Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Generasi “Side Hustle” Saudi: Kerja Kantoran Tak Lagi Cukup, Anak Muda Kejar Passion dan Cuan Sekaligus

Kompas.com, 4 April 2026, 07:43 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Arab News

KOMPAS.com — Tren baru tengah mengubah wajah dunia kerja di Arab Saudi. Semakin banyak anak muda profesional kini tidak lagi bergantung pada satu pekerjaan, melainkan membangun “side hustle” atau pekerjaan sampingan yang berjalan paralel dengan karier utama mereka.

Mulai dari bisnis online, desain freelance, produksi kreatif, hingga kerja paruh waktu di kafe—fenomena ini menjadi gaya hidup baru generasi usia 20–30-an.

Perubahan ini mencerminkan pergeseran besar dalam cara generasi muda memandang pekerjaan, identitas, dan sumber penghasilan. Jika dulu stabilitas identik dengan satu pekerjaan tetap, kini diversifikasi justru menjadi pilihan utama.

Data dari otoritas statistik Saudi menunjukkan aktivitas freelance dan kerja mandiri meningkat dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh kemajuan platform digital.

Baca juga: Fantastis! 89 Juta Orang Kunjungi Arab Saudi untuk Hiburan Selama 2025

Laporan McKinsey & Company (2023) juga menegaskan bahwa generasi muda di kawasan ini semakin menggabungkan berbagai peran, alih-alih bergantung pada satu profesi.

Bagi Faisal Al-Harbi (28), seorang eksekutif pemasaran di Riyadh, side hustle bukan sekadar tambahan penghasilan.

“Pekerjaan utama memberi saya struktur, tapi tidak selalu memberi rasa memiliki. Side project saya justru jadi ruang bereksperimen dan merasa kreatif,” ujarnya dikutip Arab News.

Fenomena ini juga didorong oleh kemudahan teknologi. Kini, siapa pun bisa memulai usaha tanpa modal besar—desainer tak perlu agensi, fotografer bisa cari klien online, bahkan penjual kue tak harus punya toko fisik.

Riset Harvard Business Review menemukan bahwa generasi muda kini lebih memprioritaskan otonomi dan makna kerja dibanding sekadar stabilitas.

Di Arab Saudi, tren ini juga selaras dengan visi besar negara, yakni Vision 2030, yang mendorong kewirausahaan dan pertumbuhan sektor swasta.

Tantangan "Side Hustle"

Namun, di balik peluang, ada tantangan.

Menjalani dua peran sekaligus menuntut disiplin tinggi. Waktu istirahat sering tergerus, bahkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.

Layan Al-Qahtani, arsitek di Jeddah yang juga seniman keramik, mengakui hal tersebut.

“Kadang setelah kerja utama, saya langsung lanjut ke pekerjaan kedua. Melelahkan, tapi ini pilihan saya. Lelahnya terasa lebih bermakna,” katanya.

Para ekonom mengingatkan, tren ini juga punya sisi risiko. Studi International Labour Organization (2022) menyebut kerja freelance memberi fleksibilitas, namun juga berpotensi menghadirkan ketidakstabilan pendapatan.

Meski begitu, di Saudi, sebagian besar side hustle justru melengkapi pekerjaan utama, bukan menggantikannya—sehingga risiko finansial tetap terkendali.

Menariknya, persepsi tentang kerja pun berubah. Jika dulu punya banyak pekerjaan dianggap tidak fokus, kini justru dipandang sebagai ambisi dan kreativitas.

Bagi Mohammed Al-Dossary (24), barista sekaligus desainer grafis, dua pekerjaan bukanlah beban.

“Ini bukan dua pekerjaan. Ini dua sisi identitas saya. Yang satu membayar kebutuhan, yang lain membangun masa depan,” ujarnya.

Fenomena ini juga semakin terlihat di media sosial, di mana anak muda Saudi berbagi perjalanan side hustle mereka, membangun komunitas, bahkan menciptakan personal branding.

Dampaknya mulai terasa pada ekonomi. Banyak usaha kecil bermula dari proyek sampingan, lalu berkembang menjadi bisnis nyata yang menciptakan nilai baru.

Baca juga: Layanan Haji Makin Canggih: Arab Saudi Perkuat Digitalisasi hingga AI untuk Kenyamanan Jemaah

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah generasi side hustle akan terus tumbuh, melainkan bagaimana mereka akan membentuk masa depan tenaga kerja Saudi.

Di tengah transformasi besar menuju Vision 2030, satu hal menjadi jelas: bagi generasi muda Saudi, kerja 9-to-5 bukan lagi tujuan akhir—melainkan hanya titik awal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Jelang Muktamar NU ke-35, Syuriyah PCNU Lampung Desak Calon Ketua Umum PBNU Bebas Jabatan Politik
Jelang Muktamar NU ke-35, Syuriyah PCNU Lampung Desak Calon Ketua Umum PBNU Bebas Jabatan Politik
Aktual
PCNU Toraja Utara Siap Ikuti Muktamar NU ke-35, Pastikan Administrasi Rampung
PCNU Toraja Utara Siap Ikuti Muktamar NU ke-35, Pastikan Administrasi Rampung
Aktual
Pemkab Jombang Siap Dukung Penuh Muktamar NU ke-35 di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas
Pemkab Jombang Siap Dukung Penuh Muktamar NU ke-35 di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas
Aktual
Kemenag Susun Materi Pendidikan Cegah Budaya LGBT Sesuai Perpres 111/2025
Kemenag Susun Materi Pendidikan Cegah Budaya LGBT Sesuai Perpres 111/2025
Aktual
Kemenkeu Setujui Tambahan Anggaran Tunjangan Guru-Dosen Kemenag Rp 5,7 T
Kemenkeu Setujui Tambahan Anggaran Tunjangan Guru-Dosen Kemenag Rp 5,7 T
Aktual
MUI Tolak Sertifikasi Halal Croissant Pattaya: Visual Vulgar Jadi Alasan
MUI Tolak Sertifikasi Halal Croissant Pattaya: Visual Vulgar Jadi Alasan
Aktual
MUI Ternyata Sudah Keluarkan Fatwa Hukuman Mati Koruptor Sejak 2005
MUI Ternyata Sudah Keluarkan Fatwa Hukuman Mati Koruptor Sejak 2005
Aktual
Museum Al-Qur'an di Makkah Ungkap Media Penulisan Wahyu pada Zaman Nabi Muhammad
Museum Al-Qur'an di Makkah Ungkap Media Penulisan Wahyu pada Zaman Nabi Muhammad
Aktual
Ketum Muhammadiyah Sebut Korupsi di Indonesia Sudah Gawat Darurat
Ketum Muhammadiyah Sebut Korupsi di Indonesia Sudah Gawat Darurat
Aktual
Keteladanan Syekh Izzuddin, Ulama yang Melawan Nepotisme dan Berani Kritik Penguasa
Keteladanan Syekh Izzuddin, Ulama yang Melawan Nepotisme dan Berani Kritik Penguasa
Aktual
Menag ke 119 Guru Besar Baru: Jangan Berhenti pada Gelar, Hadirkan Dampak bagi Bangsa
Menag ke 119 Guru Besar Baru: Jangan Berhenti pada Gelar, Hadirkan Dampak bagi Bangsa
Aktual
PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak Langsung, Dinilai Bisa Dongkrak Kepatuhan dan Kurangi Kemiskinan
PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak Langsung, Dinilai Bisa Dongkrak Kepatuhan dan Kurangi Kemiskinan
Aktual
GP Ansor Apresiasi Kunjungan Kapolri ke Mabes TNI dan Kejaksaan Agung
GP Ansor Apresiasi Kunjungan Kapolri ke Mabes TNI dan Kejaksaan Agung
Aktual
5 Hadits tentang Larangan LGBT dalam Islam, Lengkap dengan Penjelasan Ulama
5 Hadits tentang Larangan LGBT dalam Islam, Lengkap dengan Penjelasan Ulama
Aktual
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Salam Safari ke 22 Wilayah untuk Serap Aspirasi
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Salam Safari ke 22 Wilayah untuk Serap Aspirasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar