KOMPAS.com – Sejak berabad-abad lalu, manusia telah berusaha memahami misteri langit. Bintang, planet, dan galaksi menjadi objek pengamatan yang memicu lahirnya berbagai teori ilmiah tentang alam semesta.
Pada masa Zaman Keemasan Islam, banyak ilmuwan Muslim yang memainkan peran penting dalam pengembangan astronomi.
Salah satu tokoh yang kerap disebut dalam sejarah ilmu bintang adalah Abd al-Rahman al-Sufi, yang di Barat dikenal dengan nama Azophi.
Ia merupakan astronom Persia abad ke-10 yang menghasilkan karya penting tentang katalog bintang dan pengamatan langit.
Pengaruhnya begitu besar hingga namanya diabadikan sebagai kawah di permukaan Bulan, sebuah penghormatan yang jarang diberikan kepada ilmuwan dalam sejarah.
Abd al-Rahman al-Sufi lahir sekitar tahun 903 M di wilayah Persia, yang kini masuk dalam kawasan Iran.
Ia hidup pada masa dinasti Buyid dan diketahui pernah bekerja di istana penguasa Persia, Emir Adud al-Dawla di kota Isfahan.
Sebagai astronom istana, Al-Sufi memiliki akses terhadap berbagai manuskrip ilmiah serta fasilitas untuk melakukan pengamatan langit.
Menurut catatan yang dikutip dari buku Islamic Astronomy and the Medieval World karya sejarawan sains Edward S. Kennedy,
Al-Sufi dikenal sebagai salah satu astronom praktis terbesar pada abad pertengahan. Ia tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga melakukan observasi langsung terhadap benda-benda langit.
Penelitiannya banyak terinspirasi oleh karya astronom Yunani kuno, terutama kitab Almagest karya Claudius Ptolemy.
Namun Al-Sufi tidak sekadar menyalin karya tersebut. Ia justru melakukan koreksi dan pembaruan berdasarkan pengamatannya sendiri.
Baca juga: 3 Ilmuwan Islam Iran yang Mengubah Sejarah Ilmu Pengetahuan Dunia
Salah satu pencapaian paling terkenal Al-Sufi adalah pengamatannya terhadap objek langit yang kini dikenal sebagai Galaksi Andromeda.
Dalam bukunya, ia menggambarkan sebuah objek samar di langit yang tampak seperti “awan kecil”. Objek tersebut kemudian diketahui sebagai Andromeda Galaxy.
Pengamatan itu dicatat sekitar tahun 964 M, jauh sebelum teleskop ditemukan.
Menurut catatan dari European Southern Observatory, deskripsi yang dibuat Al-Sufi merupakan catatan tertua tentang Galaksi Andromeda dalam sejarah astronomi.
Baru sekitar enam abad kemudian, objek tersebut kembali dicatat oleh astronom Eropa, Simon Marius pada tahun 1612 menggunakan teleskop.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengamatan astronom Muslim telah lebih dahulu mengenali objek langit penting jauh sebelum perkembangan astronomi modern di Eropa.
Karya terbesar Al-Sufi adalah kitab astronomi berjudul Book of Fixed Stars yang ditulis pada tahun 964 M.
Dalam buku tersebut, ia menyusun katalog bintang lengkap dengan deskripsi dan ilustrasi rasi bintang. Karya ini menjadi salah satu katalog bintang paling penting pada abad pertengahan.
Buku itu memuat beberapa hal penting, antara lain:
Dalam buku A History of Astronomy karya A. Pannekoek disebutkan bahwa karya Al-Sufi merupakan salah satu sumber astronomi paling akurat sebelum era teleskop.
Ia bahkan mencatat beberapa objek langit seperti:
Selain itu, Al-Sufi juga mencatat objek langit yang kini dikenal sebagai Large Magellanic Cloud, yang dalam tradisi Arab Selatan ia sebut sebagai Al Bakr atau “Banteng Putih”.
Baca juga: Al-Battani, Ilmuwan Muslim yang Menentukan Jumlah Hari dalam Setahun
Salah satu kontribusi unik Al-Sufi dalam astronomi adalah kemampuannya menggabungkan dua tradisi ilmiah yang berbeda.
Ia menyelaraskan nama rasi bintang Yunani yang digunakan oleh Ptolemy dengan penamaan bintang dalam tradisi Arab.
Menurut buku Islamic Science and the Making of the European Renaissance karya George Saliba, usaha tersebut sangat penting karena membantu mempertahankan dan mengembangkan ilmu astronomi klasik dalam dunia Islam.
Tanpa proses adaptasi seperti ini, banyak pengetahuan Yunani mungkin tidak akan bertahan hingga masa modern.
Sebagai penghormatan atas kontribusinya terhadap astronomi, nama Al-Sufi diabadikan menjadi sebuah kawah di Bulan bernama Azophi crater.
Kawah ini memiliki diameter sekitar 47 kilometer dan terletak pada koordinat sekitar 22,1° lintang selatan dan 12,7° bujur timur.
Pemberian nama tersebut merupakan bentuk penghargaan komunitas astronomi dunia terhadap kontribusi ilmuwan Muslim dalam sejarah pengamatan langit.
Baca juga: Jejak Kerajaan Nabi Sulaiman Mulai Terungkap? Temuan Arkeologi Ini Bikin Ilmuwan Terkejut
Lebih dari seribu tahun setelah masa hidupnya, karya-karya Al-Sufi masih dipelajari oleh sejarawan sains dan astronom modern.
Pengamatannya terhadap bintang dan galaksi menunjukkan bahwa tradisi ilmiah dalam peradaban Islam memiliki standar observasi yang tinggi.
Dalam buku Stars and Galaxies in the Medieval Islamic World, sejarawan sains David A. King menegaskan bahwa katalog bintang Al-Sufi menjadi salah satu referensi penting bagi perkembangan astronomi di Timur Tengah maupun Eropa.
Warisan tersebut membuktikan bahwa pencarian manusia terhadap misteri alam semesta telah melibatkan banyak peradaban, termasuk kontribusi besar dari ilmuwan Muslim.
Melalui pengamatan sederhana terhadap langit malam, Azophi telah meninggalkan jejak ilmiah yang tidak hanya tercatat dalam buku-buku astronomi, tetapi juga terukir di permukaan Bulan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang