Editor
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِى الْأَرْضِ، وَأَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ إِلَى أَهْلِهَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, uswah hasanah kita dalam segala hal, termasuk dalam etika kepemimpinan. Melalui mimbar yang mulia ini, khatib mengajak diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan, karena takwa adalah fondasi utama bagi setiap mukmin, terutama bagi mereka yang memegang amanah kepemimpinan.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Dalam perspektif etika politik Islam, kepemimpinan bukanlah sekadar jabatan formal atau alat untuk meraih kekuasaan semata, melainkan sebuah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawabannya, baik di dunia maupun di akhirat.
Baca juga: Khutbah Jumat 5 Juni 2026 tentang Pancasila, Ini Nilai Islam dalam Lima Sila
Allah SWT telah menegaskan tugas manusia sebagai pemimpin sejak awal penciptaannya dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 30:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.'”.
Menjadi khalifah berarti memikul tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan alam semesta dan mengatur urusan manusia sesuai dengan syariat-Nya. Namun, amanah ini sangatlah berat. Begitu beratnya, hingga langit, bumi, dan gunung-gunung enggan memikulnya karena khawatir akan pengkhianatan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzāb ayat 72:
اِناَّ عَرَضْنَا اْلاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَاْلاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”.
Ma’asyiral Muslimin,
Nilai moral tertinggi dalam etika politik Islam adalah Amanah dan Keadilan. Seorang pemimpin dalam Islam dituntut untuk menyampaikan hak kepada yang berhak dan menetapkan hukum dengan seadil-adilnya tanpa memandang status sosial atau golongan. Hal ini termaktub dalam QS. An-Nisā’ ayat 58:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”.
Etika politik Islam menolak prinsip "tujuan menghalalkan cara". Sebaliknya, politik adalah bagian dari ibadah yang harus didasari niat tulus karena Allah SWT. Seorang pemimpin yang bermoral akan menjunjung tinggi sifat-sifat kenabian, yaitu: Shiddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Tabligh (transparan), dan Fathonah (cerdas/bijaksana).
Kepemimpinan yang ideal dalam Islam juga harus mengedepankan Syura atau musyawarah, bukan sikap otoriter. Rasulullah SAW, meski merupakan utusan Allah, tetap bermusyawarah dengan para sahabatnya, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Ali Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ
Artinya: “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting).”.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ingatlah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
Hadits ini mengingatkan bahwa setiap kita, apa pun tingkatannya, memikul tanggung jawab yang akan dihisab. Pemimpin sejati dalam Islam adalah pelayan bagi rakyatnya (sayyidul qaumi khadimuhum), bukan penguasa yang haus kehormatan. Apabila amanah diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.
Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib, Jadi Penentu Sahnya Shalat Jumat
Semoga Allah SWT menganugerahi kita pemimpin-pemimpin yang adil, amanah, dan bertakwa, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنِ.
Ma’asyiral Muslimin,
Sebagai penutup, marilah kita senantiasa berdoa agar negeri kita selalu dalam lindungan Allah SWT dan dipimpin oleh mereka yang takut kepada Allah serta sayang kepada rakyatnya. Kesejahteraan suatu bangsa sangat bergantung pada moralitas para pemimpinnya; jika pemimpinnya baik, maka berkahlah rakyatnya, namun jika pemimpinnya rusak, maka akan tertimpa kesulitanlah masyarakatnya.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang