Editor
KOMPAS.com - Idul Adha merupakan salah satu hari raya terbesar dalam Islam yang sarat dengan makna spiritual dan sosial.
Hari raya ini tidak hanya identik dengan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga menjadi simbol ketakwaan, keikhlasan, dan solidaritas antar sesama manusia.
Secara bahasa, Idul Adha berasal dari kata “Id” (kembali) dan “Adha” (kurban), yang bermakna kembalinya manusia kepada fitrah melalui pengorbanan.
Sementara itu, kata qurban berasal dari bahasa Arab qaruba yang berarti dekat, yakni upaya seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Baca juga: Panduan Lengkap Membagikan Daging Kurban Sesuai Syariat, Simak Aturan dan Larangannya
Al-Qur’an telah memberikan penjelasan yang sangat jelas mengenai perintah kurban sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.
Dalam Surah Al-Kautsar ayat 2, Allah SWT berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Fa shalli li rabbika wanhar
“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”
Ayat ini menegaskan bahwa kurban adalah bentuk ibadah yang sejajar dengan shalat sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Allah.
Dalam Surah Al-Hajj ayat 34 dijelaskan:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan-Nya kepada mereka berupa hewan ternak.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kurban bukan hanya milik umat Nabi Muhammad SAW, tetapi telah menjadi tradisi ibadah para umat terdahulu.
Puncak makna kurban dijelaskan dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
Ayat ini menjadi inti dari seluruh ibadah kurban: yang dinilai Allah bukan fisik kurban, melainkan keikhlasan dan ketakwaan hati manusia.
Makna Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari kisah monumental Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam Surah As-Saffat ayat 102:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ .قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu. Ia (Ismail) menjawab: “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Kisah ini menunjukkan:
Pada akhirnya, Allah menggantikan Ismail dengan hewan sembelihan. Ini menegaskan bahwa Allah tidak menghendaki pengorbanan manusia, melainkan keikhlasan dan kepatuhan hati.
Idul Adha mengajarkan manusia untuk:
Kurban menjadi latihan spiritual untuk melepaskan keterikatan terhadap materi, sebagaimana Nabi Ibrahim rela mengorbankan yang paling dicintainya.
Selain aspek ibadah, Idul Adha juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat:
Pembagian daging kurban menciptakan interaksi antara orang kaya (yang berkurban) dan orang kurang mampu (yang menerima). Ini menjadi sarana mengurangi kesenjangan sosial.
Idul Adha mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya dirasakan sendiri, tetapi juga dibagikan kepada sesama.
Melalui kurban, tercipta hubungan sosial yang lebih erat, penuh kasih sayang, dan saling peduli.
Nilai-nilai Idul Adha sejalan dengan prinsip universal dalam Islam, sebagaimana firman Allah:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
“Tidak ada paksaan dalam agama.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam menjunjung tinggi, yakni kebebasan, toleransi, dan kemanusiaan.
Nilai ini juga tercermin dalam semangat berbagi dan menghormati sesama dalam Idul Adha.
Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, tetapi sebuah momentum besar untuk:
Baca juga: Idul Adha 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur dan Jadwal Lengkapnya
Kurban adalah simbol bahwa manusia harus mampu mengorbankan ego, kepentingan pribadi, dan kecintaan dunia demi meraih ridha Allah SWT.
Pada akhirnya, Idul Adha mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah harus berjalan seiring dengan kepedulian kepada sesama manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang