KOMPAS.com – Shalat Jumat hari ini mungkin terasa sebagai rutinitas mingguan bagi sebagian umat Islam.
Namun, di balik ibadah yang tampak sederhana itu, tersimpan sejarah panjang yang berkaitan langsung dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.
Pertanyaan tentang sejak kapan shalat Jumat mulai didirikan bukan sekadar rasa ingin tahu sejarah, tetapi juga membuka pemahaman tentang bagaimana ibadah ini lahir di tengah dinamika perjuangan Islam pada masa awal.
Lantas, kapan sebenarnya shalat Jumat pertama kali dilaksanakan?
Baca juga: Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Ibadah Haji, Ora Mung Lunga, Nanging Ngganti Diri
Secara normatif, perintah shalat Jumat telah disebutkan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9. Ayat ini menegaskan kewajiban bagi orang-orang beriman untuk segera memenuhi panggilan shalat ketika azan Jumat dikumandangkan.
Namun demikian, para ulama menjelaskan bahwa meskipun perintahnya telah ada, pelaksanaan shalat Jumat secara berjamaah belum dapat dilakukan secara optimal ketika Nabi Muhammad SAW masih berada di Mekkah.
Dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tekanan dan intimidasi dari kaum Quraisy membuat umat Islam belum memiliki ruang yang aman untuk melaksanakan ibadah secara terbuka, termasuk shalat Jumat.
Baca juga: 3 Kali Tinggalkan Shalat Jumat, Benarkah Jadi Kafir? Ini Peringatan Rasulullah
Peristiwa penting yang menandai awal pelaksanaan shalat Jumat terjadi saat Rasulullah SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah pada tahun ke-13 kenabian.
Dalam perjalanan tersebut, Nabi sempat singgah di wilayah Quba, yang kini dikenal dengan Masjid Quba.
Di tempat ini, Rasulullah membangun masjid pertama dalam sejarah Islam dan tinggal selama beberapa hari bersama para sahabat.
Namun, momen bersejarah terjadi ketika perjalanan dilanjutkan menuju Madinah. Tepat pada hari Jumat, rombongan Nabi tiba di sebuah lembah bernama Wadi Ranuna.
Di lokasi inilah, Rasulullah SAW untuk pertama kalinya mendirikan shalat Jumat bersama para sahabat.
Peristiwa ini kemudian diabadikan dengan berdirinya Masjid Al-Jumu'ah, yang diyakini sebagai lokasi shalat Jumat pertama dalam sejarah Islam.
Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa shalat Jumat tidak dilaksanakan sejak awal di Mekkah?
Jawabannya terletak pada kondisi sosial dan politik saat itu. Umat Islam berada dalam tekanan yang sangat kuat dari kaum Quraisy. Aktivitas ibadah secara terbuka berisiko menimbulkan ancaman keselamatan.
Dalam berbagai literatur sejarah Islam, termasuk Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, dijelaskan bahwa fase Mekkah lebih difokuskan pada penguatan akidah, bukan pada pembentukan sistem sosial keagamaan yang kompleks seperti shalat Jumat berjamaah.
Baru setelah hijrah ke Madinah, umat Islam memiliki kebebasan untuk menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh, termasuk mendirikan shalat Jumat dengan khutbah sebagai bagian pentingnya.
Baca juga: 7 Sunnah Sebelum Shalat Jumat yang Sering Terlewat, Ini Dalilnya
Shalat Jumat pertama yang dipimpin Rasulullah SAW tidak hanya menjadi tonggak sejarah ibadah, tetapi juga ditandai dengan khutbah yang sarat makna.
Dalam riwayat yang dinukil dari kitab Nur al-Yaqin karya Muhammad Khudri Bek, Rasulullah menyampaikan pesan yang sangat menyentuh tentang kehidupan, tanggung jawab, dan pentingnya amal kebaikan.
Isi khutbah tersebut menekankan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan di dunia.
Bahkan, amal sekecil apa pun, seperti sedekah atau ucapan yang baik, memiliki nilai besar di sisi Allah.
Pesan ini menjadi fondasi spiritual yang terus relevan hingga hari ini.
Sejak peristiwa di Wadi Ranuna itu, shalat Jumat kemudian menjadi ibadah wajib bagi laki-laki muslim yang memenuhi syarat.
Dalam buku Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa shalat Jumat bukan hanya pengganti shalat Dzuhur, tetapi juga sarana pembinaan umat melalui khutbah yang berisi nasihat, ilmu, dan pengingat.
Hal ini diperkuat oleh penjelasan dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi yang menegaskan bahwa khutbah merupakan bagian integral dari sahnya shalat Jumat.
Dengan demikian, shalat Jumat tidak hanya berdimensi ibadah individual, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan edukatif dalam kehidupan umat Islam.
Baca juga: Tata Cara Wudhu, Tayamum, dan Shalat di Pesawat untuk Panduan Jemaah Haji
Hingga kini, lokasi-lokasi bersejarah yang berkaitan dengan awal pelaksanaan shalat Jumat masih dapat ditemukan di Madinah.
Masjid Quba dan Masjid Al-Jumu’ah menjadi saksi bisu perjalanan dakwah Rasulullah SAW, sekaligus pengingat bahwa ibadah yang kini kita jalankan memiliki akar sejarah yang kuat.
Bagi sebagian umat Islam, mengunjungi tempat-tempat tersebut bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual untuk merasakan kembali jejak langkah Nabi.
Memahami sejarah shalat Jumat membawa kita pada satu kesadaran penting: ibadah ini lahir dari perjuangan, bukan sekadar rutinitas.
Ia hadir setelah fase panjang tekanan, hijrah, dan pembentukan masyarakat Islam yang kokoh di Madinah.
Karena itu, setiap kali azan Jumat dikumandangkan, sejatinya bukan hanya panggilan untuk berkumpul di masjid, tetapi juga ajakan untuk mengingat kembali nilai-nilai yang dibawa Rasulullah tentang kebersamaan, keimanan, dan tanggung jawab sebagai seorang muslim.
Dari sebuah lembah di Madinah, hingga jutaan masjid di seluruh dunia hari ini, shalat Jumat terus menjadi simbol hidupnya ajaran Islam yang menyatukan umat dalam satu waktu, satu arah, dan satu tujuan, yaitu mendekat kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang