Editor
KOMPAS.com – Bumi Serambi Mekkah sedang memulai sebuah percakapan besar yang akan menentukan wajah masa depannya pada tahun 2045.
Melalui inisiatif International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) dan Baitul Mal Aceh, sebuah Peta Jalan Wakaf Aceh resmi disusun sebagai kompas untuk mentransformasi filantropi Islam menjadi mesin penggerak kesejahteraan yang berkelanjutan.
Dalam diskusi yang berlangsung di Banda Aceh pada 30 Juni 2026, Tatang Astarudin, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), menegaskan bahwa Aceh tidak memulai dari nol.
Dengan tradisi wakaf yang telah mengakar selama berabad-abad—mulai dari meunasah, masjid, hingga dayah—Aceh memiliki modal sosial yang luar biasa.
Baca juga: Kemenag Tegaskan Ruislag Tanah Wakaf Tak Bisa Sembarangan, Ini Syarat dan Aturannya
Namun, tantangan abad ke-21 menuntut pergeseran paradigma dari sekadar menghimpun aset menjadi menciptakan dampak nyata.
"Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan lagi berapa hektar tanah wakaf yang dimiliki, tetapi berapa banyak kehidupan yang berubah karena keberadaan aset tersebut," ujar Tatang dalam keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).
Peta Jalan ini mengadopsi semangat Peta Jalan Wakaf Nasional 2024–2029 namun disesuaikan dengan kekhasan syariat dan sosiologis Aceh.
Terdapat enam transformasi utama yang diusung:
Aceh dipandang memiliki posisi unik yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia untuk menjadi model dunia.
Modal tersebut meliputi kekuatan spiritual masyarakat, sinergi intelektual antar lembaga, kekuatan kelembagaan Baitul Mal yang sudah mapan, serta pengalaman sejarah solidaritas pasca-tsunami dan konflik.
Peta jalan ini bukan sekadar dokumen birokrasi, melainkan arsitektur perubahan.
Dengan fondasi data yang akurat dan digitalisasi, Aceh menargetkan diri menjadi pusat inovasi sosial dan ekonomi syariah.
Inovasi seperti kawasan industri halal berbasis wakaf dan asrama mahasiswa diharapkan muncul sebagai bukti nyata produktivitas wakaf.
Baca juga: BWI Sebut DPR Bisa Tinggalkan Warisan Abadi lewat Wakaf Legislator
Pada akhirnya, Aceh diproyeksikan menjadi laboratorium pembelajaran dunia Islam dalam memadukan syariat dengan tata kelola modern.
Penyusunan peta jalan ini diibaratkan seperti menanam pohon yang buahnya mungkin akan dinikmati oleh generasi mendatang.
"Setiap langkah yang dilakukan hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi yang akan datang," pungkas Tatang Astarudin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang