalal dan halal bi halal termasuk tidak baku dan sebaiknya dihindari, terutama dalam penulisan formal seperti undangan resmi, berita, atau dokumen instansi.
Baca juga: Contoh Pidato Halalbihalal yang Menyentuh Hati: Singkat, Sopan, dan Cocok untuk Berbagai Acara
Sekilas, istilah ini terlihat seperti berasal dari bahasa Arab. Namun faktanya, halalbihalal adalah istilah khas Indonesia yang tidak digunakan di negara-negara Arab.
Kata ini terbentuk dari:
Meski terdiri dari beberapa unsur, dalam perkembangan bahasa Indonesia, istilah ini sudah menjadi satu kesatuan makna. Karena itu, penulisannya dirangkai menjadi satu kata: halalbihalal.
Secara makna pun tidak bisa diterjemahkan secara harfiah. Kata halal berasal dari akar kata halla, yang berarti mengurai benang kusut atau menjernihkan sesuatu yang keruh.
Sehingga, halalbihalal dimaknai sebagai proses saling memaafkan dan memperbaiki hubungan yang sempat renggang.
Halalbihalal bukan sekadar istilah, tetapi juga tradisi yang telah mengakar dalam budaya Indonesia.
Konon, tradisi ini mulai populer sejak masa KGPAA Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa. Saat itu, beliau mengadakan pertemuan pasca-Idul Fitri untuk:
Tradisi ini kemudian berkembang luas, mulai dari lingkungan keraton hingga organisasi Islam, kantor pemerintahan, dan masyarakat umum.
Di balik kesederhanaannya, halalbihalal menyimpan banyak manfaat, di antaranya:
Dalam konteks modern, halalbihalal bahkan menjadi ruang penting untuk membangun kembali komunikasi yang sempat terputus.
Jadi, jika Anda masih ragu soal halalbihalal digabung atau dipisah, jawabannya sudah jelas:
Penulisan yang tepat bukan hanya menunjukkan ketelitian berbahasa, tetapi juga menghargai tradisi yang sarat makna.
Baca juga: 5 Momen Halalbihalal yang Selalu Dirindukan Saat Lebaran
Di tengah hangatnya suasana Lebaran, halalbihalal bukan sekadar acara seremonial, melainkan jembatan untuk kembali menyatukan hati—mengurai yang kusut, menjernihkan yang keruh, dan mempererat kembali tali persaudaraan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang