Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak Sejarah Aceh di Balik Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi

Kompas.com, 22 Mei 2026, 12:30 WIB
Add on Google
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi

Makkah, KOMPAS.com - Rencana pembangunan Kampung Haji di Makkah sebagai kawasan terpadu bagi jemaah Indonesia terus dimatangkan. Di balik rencana ini, rupanya inisiasi tersebut terinspirasi dari jejak sejarah Aceh sejak lebih dari dua abad silam.

Kisah ini berpusat pada sosok dermawan bernama Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi, atau yang lebih dikenal sebagai Habib Bugak Asyi.

Pada tahun 1224 Hijriah (1809 Masehi), di hadapan Hakim Mahkamah Syariah Makkah, ia mengikrarkan sebuah wakaf bersejarah, yaitu Wakaf Baitul Asyi, yang manfaat finansialnya masih terus mengalir dan dirasakan oleh jemaah haji asal Aceh hingga detik ini.

“Jadi Pak Prabowo menginisiasi Kampung Haji itu salah satu inspirasinya adalah apa yang dilakukan oleh Habib Bugak,” ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, Kamis (21/5/2026).

Baca juga: Rumah Hancur Diterjang Banjir Aceh, Hartati Akhirnya Bisa Berangkat Haji

Hal ini terungkap ketika Wamenhaj melakukan kunjungan ke Hotel Burj Al Wahda Almutamayiz di Sektor 6 Makkah pada Kamis malam hingga Jumat. Kedatangannya disambut hangat oleh Imam Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Abu Paya Pasi, beserta belasan ribu jemaah.

Hotel megah tersebut menjadi 'rumah sementara' bagi 53 kelompok terbang (kloter) yang terdiri dari lebih dari 11 ribu jemaah. Secara rincian, penghuni hotel ini berasal dari dua titik keberangkatan utama, yakni Embarkasi Aceh (BJT) dan Embarkasi Medan (KNO).

Di hadapan para jemaah, Dahnil yang juga putra kelahiran Tamiang, Aceh, menyampaikan kekagumannya atas kelestarian wakaf yang dijaga ketat oleh Kerajaan Arab Saudi tersebut.

“Habib Bugak telah lebih dari 200 tahun memberikan teladan bantuan yang terus memberi manfaat bagi warga Aceh,” ujarnya.

Baca juga: Tradisi Peusijuek Antar Jemaah Haji Asal Aceh besar Sebelum Berangkat ke Tanah Suci

Kontribusi Aceh bagi perhajian dan republik tidak hanya berhenti pada Wakaf Baitul Asyi. Keberadaan replika pesawat di Asrama Haji Aceh menjadi pengingat tentang sejarah kemerdekaan Indonesia.

Pesawat Seulawah, yang dibeli dari hasil patungan emas dan harta rakyat Aceh pada Juni 1948, merupakan embrio dari maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia.

“Jadi Aceh juga punya sejarah panjang buat perhajian Indonesia,” sebut Dahnil.

Secara geografis, Aceh adalah provinsi terdekat dengan Arab Saudi. Pada masa lampau, wilayah ini menjadi titik embarkasi pertama sekaligus tempat transit bagi jemaah haji Nusantara sebelum bertolak ke Tanah Suci.

“Makanya Aceh disebut serambi Makkah karena terdekat itu adalah dari Aceh,” ungkapnya.

Baca juga: Jamaah Haji Aceh Terima Dana Wakaf Baitul Asyi Rp 9,3 Juta per Orang

Dahnil juga menyoroti kegigihan dan semangat luar biasa jemaah asal Aceh. Meski wilayah mereka baru saja dilanda musibah, hal tersebut tidak menyurutkan niat suci mereka untuk menyempurnakan Rukun Islam kelima.

“Kami sempat ragu pelunasan haji dari Aceh itu akan turun. Tapi ternyata salah satu pelunasan Haji yang relatif cepat itu adalah Aceh," tambahnya.

Bagi masyarakat Aceh, menunaikan ibadah haji lebih dari sekadar perjalanan spiritual. Ada nilai-nilai yang terjalin erat dengan identitas mereka.

“Jadi sebenarnya dalam konteks haji bagi rakyat Aceh itu seperti kebanggaan, kehormatan, martabat dan penyempurnalah dalam berislam,” jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com