Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Singgih Tri Sulistiyono
Guru Besar Sejarah Maritim Universitas Diponegoro

Guru Besar Sejarah Maritim pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dan anggota Editor Umum penulisan kembali Sejarah Indonesia

Transformasi Kultural Pelayanan Haji Indonesia

Kompas.com, 5 Juni 2026, 07:35 WIB
Add on Google
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PEMBENTUKAN Kementerian Haji dan Umrah di bawah kepemimpinan Menteri Haji dan Umrah Dr KH Mochamad Irfan Yusuf menandai babak baru dalam tata kelola perhajian Indonesia.

Namun, perubahan kelembagaan semata tidak akan berarti banyak jika tidak diikuti perubahan budaya kerja dan karakter sumber daya manusia yang menjalankannya.

Sejarah menunjukkan bahwa organisasi tidak berubah hanya karena berganti struktur, melainkan karena lahirnya cara berpikir, etos kerja, dan budaya pelayanan yang baru.

Karena itu, transformasi yang sedang berlangsung di Kementerian Haji dan Umrah pada hakikatnya bukan hanya transformasi institusi, tetapi juga transformasi manusia yang berada di balik institusi tersebut.

Dalam kerangka kepemimpinan Menteri Haji dan Umrah Dr KH Irvan Yusuf, pembangunan kultur organisasi menjadi salah satu agenda penting.

Di sinilah Wakil Menteri Haji dan Umrah Dr Dahnil Anzar Simanjuntak tampil sebagai figur yang menonjol dalam mendorong lahirnya etos baru petugas haji yang lebih disiplin, profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan kemanusiaan.

Baca juga: Arab Saudi Pertimbangkan Skema Tanazul untuk 50 Persen Jamaah Haji Indonesia saat Armuzna

Tentu saja keberhasilan penyelenggaraan haji merupakan hasil kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pimpinan kementerian, petugas lapangan, pemerintah Arab Saudi, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Namun, dalam aspek pembinaan karakter dan kultur organisasi petugas haji, kontribusi Dahnil memberikan warna yang cukup kuat.

Ia menegaskan bahwa petugas haji bukan sekadar pelaksana administrasi, melainkan representasi negara yang hadir untuk melayani tamu-tamu Allah dengan sebaik-baiknya.

Karena itu, transformasi haji Indonesia tidak hanya diukur dari perbaikan sistem dan layanan, tetapi juga dari lahirnya budaya pengabdian baru yang menjadikan pelayanan sebagai kehormatan sekaligus amanah.

Dalam konteks inilah peran Dahnil layak dicatat sebagai bagian penting dari proses transformasi tersebut.

Menuju Kementerian yang Transformatif

Pembentukan Kementerian Haji dan Umrah seharusnya tidak dipahami sekadar sebagai perubahan nomenklatur atau pemisahan fungsi birokrasi.

Tantangan yang dihadapi jauh lebih besar daripada sekadar mengelola keberangkatan, pemondokan, konsumsi, atau transportasi jamaah.

Kementerian ini dituntut menjadi institusi yang mampu mentransformasikan seluruh ekosistem perhajian Indonesia, mulai dari tata kelola, pembinaan jamaah, pengembangan sumber daya manusia, hingga penguatan dampak sosial pascaibadah haji.

Dalam berbagai kesempatan saya pernah menulis bahwa ukuran keberhasilan Kementerian Haji dan Umrah tidak boleh berhenti pada kelancaran operasional tahunan.

Pemerintah kolonial Belanda pun pada masanya mampu mengelola perjalanan haji secara administratif dengan cukup baik.

Karena itu, tantangan Kementerian Haji dan Umrah saat ini bukan sekadar menjadi operator layanan haji berskala besar, melainkan menjadi institusi yang mampu menghadirkan transformasi sosial, spiritual, dan peradaban melalui penyelenggaraan haji.

Dalam kerangka transformasi tersebut, kepemimpinan Irvan Yusuf memberikan arah kelembagaan yang jelas, sementara berbagai gagasan yang dikembangkan Dahnil memperkuat dimensi operasional dan pembinaan sumber daya manusia.

Keduanya berada dalam satu kesatuan visi untuk membangun pelayanan haji yang semakin profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Pada akhirnya, kementerian yang transformatif bukan hanya kementerian yang berhasil memberangkatkan dan memulangkan jamaah dengan selamat.

Lebih dari itu, ia adalah institusi yang mampu melahirkan petugas yang profesional, jamaah yang semakin siap dan mandiri, serta alumni haji yang membawa nilai-nilai kemabruran ke tengah kehidupan bermasyarakat. Di titik inilah transformasi kelembagaan bertemu dengan transformasi peradaban.

Haji sebagai Operasi Kemanusiaan

Salah satu gagasan yang secara konsisten didorong Dahnil adalah perlunya mengakhiri cara pandang lama yang melihat haji semata-mata sebagai urusan administrasi, transportasi, hotel, katering, atau perpindahan manusia dari satu titik ke titik lainnya.

Cara pandang seperti itu terlalu sempit untuk menggambarkan kompleksitas penyelenggaraan haji Indonesia.

Sesungguhnya, haji adalah salah satu operasi kemanusiaan terbesar yang pernah dijalankan negara setiap tahun.

Negara tidak sedang mengelola dokumen atau penerbangan, melainkan mengelola ratusan ribu manusia dengan usia, latar belakang pendidikan, kondisi kesehatan, tingkat literasi, dan kebutuhan yang sangat beragam.

Di dalamnya terdapat jamaah lanjut usia, penyandang disabilitas, jamaah berisiko tinggi, hingga mereka yang baru pertama kali keluar negeri dalam hidupnya. Kesalahan kecil dalam pelayanan dapat berdampak langsung pada keselamatan, kenyamanan, bahkan nyawa manusia.

Karena itu, ukuran keberhasilan haji tidak boleh direduksi hanya pada berangkat dan pulangnya jamaah sesuai jadwal.

Standar keberhasilannya jauh lebih tinggi: sejauh mana negara mampu menghadirkan rasa aman, ketenangan, perlindungan, dan penghormatan terhadap martabat setiap jamaah di tengah salah satu mobilitas manusia terbesar di dunia.

Dari perspektif inilah Dahnil mendorong perubahan paradigma petugas haji. Petugas tidak boleh melihat dirinya sebagai pegawai yang sekadar menjalankan prosedur atau menyelesaikan administrasi.

Mereka adalah representasi kehadiran negara di Tanah Suci; garda terdepan yang menentukan apakah negara benar-benar hadir ketika jamaah membutuhkan pertolongan, pendampingan, dan perlindungan.

Pandangan ini sekaligus menggeser orientasi pelayanan dari sekadar kepatuhan birokratis menuju pengabdian kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan penyelenggaraan haji bukan hanya soal seberapa tertib sistem bekerja, melainkan seberapa tulus dan sigap para petugas melayani manusia yang menjadi pusat dari seluruh proses tersebut.

Inilah transformasi cara berpikir yang mulai dibangun: dari mengelola perjalanan ibadah menjadi mengelola misi kemanusiaan berskala global.

Membangun Kultur Disiplin dan Profesionalisme

Jika haji dipahami sebagai operasi kemanusiaan berskala besar, maka petugas haji tidak bisa dipersiapkan dengan pola kerja biasa-biasa saja.

Inilah salah satu pesan yang berulang kali ditekankan Dahnil: pelayanan haji membutuhkan manusia-manusia yang siap bekerja melampaui standar birokrasi rutin.

Menurut Dahnil, tantangan terbesar pelayanan haji bukanlah kekurangan aturan, melainkan bagaimana membangun kultur disiplin dan profesionalisme yang hidup dalam diri setiap petugas.

Sebab di lapangan, petugas sering dihadapkan pada situasi yang tidak tercantum dalam buku panduan: jamaah tersesat, jamaah sakit, kepadatan massa, perubahan kebijakan mendadak, hingga kondisi darurat yang menuntut keputusan cepat dan tepat.

Karena itu, petugas haji harus dipersiapkan bukan hanya sebagai pelaksana tugas administratif, tetapi sebagai personel pelayanan yang tangguh, adaptif, dan siap bekerja di bawah tekanan.

Disiplin dalam perspektif ini bukan sekadar soal hadir tepat waktu atau mematuhi prosedur, melainkan kesiapan untuk tetap bekerja efektif ketika situasi menjadi sulit dan tidak ideal.

Dari sinilah lahir upaya membangun kultur organisasi yang lebih terstruktur, terukur, dan berorientasi pada hasil.

Dahnil tampaknya ingin menggeser mentalitas petugas dari sekadar "menjalankan tugas" menjadi "menuntaskan amanah". 

kuran keberhasilan tidak lagi berhenti pada selesainya pekerjaan administratif, tetapi pada sejauh mana jamaah benar-benar merasakan kehadiran negara melalui pelayanan yang cepat, tepat, dan penuh empati.

Profesionalisme pun memperoleh makna yang lebih luas. Ia bukan hanya kemampuan menguasai prosedur kerja, melainkan perpaduan antara kompetensi, integritas, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada jamaah.

Seorang petugas mungkin memahami seluruh regulasi, tetapi tanpa kepedulian dan rasa tanggung jawab, pelayanan yang diberikan akan kehilangan ruhnya.

Karena itu, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya sistem kerja baru, melainkan kultur baru: kultur yang menempatkan disiplin sebagai bentuk penghormatan terhadap amanah, dan profesionalisme sebagai wujud pengabdian kepada para tamu Allah.

Dalam kerangka inilah Dahnil berupaya membentuk petugas haji yang bukan sekadar bekerja untuk menyelesaikan tugas, tetapi hadir untuk memberikan pelayanan terbaik dalam salah satu misi kemanusiaan terbesar yang dijalankan bangsa Indonesia setiap tahun.

Salah satu perubahan penting yang tampak menonjol dalam pembinaan petugas haji adalah upaya membangun jiwa korsa yang kuat di antara seluruh unsur pelayanan.

Bagi Dahnil, pelayanan haji tidak akan berhasil jika setiap petugas hanya bekerja berdasarkan sekat-sekat birokrasi dan batas formal kewenangannya masing-masing.

Haji adalah arena pelayanan yang menuntut kerja kolektif. Ketika seorang jamaah tersesat, jatuh sakit, mengalami kendala mobilitas, atau menghadapi persoalan administrasi, yang dibutuhkan bukan jawaban "itu bukan tugas saya", melainkan respons cepat dari seluruh unsur pelayanan.

Dalam situasi seperti itu, ego sektoral justru menjadi musuh terbesar pelayanan. Karena itu, Dahnil berupaya menanamkan kesadaran bahwa keberhasilan atau kegagalan pelayanan jamaah bukanlah tanggung jawab satu bidang, satu daerah kerja, atau satu kelompok petugas tertentu.

Keberhasilan adalah milik bersama, dan kegagalan juga merupakan tanggung jawab bersama. Tidak boleh ada petugas yang merasa selesai ketika tugas formalnya selesai, sementara di sekitarnya masih ada jamaah yang membutuhkan pertolongan.

Dari sinilah jiwa korsa memperoleh makna yang lebih dalam daripada sekadar solidaritas antarrekan kerja.

Jiwa korsa adalah kesediaan untuk saling menopang, saling membantu, dan saling menutupi kekurangan demi satu tujuan yang sama: memastikan jamaah mendapatkan pelayanan terbaik.

Ia melahirkan semangat bahwa setiap petugas adalah bagian dari satu barisan pengabdian yang tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.

Budaya seperti ini menjadi sangat penting karena kompleksitas pelayanan haji sering kali tidak mengenal batas organisasi. Persoalan jamaah di lapangan hampir selalu bersifat lintas fungsi dan membutuhkan kolaborasi yang cepat.

Karena itu, petugas yang memiliki jiwa korsa tidak akan sibuk mempertahankan wilayah kerja, melainkan berfokus menyelesaikan masalah.

Dalam perspektif yang lebih luas, Dahnil tampaknya ingin membangun kultur bahwa petugas haji bukan sekadar kumpulan individu yang bekerja dalam satu institusi, melainkan sebuah korps pelayanan yang disatukan oleh amanah yang sama.

Sebab pada akhirnya, jamaah tidak menilai siapa yang paling banyak bekerja, melainkan apakah negara hadir secara utuh ketika mereka membutuhkan bantuan.

Dan kehadiran negara itu hanya dapat diwujudkan oleh petugas yang mampu bekerja sebagai satu tim, satu komando, dan satu semangat pengabdian.

Humanity sebagai Ruh Pelayanan

Di atas disiplin dan profesionalisme, terdapat satu nilai yang terus ditekankan Dahnil, yaitu kemanusiaan. Baginya, pelayanan haji pada hakikatnya adalah pelayanan terhadap manusia dengan segala keterbatasan dan kebutuhannya.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa jamaah Indonesia memiliki karakteristik yang sangat beragam. Ada jamaah yang sudah terbiasa dengan lingkungan modern, tetapi ada pula yang baru pertama kali menghadapi kehidupan di kota besar dengan hotel bertingkat, lift, transportasi massal, dan sistem pelayanan yang serba digital.

Tidak sedikit jamaah lanjut usia yang memerlukan pendampingan lebih intensif. Ada pula jamaah yang mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, mengalami kelelahan fisik, atau menghadapi persoalan kesehatan selama menjalankan ibadah.

Dalam kondisi seperti itu, pelayanan tidak cukup dilakukan dengan pendekatan administratif semata. Yang dibutuhkan adalah empati, kesabaran, dan kemampuan memahami kondisi jamaah secara manusiawi. Di sinilah nilai humanity menjadi ruh yang menghidupkan seluruh sistem pelayanan haji.

Menegakkan Integritas Pelayanan

Dalam setiap organisasi besar, integritas selalu menjadi faktor pembeda antara institusi yang sekadar berjalan dan institusi yang mampu memperoleh kepercayaan publik. Penyelenggaraan haji Indonesia tidak terkecuali.

Di tengah kompleksitas pelayanan yang melibatkan ratusan ribu jamaah dan ribuan petugas, integritas menjadi fondasi yang menentukan kualitas pelayanan secara keseluruhan.

Harus diakui bahwa mayoritas petugas haji Indonesia bekerja dengan dedikasi yang luar biasa. Mereka meninggalkan keluarga, mengorbankan waktu dan tenaga, serta bekerja dalam situasi yang tidak selalu mudah demi memastikan jamaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.

Pengabdian seperti ini merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi penyelenggaraan haji Indonesia.

Namun, Dahnil tampaknya memahami bahwa dedikasi saja belum cukup. Organisasi pelayanan publik yang kuat tidak hanya dibangun oleh semangat pengabdian, tetapi juga oleh integritas yang terjaga.

Sebab sebaik apa pun sistem yang dirancang, kualitas pelayanan pada akhirnya akan ditentukan oleh karakter orang-orang yang menjalankannya.

Karena itu, setiap petugas harus hadir secara penuh dalam menjalankan amanah, bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban, dan menempatkan kepentingan jamaah di atas kepentingan pribadi.

Dalam perspektif ini, integritas bukan sekadar persoalan kepatuhan terhadap aturan atau pengawasan administratif.

Integritas adalah kesadaran bahwa penugasan haji bukan fasilitas, bukan pula kesempatan untuk memperoleh privilese tertentu, melainkan amanah pelayanan yang harus dipertanggungjawabkan, baik secara institusional maupun moral.

Ketika seorang petugas memahami makna amanah tersebut, ia akan bekerja bukan karena diawasi, tetapi karena merasa bertanggung jawab.

Karena itu, penguatan budaya integritas menjadi salah satu agenda penting dalam transformasi kultur petugas haji.

Yang dibangun bukan sekadar sistem kontrol, melainkan kesadaran kolektif bahwa keberadaan mereka di Tanah Suci adalah untuk melayani.

Semakin tinggi integritas yang dimiliki petugas, semakin kuat pula kepercayaan jamaah kepada negara. Dan pada akhirnya, kepercayaan itulah yang menjadi ukuran paling nyata dari keberhasilan pelayanan haji Indonesia.

Perhatian Dahnil terhadap transformasi penyelenggaraan haji tidak hanya tertuju pada peningkatan kualitas petugas, tetapi juga pada peningkatan kualitas jamaah itu sendiri.

Menurutnya, pelayanan yang baik tidak akan mencapai hasil optimal jika tidak didukung oleh jamaah yang memiliki kesiapan yang memadai. Karena itu, penguatan istitaah harus ditempatkan sebagai bagian integral dari ekosistem penyelenggaraan haji.

Selama ini, istitaah sering kali dipahami secara sempit sebagai kemampuan finansial untuk berangkat ke Tanah Suci. Padahal dalam perspektif yang lebih utuh, istitaah mencakup kesiapan kesehatan, kebugaran fisik, ketahanan mental, kedewasaan spiritual, serta pemahaman yang memadai terhadap tata cara dan tantangan pelaksanaan ibadah haji. Haji bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan perjalanan fisik dan spiritual yang menuntut kesiapan menyeluruh.

Dari sudut pandang ini, edukasi jamaah tidak boleh dimulai menjelang keberangkatan semata, tetapi harus menjadi proses pembinaan yang dilakukan jauh hari sebelumnya. Jamaah yang sehat, memahami manasik dengan baik, memiliki daya tahan fisik yang cukup, serta siap menghadapi berbagai dinamika di lapangan akan lebih mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah secara aman, tertib, dan khusyuk.

Karena itu, keberhasilan penyelenggaraan haji tidak cukup diukur dari lancarnya pelayanan transportasi, akomodasi, atau konsumsi selama di Tanah Suci. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana seluruh proses pembinaan mampu mengantarkan jamaah dari kondisi istitaah menuju kemabruran. Dengan kata lain, tugas negara bukan hanya memberangkatkan jamaah ke Makkah dan Madinah, tetapi membantu mempersiapkan mereka agar mampu meraih makna terdalam dari ibadah haji itu sendiri.

Trisukses Haji dan Misi Peradaban

Pada akhirnya, penyelenggaraan haji tidak boleh dipahami hanya sebagai keberhasilan mengelola jutaan proses administratif dan layanan teknis. Gagasan Trisukses Haji yang terus dikembangkan perlu dimaknai lebih jauh sebagai ikhtiar menghadirkan manfaat yang berkelanjutan, bukan hanya bagi jamaah selama berada di Tanah Suci, tetapi juga bagi kehidupan bangsa setelah mereka kembali ke tanah air.

Karena itu, ukuran keberhasilan haji tidak cukup berhenti pada sukses penyelenggaraan dan sukses pelaksanaan ibadah. Keberhasilan yang lebih mendasar adalah lahirnya jamaah yang meraih kemabruran, yaitu jamaah yang mengalami transformasi moral, spiritual, dan sosial setelah menunaikan ibadah haji. Tanpa perubahan tersebut, haji berisiko hanya menjadi perjalanan ritual yang selesai ketika jamaah pulang ke rumah masing-masing.

Dalam perspektif ini, kemabruran bukan sekadar status keagamaan yang bersifat personal. Kemabruran harus tercermin dalam perilaku sosial yang nyata: menjadi pribadi yang lebih disiplin, lebih jujur, lebih peduli terhadap sesama, lebih bertanggung jawab, serta lebih siap berkontribusi bagi kemajuan masyarakat. Haji yang mabrur seharusnya menghadirkan dampak yang dapat dirasakan tidak hanya oleh diri sendiri, tetapi juga oleh keluarga, lingkungan, dan bangsa. Di sinilah haji menemukan makna peradabannya. Haji tidak berhenti sebagai pengalaman spiritual individual, melainkan menjadi proses pembentukan karakter bangsa.

Baca juga: Menhaj Evaluasi KKHI Madinah, Siapkan Transformasi Layanan Kesehatan Haji yang Lebih Efektif

Semakin banyak jamaah yang pulang dengan membawa nilai-nilai kemabruran, semakin besar pula kontribusi haji dalam memperkuat etika sosial, solidaritas kebangsaan, dan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, Trisukses Haji pada hakikatnya bukan hanya program pelayanan, melainkan sebuah misi peradaban.

Catatan Akhir: Fondasi yang Harus Dilanjutkan

Penyelenggaraan haji Indonesia akan terus berkembang mengikuti tantangan zaman. Di bawah kepemimpinan Menteri Haji dan Umrah Dr. K.H. Irvan Yusuf, upaya memperkuat tata kelola dan kualitas pelayanan memperoleh arah kelembagaan yang semakin jelas. Dalam kerangka besar tersebut, Dr H Dahnil Anzar Simanjuntak memberikan kontribusi penting dalam membangun kultur organisasi petugas haji yang lebih profesional, disiplin, berintegritas, dan berorientasi pada kemanusiaan.

Kontribusi tersebut bukan sekadar soal manajemen pelayanan, melainkan tentang pembentukan karakter. Karakter yang menjadikan pelayanan sebagai kehormatan, pengabdian sebagai panggilan, dan kemanusiaan sebagai orientasi utama. Jika fondasi ini terus dirawat dan dikembangkan oleh generasi berikutnya, Indonesia tidak hanya akan memiliki sistem penyelenggaraan haji yang semakin baik, tetapi juga korps petugas haji yang semakin profesional, tangguh, dan dipercaya masyarakat. Dalam konteks itulah kontribusi Dahnil Anzar Simanjuntak layak dicatat sebagai bagian dari proses panjang transformasi pelayanan haji Indonesia menuju standar yang semakin berkualitas dan berkeadaban.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Setelah Sedekah Subuh, Bacalah Doa Ini agar Amal Lebih Sempurna
Setelah Sedekah Subuh, Bacalah Doa Ini agar Amal Lebih Sempurna
Doa dan Niat
Labbaytum Award 2026 Umumkan Pemenang, Indonesia Tak Masuk Daftar
Labbaytum Award 2026 Umumkan Pemenang, Indonesia Tak Masuk Daftar
Aktual
Panduan Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Menguburkan
Panduan Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Menguburkan
Aktual
Marmer Thassos, Rahasia Sistem Pendingin Alami Masjid Nabawi yang Bikin Nyaman Jemaah
Marmer Thassos, Rahasia Sistem Pendingin Alami Masjid Nabawi yang Bikin Nyaman Jemaah
Aktual
Khutbah Jumat 5 Juni 2026 tentang Pancasila, Ini Nilai Islam dalam Lima Sila
Khutbah Jumat 5 Juni 2026 tentang Pancasila, Ini Nilai Islam dalam Lima Sila
Aktual
Transformasi Kultural Pelayanan Haji Indonesia
Transformasi Kultural Pelayanan Haji Indonesia
Aktual
5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib, Jadi Penentu Sahnya Shalat Jumat
5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib, Jadi Penentu Sahnya Shalat Jumat
Aktual
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Muhasabah Menyambut Pergantian Tahun
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Muhasabah Menyambut Pergantian Tahun
Aktual
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Memahami Sikap Ikhlas saat Beramal
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Memahami Sikap Ikhlas saat Beramal
Aktual
Menag Ingatkan Pejabat untuk Waspadai Gratifikasi Berkedok Hadiah
Menag Ingatkan Pejabat untuk Waspadai Gratifikasi Berkedok Hadiah
Aktual
Dari Penyuluh Agama Jadi Kepala KUA, Buah Manis Pengabdian Uun Kurniasih Selama 26 Tahun
Dari Penyuluh Agama Jadi Kepala KUA, Buah Manis Pengabdian Uun Kurniasih Selama 26 Tahun
Aktual
Arab Saudi Pertimbangkan Skema Tanazul untuk 50 Persen Jamaah Haji Indonesia saat Armuzna
Arab Saudi Pertimbangkan Skema Tanazul untuk 50 Persen Jamaah Haji Indonesia saat Armuzna
Aktual
Menhaj Evaluasi KKHI Madinah, Siapkan Transformasi Layanan Kesehatan Haji yang Lebih Efektif
Menhaj Evaluasi KKHI Madinah, Siapkan Transformasi Layanan Kesehatan Haji yang Lebih Efektif
Aktual
Indonesia Absen dari Penghargaan Haji Arab Saudi 2026, Ini Alasannya
Indonesia Absen dari Penghargaan Haji Arab Saudi 2026, Ini Alasannya
Aktual
Garuda Indonesia Jelaskan Penyebab Delay Penerbangan Haji di Jeddah, Sebut Akibat Kepadatan Bandara
Garuda Indonesia Jelaskan Penyebab Delay Penerbangan Haji di Jeddah, Sebut Akibat Kepadatan Bandara
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com