Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak, Ini Prediksi BRIN, Pemerintah, NU, & Muhammadiyah

Kompas.com, 14 Mei 2026, 17:30 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hari Raya Idul Adha menjadi salah satu momen paling penting bagi umat Islam di seluruh dunia.

Selain identik dengan ibadah kurban, Idul Adha juga berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci, khususnya wukuf di Arafah yang berlangsung setiap 9 Zulhijah.

Karena menggunakan kalender Hijriah berbasis peredaran bulan, tanggal Idul Adha dalam kalender Masehi selalu berubah setiap tahun. Lalu, kapan sebenarnya Idul Adha 2026 atau 1447 Hijriah akan berlangsung di Indonesia?

Baca juga: BAZNAS dan BSI Luncurkan Layanan Bayar Kurban dan Dam Haji Digital 2026

Menariknya, prediksi awal menunjukkan Idul Adha 2026 berpotensi jatuh serentak antara pemerintah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), hingga Arab Saudi.

Jika benar terjadi, hal ini akan menjadi momentum kebersamaan umat Islam dalam merayakan hari raya kurban.

Perkiraan Idul Adha 2026 Versi Pemerintah

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) belum menetapkan secara resmi tanggal Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Penetapan resmi baru akan diputuskan melalui sidang isbat awal Zulhijah yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Mei 2026.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa masyarakat diminta menunggu hasil sidang isbat sebagai keputusan resmi pemerintah.

“Penetapan awal Zulhijah tetap menunggu hasil rukyat dan keputusan sidang isbat sebagai otoritas resmi pemerintah. Jika ditanya kapan Idul Adha, kami mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil sidang pada 17 Mei,” ujar Abu Rokhmad dikutip dari laman resmi Kemenag RI.

Dalam praktiknya, pemerintah menggunakan metode hisab dan rukyat secara bersamaan.

Hisab merupakan metode perhitungan astronomi untuk mengetahui posisi hilal atau bulan sabit muda, sedangkan rukyat dilakukan melalui pengamatan langsung hilal di berbagai titik pemantauan di Indonesia.

Meski belum diputuskan secara resmi, Kalender Hijriah Indonesia 2026 dan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional memperkirakan Idul Adha 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.

Baca juga: Sapi Suro 1,07 Ton Jadi Hewan Kurban Presiden Prabowo di Jepara pada Idul Adha 2026

BRIN Prediksi Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak

Prediksi seragamnya Idul Adha 2026 juga disampaikan Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin.

Thomas mengatakan, posisi hilal pada 17 Mei 2026 diperkirakan sudah memenuhi berbagai kriteria penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan di Indonesia maupun Arab Saudi.

“InsyaAllah Idul Adha 1447 H seragam,” kata Thomas kepada Kompas.com, Rabu (13/5/2026).

Menurut Thomas, pada saat Magrib tanggal 17 Mei 2026, posisi hilal diperkirakan cukup tinggi hampir di seluruh wilayah Indonesia dan dunia Islam.

Ia menjelaskan bahwa kriteria yang digunakan Muhammadiyah, pemerintah Indonesia melalui MABIMS, hingga kalender Ummul Qura Arab Saudi kemungkinan besar akan sama-sama terpenuhi.

“Maka, KHGT (Muhammadiyah) sama dengan Ummul Quro (Arab Saudi) sama dengan MABIMS (Pemerintah), awal Zulhijah 1447 sama dengan 18 Mei 2026, dan Idul Adha 27 Mei 2026,” ujarnya.

Prediksi tersebut membuat peluang perbedaan Idul Adha tahun depan relatif kecil dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Dalam buku Ilmu Falak Praktik karya Susiknan Azhari dijelaskan bahwa keseragaman penetapan awal bulan Hijriah biasanya terjadi ketika posisi hilal berada jauh di atas batas minimum visibilitas.

Idul Adha 2026 Versi Muhammadiyah

Berbeda dengan pemerintah yang menunggu sidang isbat, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan Idul Adha 1447 Hijriah.

Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang ditandatangani di Yogyakarta pada 22 September 2025.

Dalam maklumat itu dijelaskan bahwa:

  • 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada Senin, 18 Mei 2026
  • Hari Arafah 9 Zulhijah jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026
  • Idul Adha 10 Zulhijah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026

Muhammadiyah menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diputuskan dalam Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan tahun 2024.

Dikutip dari buku Kalender Islam Global karya Syamsul Anwar, konsep KHGT bertujuan menciptakan sistem kalender Hijriah yang lebih seragam bagi umat Islam dunia dengan pendekatan astronomi modern.

Dalam maklumat tersebut juga dijelaskan bahwa ijtimak menjelang Zulhijah terjadi pada Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 20.01.02 UTC.

Karena parameter kalender global belum terpenuhi pada hari itu, bulan Zulkaidah disempurnakan menjadi 30 hari atau istikmal.

“Di seluruh dunia tanggal 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari Senin Kliwon, 18 Mei 2026 M. Hari Arafah jatuh pada Selasa Pon, 26 Mei 2026 M. Iduladha jatuh pada Rabu Wage, 27 Mei 2026 M,” demikian bunyi maklumat Muhammadiyah.

Baca juga: 5 Larangan bagi Orang yang Berkurban saat Idul Adha, Jangan Potong Rambut hingga Jual Bagian Hewan

Kapan Idul Adha 2026 Versi NU?

Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini juga belum menetapkan secara resmi Idul Adha 2026 karena masih menunggu pelaksanaan rukyatul hilal menjelang akhir bulan Zulkaidah.

NU dikenal menggunakan pendekatan rukyat dengan metode Imkanur Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU), yang secara praktik sejalan dengan mekanisme sidang isbat pemerintah.

Meski demikian, apabila merujuk Almanak NU dan prediksi astronomi yang ada, Idul Adha 2026 diperkirakan juga jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.

Dalam buku Hisab Rukyat dan Perbedaannya karya Slamet Hambali dijelaskan bahwa metode rukyat menekankan pentingnya observasi hilal secara langsung sebagai bagian dari tradisi penentuan kalender Islam sejak masa Rasulullah SAW.

Mengapa Penetapan Idul Adha Bisa Berbeda?

Perbedaan penetapan Idul Adha biasanya dipengaruhi oleh metode yang digunakan masing-masing pihak dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Secara umum terdapat dua pendekatan utama:

  • Hisab, yaitu perhitungan astronomi
  • Rukyat, yaitu pengamatan hilal secara langsung

Pemerintah Indonesia mengombinasikan keduanya melalui mekanisme sidang isbat dan kriteria MABIMS.

Sementara Muhammadiyah lebih mengedepankan pendekatan astronomi global melalui KHGT.

Adapun NU tetap mempertahankan rukyat sebagai metode utama dengan dukungan perhitungan hisab.

Dalam buku Pengantar Ilmu Falak karya Muhyiddin Khazin dijelaskan bahwa perbedaan metode tersebut merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam dan tidak perlu menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.

Baca juga: Kementan Pastikan Stok Hewan Kurban Idul Adha 2026 Aman dan Terkendali

Makna Idul Adha dalam Islam

Idul Adha bukan sekadar hari penyembelihan hewan kurban.

Hari raya ini juga menjadi simbol ketakwaan, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah SWT sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:

فَصَلِّلِرَبِّكَوَانْحَرْ

Artinya: “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Dalam buku Rahasia Ibadah Haji dan Kurban karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan simbol pengorbanan hawa nafsu dan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, Idul Adha selalu menjadi momentum penting untuk memperkuat kepedulian sosial, berbagi kepada sesama, dan mempererat persaudaraan umat Islam.

Potensi Idul Adha 2026 Serentak

Melihat berbagai prediksi astronomi yang ada, peluang Idul Adha 2026 berlangsung serentak antara pemerintah, Muhammadiyah, NU, dan Arab Saudi dinilai cukup besar.

Jika prediksi tersebut benar terjadi, maka umat Islam Indonesia berpotensi merayakan Hari Raya Kurban secara bersama-sama pada Rabu, 27 Mei 2026.

Meski demikian, keputusan resmi pemerintah tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar menjelang masuk bulan Zulhijah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
27 Ribu Liter Air Zamzam untuk Jemaah Haji Aceh Tiba di Asrama Haji Embarkasi Aceh
27 Ribu Liter Air Zamzam untuk Jemaah Haji Aceh Tiba di Asrama Haji Embarkasi Aceh
Aktual
Jemaah Haji Embarkasi Makassar Latihan Jalan Kaki ke Jamarat Jelang Puncak Haji di Mina
Jemaah Haji Embarkasi Makassar Latihan Jalan Kaki ke Jamarat Jelang Puncak Haji di Mina
Aktual
Waspada Cuaca Ekstrem Saudi, Jemaah Haji 2026 Diminta Minum Air Tiap 10 Menit
Waspada Cuaca Ekstrem Saudi, Jemaah Haji 2026 Diminta Minum Air Tiap 10 Menit
Aktual
Saudi Hukum 48 Pelanggar Haji Ilegal, Denda Capai Rp 430 Juta
Saudi Hukum 48 Pelanggar Haji Ilegal, Denda Capai Rp 430 Juta
Aktual
Hukum Sebut Nama Orang Saat Kurban Idul Adha, Sunnah atau Riya?
Hukum Sebut Nama Orang Saat Kurban Idul Adha, Sunnah atau Riya?
Aktual
Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak, Ini Prediksi BRIN, Pemerintah, NU, & Muhammadiyah
Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak, Ini Prediksi BRIN, Pemerintah, NU, & Muhammadiyah
Aktual
Haji 2026 Siap Digelar, Saudi Andalkan AI dan 20 Ribu Masjid Disiapkan
Haji 2026 Siap Digelar, Saudi Andalkan AI dan 20 Ribu Masjid Disiapkan
Aktual
Imigrasi Sulsel Manjakan Calon Jemaah Haji dengan Layanan Eazy Passport
Imigrasi Sulsel Manjakan Calon Jemaah Haji dengan Layanan Eazy Passport
Aktual
Mendadak Pusing dan Lemas di Udara, Calon Jemaah Haji Sumenep Diinfus di Pesawat
Mendadak Pusing dan Lemas di Udara, Calon Jemaah Haji Sumenep Diinfus di Pesawat
Aktual
Kurban untuk Diri Sendiri atau Orang Tua, Mana yang Harus Didahulukan? Ini Penjelasannya
Kurban untuk Diri Sendiri atau Orang Tua, Mana yang Harus Didahulukan? Ini Penjelasannya
Aktual
Hari Tasyrik: Pengertian, Larangan Puasa, dan Amalan yang Dianjurkan dalam Islam
Hari Tasyrik: Pengertian, Larangan Puasa, dan Amalan yang Dianjurkan dalam Islam
Aktual
Rumah Hancur Diterjang Banjir Aceh, Hartati Akhirnya Bisa Berangkat Haji
Rumah Hancur Diterjang Banjir Aceh, Hartati Akhirnya Bisa Berangkat Haji
Aktual
PTKIN Perkuat Satgas & PSGA di Kampus, Korban KS Jangan Takut Melapor
PTKIN Perkuat Satgas & PSGA di Kampus, Korban KS Jangan Takut Melapor
Aktual
Persiapan Armuzna 2026: Musyrif Diny Minta Jemaah Batasi Umrah Sunnah
Persiapan Armuzna 2026: Musyrif Diny Minta Jemaah Batasi Umrah Sunnah
Aktual
Hari Tasyrik 2026 Berapa Hari? Ini Tanggal dan Amalan Sunnahnya
Hari Tasyrik 2026 Berapa Hari? Ini Tanggal dan Amalan Sunnahnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com