Editor
KOMPAS.com - Menjelang Idul Adha 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, harga hewan kurban di Kabupaten Bantul mulai mengalami kenaikan.
Kenaikan ini dipicu keterbatasan stok di tengah tingginya permintaan masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah kurban tahun ini.
Pemerintah daerah pun melakukan pemantauan terhadap peternak dan distribusi hewan kurban. Meski demikian, harga dinilai masih dalam kondisi terkendali.
Baca juga: Harga Sapi Kurban di Sleman Mulai Merangkak Naik Jelang Idul Adha
Dilansir dari TribunJogja.com, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul mencatat adanya kenaikan harga hewan kurban pada tahun ini.
Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, menyebut kondisi tersebut dipengaruhi hukum ekonomi akibat terbatasnya ketersediaan ternak dan meningkatnya permintaan menjelang Idul Adha.
Baca juga: Pembagian Daging Kurban Berapa Kg? Ini Ketentuan Pembagian Termasuk untuk Sahibul Kurban
Kenaikan harga juga dirasakan oleh peternak. Ahmad Suwardi, peternak sapi di Kapanewon Kasihan, menyebut harga sapi saat ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
"Barang memang tidak begitu mudah didapat karena kelangkaan ketersediaan. Para petani di wilayah Kabupaten Gunungkidul itu cenderung ada rasa takut karena dulu ada gejala penyakit mulut dan kuku (PMK) dan lato-lato, sehingga barang agak langka," kata Ahmad saat ditemui wartawan di Kapanewon Kasihan, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, harga sapi yang sebelumnya sekitar Rp24 juta per ekor kini naik menjadi Rp25 juta hingga Rp26 juta per ekor.
Keterbatasan pasokan juga membuat permintaan belum sepenuhnya terpenuhi. Dari 51 ekor sapi yang tersedia di kandangnya, permintaan yang masuk telah mencapai lebih dari 60 ekor.
"Di kandang saya sementara ada 51 ekor sapi, tetapi permintaan total yang sudah tembus ke saya ada 60-an ekor sapi. Jadi nanti suplainya dari Kabupaten Gunungkidul agak pinggiran Segoro Sadeng, daerah Rongkop itu," ungkapnya.
Joko Waluyo menjelaskan, peternak di Bantul mengalami kesulitan memperoleh sapi jantan.
Hal ini disebabkan tingginya kebutuhan pemotongan harian, sementara pola peternakan di Bantul lebih berfokus pada pembibitan sapi betina.
"Banyak para pedagang itu mengambil sapi dari luar Kabupaten Bantul. Terbanyak itu dari Bali, Madura. Karena memang di Bantul, pola pemeliharaannya perbibitan. Jadi yang dipelihara sapi betina. Jadi, untuk Idul Adha ini, kita ketersediaannya banyak dari luar Kabupaten Bantul," ucapnya, kepada wartawan, saat meninjau salah satu peternak sapi di Kapanewon Kasihan, Selasa (5/5/2026).
DKPP Bantul juga melakukan pengawasan kesehatan hewan sejak April 2026 melalui seluruh Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan).
Pemeriksaan dilakukan di berbagai tempat penampungan ternak, baik kambing, domba, maupun sapi.
Hingga saat ini, tidak ditemukan hewan yang tidak layak kurban. Seluruh ternak dinyatakan sehat dan memenuhi syarat usia, sehingga Bantul dinilai aman dari penyakit hewan ternak.
"Monggo, shohibul-shohibul yang masih membutuhkan (hewan untuk kurban), silakan ke tempat-tempat penampungan ternak. Karena itu semuanya sudah diawasi oleh teman-teman dokter hewan yang ada di Kabupaten Bantul," ujar Joko.
Seiring banyaknya pasokan dari luar daerah, DKPP Bantul memberikan perlakuan tambahan berupa obat cacing dan disinfektan.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah potensi penyakit pada hewan yang pola pemeliharaannya tidak diketahui secara pasti.
"Karena ini ternak sapi yang dipelihara dari luar, kita kan enggak tahu pola pemeliharannnya. Maka, kami memberikan bantuan obat cacing maupun disinfektan. Disinfektan sebagai pembersih dan antisipasi penyakit atau bakteri," jelasnya.
Pemberian obat cacing juga menjadi langkah antisipasi, mengingat pada Idul Adha sebelumnya ditemukan kasus cacing hati pada hewan kurban.
Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Jelang "Idul Adha 2026, Stok Sapi di Bantul Terbatas dan Harga Jual Cenderung Naik".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang