Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keluh Kesah Pedagang dan Peternak Sapi Bali, Ongkos Kirim dan Perizinan Lebih Besar dari Perawatan

Kompas.com, 14 Mei 2026, 13:28 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, distribusi hewan kurban dari Bali ke Jakarta dikeluhkan para pedagang dan peternak sapi.

Tingginya biaya pengiriman dan perizinan disebut membuat harga sapi kurban semakin mahal, bahkan melebihi biaya perawatan ternak selama setahun.

Kondisi ini juga memicu hambatan suplai sapi Bali ke Jakarta akibat persoalan kuota dan administrasi distribusi.

Baca juga: Harga Sapi Kurban 2026 Naik? Ini Rincian, Syarat, dan Tips Memilihnya

Para pelaku usaha peternakan berharap pemerintah dapat memberikan keringanan biaya agar harga hewan kurban tetap terjangkau dan peternak tidak terus merugi.

Pedagang Keluhkan Biaya Perizinan dan Pengiriman Sapi Kurban

Bengaji Ikam, pendiri KandangTernak.id, mengaku resah dengan tingginya biaya mendatangkan sapi kurban dari Bali ke Jakarta.

Baca juga: Harga Sapi Kurban di Trenggalek Naik Jelang Idul Adha 2026, Dipicu Dampak PMK

Saat ditemui di kawasan Ujung Menteng, Cakung, Jakarta Timur, Rabu (13/5/2026), Ikam mengatakan persoalan utama bukan pada penjualan, melainkan proses birokrasi dan ongkos distribusi yang dinilai sudah tidak masuk akal secara ekonomi.

“Salah satunya ini ada Pak Made. Dia bawa 25 ekor sapi kesini, biaya pengirimannya dan perizinannya sangat mahal,” ucap Bengaji Ikam.

Biaya Pengiriman Disebut Lebih Mahal dari Perawatan Sapi

Menurut Ikam, kondisi tersebut sangat memberatkan petani dan peternak sapi Bali. Salah satunya dialami Pak Made yang selama satu tahun merawat sapi dengan pakan terbaik agar layak dijadikan hewan kurban berkualitas.

Namun, biaya yang dikeluarkan untuk distribusi justru jauh lebih besar dibandingkan biaya perawatan ternak.

“Biaya perawatannya itu sekitar Rp4 juta setahun. Tapi biaya pengirimannya jauh lebih besar dari biaya perawatan,” ungkap Made.

Ikam menjelaskan, ongkos pengiriman satu ekor sapi dari Bali ke Jakarta mencapai Rp 3,7 juta.

Jika ditambah biaya administrasi dan perizinan, total pengeluaran bisa menyentuh Rp 5 juta per ekor.

Angka tersebut dinilai timpang karena hampir menyamai seperempat modal pembelian sapi sebelum dijual ke konsumen.

Distribusi Sapi Bali ke Jakarta Terkendala Kuota

Selain biaya, distribusi sapi Bali tahun ini juga disebut terganggu persoalan kuota dan administrasi pengiriman.

Ikam mengungkapkan kuota awal pengiriman sapi dari Bali ke Jakarta disepakati sebanyak 50.000 ekor, kemudian ditambah 3.000 ekor pada akhir April 2026.

Namun, jumlah sapi yang benar-benar keluar dari Bali disebut belum memenuhi angka tersebut.

“Sepertinya ada yang menahan surat. Dari 250 ekor sapi yang saya datangkan, baru 100 ekor yang sampai karena masalah perizinan ini,” tutur Ikam.

Hambatan distribusi ini membuat suplai sapi Bali ke Jakarta tersendat menjelang Idul Adha.

Padahal, sapi ras Bali selama ini dikenal sebagai pilihan hewan kurban yang lebih ekonomis di masyarakat.

Harga Sapi Kurban Dinilai Tak Lagi Ekonomis

Sebagai supplier sapi Bali sejak 2015, Ikam menilai sistem distribusi dan biaya perizinan saat ini tidak berpihak kepada peternak kecil di daerah.

Dengan harga pasar sapi sekitar Rp60.000 per kilogram, modal untuk sapi berbobot 300 kilogram sudah mencapai lebih dari Rp20 juta.

Jika ditambah biaya logistik dan perizinan sebesar Rp5 juta, harga jual sapi otomatis meningkat di tingkat konsumen.

Di sisi lain, keuntungan yang diterima petani justru semakin kecil karena sebagian besar biaya habis untuk distribusi dan administrasi.

“Yang tadinya sapi Bali itu ekonomis jadi tidak ekonomis karena harga perizinan ini,” tegasnya.

Peternak Berharap Ada Keringanan Biaya

Di tengah tingginya permintaan hewan kurban setiap tahun, Ikam berharap pemerintah dapat memberikan solusi berupa keringanan biaya perizinan dan sistem harga yang lebih adil bagi peternak.

Menurutnya, Idul Adha seharusnya menjadi momen keberkahan tidak hanya bagi pembeli hewan kurban, tetapi juga bagi peternak yang selama ini bekerja merawat ternak di daerah.

Keluhan pedagang dan peternak sapi Bali ini juga menjadi gambaran panjangnya rantai distribusi hewan kurban yang belum tentu menguntungkan pelaku usaha kecil di sektor peternakan.

Jika persoalan biaya dan distribusi tidak segera dibenahi, harga hewan kurban dikhawatirkan akan terus meningkat di tingkat konsumen, sementara keuntungan peternak tetap minim.

Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul "Jeritan Hati Penjual Kurban: Biaya Kirim dan Izin Lebih Besar dari Perawatan, Bikin Harga Sapi Mahal".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Imigrasi Sulsel Manjakan Calon Jemaah Haji dengan Layanan Eazy Passport
Imigrasi Sulsel Manjakan Calon Jemaah Haji dengan Layanan Eazy Passport
Aktual
Mendadak Pusing dan Lemas di Udara, Calon Jemaah Haji Sumenep Diinfus di Pesawat
Mendadak Pusing dan Lemas di Udara, Calon Jemaah Haji Sumenep Diinfus di Pesawat
Aktual
Kurban untuk Diri Sendiri atau Orang Tua, Mana yang Harus Didahulukan? Ini Penjelasannya
Kurban untuk Diri Sendiri atau Orang Tua, Mana yang Harus Didahulukan? Ini Penjelasannya
Aktual
Hari Tasyrik: Pengertian, Larangan Puasa, dan Amalan yang Dianjurkan dalam Islam
Hari Tasyrik: Pengertian, Larangan Puasa, dan Amalan yang Dianjurkan dalam Islam
Aktual
Rumah Hancur Diterjang Banjir Aceh, Hartati Akhirnya Bisa Berangkat Haji
Rumah Hancur Diterjang Banjir Aceh, Hartati Akhirnya Bisa Berangkat Haji
Aktual
PTKIN Perkuat Satgas & PSGA di Kampus, Korban KS Jangan Takut Melapor
PTKIN Perkuat Satgas & PSGA di Kampus, Korban KS Jangan Takut Melapor
Aktual
Persiapan Armuzna 2026: Musyrif Diny Minta Jemaah Batasi Umrah Sunnah
Persiapan Armuzna 2026: Musyrif Diny Minta Jemaah Batasi Umrah Sunnah
Aktual
Hari Tasyrik 2026 Berapa Hari? Ini Tanggal dan Amalan Sunnahnya
Hari Tasyrik 2026 Berapa Hari? Ini Tanggal dan Amalan Sunnahnya
Aktual
Sapi Suro 1,07 Ton Jadi Hewan Kurban Presiden Prabowo di Jepara pada Idul Adha 2026
Sapi Suro 1,07 Ton Jadi Hewan Kurban Presiden Prabowo di Jepara pada Idul Adha 2026
Aktual
Keluh Kesah Pedagang dan Peternak Sapi Bali, Ongkos Kirim dan Perizinan Lebih Besar dari Perawatan
Keluh Kesah Pedagang dan Peternak Sapi Bali, Ongkos Kirim dan Perizinan Lebih Besar dari Perawatan
Aktual
Madinah Siapkan Pusat Cuci Darah 24 Jam untuk Jemaah Haji 2026
Madinah Siapkan Pusat Cuci Darah 24 Jam untuk Jemaah Haji 2026
Aktual
5 Larangan bagi Orang yang Berkurban saat Idul Adha, Jangan Potong Rambut hingga Jual Bagian Hewan
5 Larangan bagi Orang yang Berkurban saat Idul Adha, Jangan Potong Rambut hingga Jual Bagian Hewan
Aktual
Hukum Mabit di Muzdalifah dan Mina, Apakah Wajib saat Haji?
Hukum Mabit di Muzdalifah dan Mina, Apakah Wajib saat Haji?
Aktual
Menag Ucapkan Selamat Kenaikan Yesus Kristus 2026, Ajak Jaga Kerukunan
Menag Ucapkan Selamat Kenaikan Yesus Kristus 2026, Ajak Jaga Kerukunan
Aktual
Kemenag Resmi Cabut Izin Ponpes Ndolo Kusumo Imbas Kasus Kekerasan Seksual
Kemenag Resmi Cabut Izin Ponpes Ndolo Kusumo Imbas Kasus Kekerasan Seksual
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com