Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Shalat Jumat Pertama di Lembah? Ini Kisah Wadi Ranuna

Kompas.com, 23 April 2026, 15:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Banyak orang mengira shalat Jumat pertama dalam Islam dilaksanakan di sebuah masjid megah seperti yang kita lihat hari ini.

Namun fakta sejarah menunjukkan hal yang berbeda. Ibadah penting itu justru pertama kali didirikan di sebuah lembah terbuka, jauh dari bangunan permanen, tepatnya di Wadi Ranuna.

Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bagian penting dari perjalanan dakwah Nabi Muhammad saat hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Lantas, bagaimana kisah lengkapnya?

Baca juga: Kapan Shalat Jumat Pertama Kali Dilaksanakan? Berawal dari Hijrah Nabi

Dari Yatsrib ke Madinah: Awal Perubahan Besar

Sebelum dikenal sebagai Madinah, kota ini bernama Yatsrib. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Madinah al-Munawwarah setelah Rasulullah SAW hijrah pada tahun 622 M, sebuah peristiwa besar yang dikenal sebagai Hijrah Nabi Muhammad.

Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga titik awal terbentuknya masyarakat Islam yang lebih terorganisir. Di kota inilah berbagai ajaran Islam mulai dijalankan secara terbuka, termasuk shalat Jumat.

Dalam berbagai literatur sejarah, seperti Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, dijelaskan bahwa fase Madinah menjadi momentum penting dalam pembentukan sistem sosial dan ibadah umat Islam.

Masjid Quba: Awal, Tapi Bukan Tempat Jumat Pertama

Sesampainya di pinggiran Madinah, Rasulullah SAW terlebih dahulu singgah di kawasan Quba dan membangun Masjid Quba, yang dikenal sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam.

Keutamaan masjid ini bahkan disebut dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah At-Taubah ayat 108, sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa.

Namun, meskipun menjadi masjid pertama, shalat Jumat belum dilaksanakan di tempat ini.

Wadi Ranuna: Lembah yang Menjadi Saksi Sejarah

Perjalanan Nabi kemudian berlanjut menuju pusat kota Madinah. Di tengah perjalanan, rombongan tiba di sebuah lembah milik Bani Sulaim, yaitu Wadi Ranuna.

Saat itu, waktu telah memasuki hari Jumat dan mendekati waktu Dzuhur. Rasulullah SAW pun mengajak para sahabat dan kaum Muslimin yang menyertai beliau untuk melaksanakan shalat Jumat di tempat tersebut.

Di sinilah, untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, shalat Jumat didirikan secara berjamaah lengkap dengan khutbah.

Dalam buku Nur al-Yaqin karya Muhammad Khudri Bek, disebutkan bahwa peristiwa ini menjadi tonggak awal pelaksanaan shalat Jumat secara formal dalam komunitas Muslim.

Baca juga: 3 Kali Tinggalkan Shalat Jumat, Benarkah Jadi Kafir? Ini Peringatan Rasulullah

Mengapa di Lembah, Bukan di Masjid?

Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa shalat Jumat pertama tidak dilakukan di masjid?

Jawabannya berkaitan dengan kondisi saat itu. Rasulullah SAW masih dalam perjalanan hijrah, dan belum menetap secara permanen di Madinah. Selain itu, fasilitas masjid yang memadai belum tersedia di lokasi tersebut.

Dalam konteks ini, pelaksanaan shalat Jumat di lembah menunjukkan fleksibilitas Islam dalam ibadah, selama rukun dan syaratnya terpenuhi.

Pendapat ini juga diperkuat dalam berbagai kitab fikih, seperti Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq, yang menjelaskan bahwa shalat Jumat dapat dilaksanakan di tempat terbuka selama memenuhi ketentuan syariat.

Jumlah Jamaah dan Ukuran Awal Masjid Jumat

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa jumlah jamaah yang mengikuti shalat Jumat pertama tersebut mencapai sekitar 100 orang.

Lokasi itu kemudian diabadikan dengan dibangunnya sebuah masjid kecil yang kini dikenal sebagai Masjid Al-Jumu'ah.

Menurut catatan dalam Buku Pintar Haji dan Umrah karya Iwan Gayo, ukuran awal masjid ini relatif kecil, sekitar 7 x 5,5 meter. Meski sederhana, tempat ini memiliki nilai sejarah yang sangat besar.

Mengapa Tidak Dilaksanakan di Makkah?

Sebelum hijrah, umat Islam sebenarnya telah menerima perintah shalat Jumat. Namun pelaksanaannya di Makkah belum memungkinkan.

Tekanan dari kaum Quraisy membuat umat Islam tidak memiliki kebebasan untuk berkumpul secara terbuka.

Hal ini dijelaskan dalam tafsir karya Ibnu Katsir, yang menyebutkan bahwa kondisi sosial-politik saat itu belum mendukung pelaksanaan ibadah berjamaah dalam skala besar.

Baru setelah hijrah ke Madinah, umat Islam memiliki ruang untuk menjalankan ajaran agama secara lebih sempurna.

Baca juga: 7 Sunnah Sebelum Shalat Jumat yang Sering Terlewat, Ini Dalilnya

Khutbah Pertama: Pesan yang Tetap Relevan

Shalat Jumat pertama itu tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga diiringi khutbah Rasulullah SAW yang berisi pesan moral dan spiritual.

Dalam riwayat yang dinukil dari berbagai sumber klasik, khutbah tersebut menekankan pentingnya amal kebaikan, tanggung jawab manusia di hadapan Allah, serta urgensi menjaga hubungan sosial.

Pesan ini menjadi fondasi dari fungsi khutbah Jumat yang kita kenal hingga hari ini, bukan sekadar formalitas, tetapi sarana pembinaan umat.

Jejak yang Kerap Terlupakan

Meski memiliki nilai sejarah tinggi, Masjid Al-Jumu'ah tidak sepopuler Masjid Nabawi atau Masjid Quba.

Banyak jemaah yang datang ke Madinah tidak menyadari bahwa di tempat sederhana inilah shalat Jumat pertama kali dilaksanakan.

Dalam buku Al-Amakin al-Masyhurah fi Hayati Muhammad SAW karya Hanafi al-Mahlawi, disebutkan bahwa lokasi ini merupakan salah satu titik penting dalam perjalanan dakwah Nabi yang seharusnya lebih dikenal oleh umat Islam.

Dari Lembah ke Seluruh Dunia

Apa yang dimulai di sebuah lembah sederhana kini telah menjadi ibadah mingguan yang dilaksanakan oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia.

Dari Wadi Ranuna, shalat Jumat berkembang menjadi simbol persatuan, pengingat spiritual, dan sarana pendidikan umat.

Peristiwa ini mengajarkan satu hal penting bahwa esensi ibadah tidak terletak pada kemegahan tempat, tetapi pada keikhlasan dan ketaatan.

Dan mungkin, justru karena dimulai dari tempat yang sederhana, shalat Jumat menjadi ibadah yang begitu membumi, dekat dengan kehidupan, namun tetap sarat makna.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Cerita di Balik Air Mata Jamaah Haji yang Pecah di Tanah Suci, Bahagia dan Haru Bercampur Jadi Satu
Cerita di Balik Air Mata Jamaah Haji yang Pecah di Tanah Suci, Bahagia dan Haru Bercampur Jadi Satu
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Makna Bersyukur, Sabar, Meminta Maaf, dan Memaafkan
Khutbah Jumat 24 April 2026: Makna Bersyukur, Sabar, Meminta Maaf, dan Memaafkan
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Sikap Optimis dan Tawakal Saat Menghadapi Musibah
Khutbah Jumat 24 April 2026: Sikap Optimis dan Tawakal Saat Menghadapi Musibah
Aktual
Mengenal Bulan Zulkaidah: Peristiwa Penting dan Amalan Utama yang Bisa Dilakukan
Mengenal Bulan Zulkaidah: Peristiwa Penting dan Amalan Utama yang Bisa Dilakukan
Aktual
Perbedaan Waktu Arab Saudi dan Indonesia, Cek Sebelum Menghubungi Keluarga di Tanah Suci
Perbedaan Waktu Arab Saudi dan Indonesia, Cek Sebelum Menghubungi Keluarga di Tanah Suci
Aktual
Shalawat Badar Sambut Jamaah Haji Kloter Pertama di Madinah, Hangat dan Penuh Suka Cita
Shalawat Badar Sambut Jamaah Haji Kloter Pertama di Madinah, Hangat dan Penuh Suka Cita
Aktual
Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara
Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara
Aktual
Tradisi Keberangkatan Haji di Lombok Timur, Rogoh Kocek untuk Hias Rumah Demi Ungkapan Rasa Syukur
Tradisi Keberangkatan Haji di Lombok Timur, Rogoh Kocek untuk Hias Rumah Demi Ungkapan Rasa Syukur
Aktual
5.997 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Hotel Hanya 50 Meter dari Masjid Nabawi
5.997 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Hotel Hanya 50 Meter dari Masjid Nabawi
Aktual
Nenek di Bojonegoro Jadi Korban Penipuan Berkedok Berangkat Haji, Emas 34 Gram Raib
Nenek di Bojonegoro Jadi Korban Penipuan Berkedok Berangkat Haji, Emas 34 Gram Raib
Aktual
PPIH Solo Jelaskan Alur Layanan Jemaah Haji 2026 di Asrama Donohudan, Kini Dilayani Satu Pintu
PPIH Solo Jelaskan Alur Layanan Jemaah Haji 2026 di Asrama Donohudan, Kini Dilayani Satu Pintu
Aktual
5 dari 10 Jemaah Haji Embarkasi Solo yang Tertunda Berangkat Karena Sakit Sudah Pulih dan Siap Terbang
5 dari 10 Jemaah Haji Embarkasi Solo yang Tertunda Berangkat Karena Sakit Sudah Pulih dan Siap Terbang
Aktual
Hampir 6.000 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Diingatkan Waspada Cuaca Panas
Hampir 6.000 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Diingatkan Waspada Cuaca Panas
Aktual
Menhaj Lepas 200 Petugas Haji ke Makkah, Tekankan Layanan Maksimal untuk Jemaah
Menhaj Lepas 200 Petugas Haji ke Makkah, Tekankan Layanan Maksimal untuk Jemaah
Aktual
Kurban 7 Kambing vs 1 Sapi, Mana Lebih Besar Pahalanya? Ini Kata Ulama
Kurban 7 Kambing vs 1 Sapi, Mana Lebih Besar Pahalanya? Ini Kata Ulama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com