Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Doa Naik Pesawat dalam Islam dan Keistimewaan Doa Musafir

Kompas.com, 18 Januari 2026, 11:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perjalanan dengan pesawat terbang kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.

Namun dalam perspektif Islam, safar tidak pernah dipandang sekadar aktivitas berpindah tempat.

Ia merupakan momentum spiritual yang menghadirkan kesadaran ketuhanan, penguatan tawakal, dan pembaruan niat ibadah.

Baca juga: Walimatus Safar Berlebihan Bisa Kuras Stamina, Kemenkes Ingatkan Jamaah Haji 2026

Di tengah kecanggihan teknologi penerbangan, ajaran Rasulullah SAW tetap relevan sebagai panduan rohani.

Doa safar tidak hanya berfungsi sebagai permohonan keselamatan fisik, tetapi juga menjadi instrumen pembentukan ketenangan batin dan kedewasaan spiritual selama perjalanan.

Safar dan Keutamaan Doa Musafir

Keistimewaan doa orang yang bepergian ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda:

“Tiga doa yang mustajab tanpa keraguan: doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR Abu Dawud).

Dalam kitab Lata’if al-Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa safar menghadirkan kondisi keterasingan, kelelahan, dan ketergantungan total kepada Allah.

Dikutip dari buku tersebut, Ibnu Rajab menerangkan bahwa keadaan sulit menjadikan hati lebih tunduk, sehingga doa lebih dekat pada pengabulan.

Safar dengan demikian bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan perjalanan spiritual yang memperdalam kesadaran tauhid.

Baca juga: Doa Naik Pesawat Lengkap Arab, Latin, dan Artinya, Termasuk Doa Saat Turbulensi

Landasan Al-Qur’an tentang Anjuran Bepergian

Al-Qur’an mendorong manusia untuk bergerak, menjelajah, dan mencari karunia Allah. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Mulk ayat 15:

Lafal Arab

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ

Huwallażī ja‘ala lakumul-arḍa żalūlan famsyū fī manākibihā wa kulū mir rizqih, wa ilaihin-nusyūr.

Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu kembali.”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk berikhtiar tanpa melepaskan orientasi akhirat. Aktivitas bepergian dalam Islam selalu diarahkan agar tetap berada dalam koridor ibadah.

Doa Naik Pesawat sebagai Adaptasi Sunnah Safar

Meskipun pesawat terbang tidak dikenal pada masa Rasulullah SAW, para ulama sepakat bahwa doa kendaraan yang diajarkan Nabi berlaku untuk seluruh moda transportasi.

Hal ini karena esensi doa tersebut bukan terletak pada jenis kendaraan, melainkan pada makna ketergantungan manusia kepada Allah.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW membaca doa khusus saat menaiki kendaraan.

Doa ini memuat pengakuan bahwa manusia tidak mampu menguasai sarana perjalanan tanpa izin Allah.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Subḥānallażī sakhkhara lanā hāżā wa mā kunnā lahu muqrinīn,
wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami lah kami kembali.”

Doa ini relevan dibaca saat duduk di kursi pesawat sebelum lepas landas. Ia menanamkan kesadaran bahwa teknologi secanggih apa pun tetap berada di bawah kekuasaan Allah SWT.

Baca juga: Khutbah Jumat 19 Desember 2025: Kembali kepada Allah SWT sebagai Jalan Keselamatan

Makna Teologis dalam Doa Safar

Jika dicermati secara mendalam, doa safar tidak hanya berisi permohonan keselamatan fisik. Ia juga mengandung dimensi moral dan spiritual.

Dalam lanjutan doa, Rasulullah SAW memohon agar perjalanan diisi dengan kebaikan dan ketakwaan:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى

Allāhumma innā nas’aluka fī safarinā hāżal birra wat-taqwā wa minal ‘amali mā tarḍā.

Artinya: “Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai.”

Baca juga: Bulan Safar Bukan Bulan Sial, Ini 3 Amalan Sunnah yang Dianjurkan

Dikutip dari buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, doa ini menunjukkan bahwa tujuan safar dalam Islam tidak boleh terlepas dari nilai etika.

Seorang muslim tidak hanya meminta selamat sampai tujuan, tetapi juga memohon agar perjalanannya tidak melahirkan maksiat, kelalaian atau perbuatan yang merusak nilai iman.

Dengan demikian, safar menjadi sarana pembentukan karakter spiritual, bukan sekadar perpindahan geografis.

Doa Nabi Nuh dan Simbol Ketergantungan Total

Selain doa safar Nabi Muhammad SAW, umat Islam juga dianjurkan membaca doa Nabi Nuh AS saat kendaraan mulai bergerak. Doa ini termaktub dalam Al-Qur’an:

بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Bismillāhi majrēhā wa mursāhā, inna rabbī laghafūrur raḥīm.

Artinya: “Dengan nama Allah kendaraan ini berjalan dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam perspektif teologi Islam, doa ini melambangkan pengakuan bahwa awal dan akhir perjalanan sepenuhnya berada dalam kendali Allah.

Pesan ini sangat relevan bagi penumpang pesawat yang menyadari bahwa keselamatan tidak hanya bergantung pada mesin dan pilot, tetapi juga pada kehendak Ilahi.

Dimensi Psikologis Doa dalam Perjalanan Udara

Selain nilai ibadah, doa safar juga memiliki dampak psikologis yang signifikan. Penelitian dalam psikologi religius menunjukkan bahwa aktivitas spiritual seperti doa dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan rasa aman subjektif.

Dalam konteks penerbangan, banyak orang mengalami kecemasan akibat ketinggian atau turbulensi.

Dengan membaca doa, individu membangun mekanisme coping spiritual yang membantu menenangkan pikiran dan memperkuat ketahanan mental.

Islam sejak awal telah mengajarkan metode ini melalui sunnah Rasulullah SAW, jauh sebelum konsep psikologi modern berkembang.

Baca juga: Kumpulan Doa Perlindungan dan Keselamatan Lengkap dengan Terjemahannya

Mengisi Safar dengan Amal Kebaikan

Perjalanan tidak seharusnya menjadi ruang kosong dari amal. Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak zikir saat safar.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud, disebutkan bahwa beliau bertakbir ketika naik ke tempat tinggi dan bertasbih saat menurun.

Selain zikir, safar juga dapat diisi dengan sedekah, membantu sesama penumpang, menjaga adab, dan memperbanyak doa.

Praktik-praktik ini memperluas makna perjalanan dari sekadar mobilitas menjadi ibadah sosial dan spiritual.

Safar sebagai Jalan Mendekat kepada Allah

Doa naik pesawat bukan sekadar tradisi verbal, melainkan ekspresi teologis tentang posisi manusia di hadapan Allah.

Dalam dunia yang serba cepat dan modern, safar tetap menjadi ruang refleksi untuk menguatkan iman, memperbarui niat, dan meneguhkan ketergantungan kepada Sang Pencipta.

Dengan mengamalkan doa safar sesuai sunnah, perjalanan udara tidak hanya membawa seseorang menuju tujuan geografis, tetapi juga mendekatkan hati kepada Allah SWT.

Inilah esensi perjalanan dalam Islam, yaitu bergerak di bumi, namun tetap terikat kuat dengan langit.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Doa Mustajab di Masjid Nabawi: Melangitkan Harapan di Kota Rasulullah
Doa Mustajab di Masjid Nabawi: Melangitkan Harapan di Kota Rasulullah
Doa dan Niat
Apakah Hajar Aswad dari Bumi atau Luar Angkasa? Temuan Ilmiah Bertemu Keyakinan Iman
Apakah Hajar Aswad dari Bumi atau Luar Angkasa? Temuan Ilmiah Bertemu Keyakinan Iman
Aktual
Doa Naik Pesawat dalam Islam dan Keistimewaan Doa Musafir
Doa Naik Pesawat dalam Islam dan Keistimewaan Doa Musafir
Doa dan Niat
Masih Banyak yang Keliru, Ini Perbedaan Mahram dan Muhrim dalam Islam
Masih Banyak yang Keliru, Ini Perbedaan Mahram dan Muhrim dalam Islam
Doa dan Niat
Menu Favorit Rasulullah, Nutrisi dan Keberkahan dalam Hidangan
Menu Favorit Rasulullah, Nutrisi dan Keberkahan dalam Hidangan
Aktual
Abu Dhabi Teraman di Dunia, Jakarta Peringkat ke Berapa?
Abu Dhabi Teraman di Dunia, Jakarta Peringkat ke Berapa?
Aktual
Akhir Bulan Rajab Tinggal Hitungan Hari, Ini Jadwal Awal Syaban 1447 H dan Keutamaannya
Akhir Bulan Rajab Tinggal Hitungan Hari, Ini Jadwal Awal Syaban 1447 H dan Keutamaannya
Aktual
5 Berita Terpopuler Cahaya Kemarin: Aduan Haji Disorot, Petugas Dipulangkan, hingga Kabar Raja Salman
5 Berita Terpopuler Cahaya Kemarin: Aduan Haji Disorot, Petugas Dipulangkan, hingga Kabar Raja Salman
Aktual
Hukum Bunuh Diri dalam Islam: Larangan, Dosa Besar, dan Dampaknya
Hukum Bunuh Diri dalam Islam: Larangan, Dosa Besar, dan Dampaknya
Aktual
Tragedi Kesalehan Semu: Tiga Sosok yang Pertama Dilempar ke Neraka
Tragedi Kesalehan Semu: Tiga Sosok yang Pertama Dilempar ke Neraka
Doa dan Niat
Jejak Empat Sungai Mulia Berasal dari Surga yang Disebut Rasulullah
Jejak Empat Sungai Mulia Berasal dari Surga yang Disebut Rasulullah
Doa dan Niat
Memperbaiki Hidup dengan Shalat: Kunci Pertolongan, Ketakwaan, dan Ketenangan Hati
Memperbaiki Hidup dengan Shalat: Kunci Pertolongan, Ketakwaan, dan Ketenangan Hati
Doa dan Niat
Tanggung Jawab Suami-Istri dalam Islam yang Harus Dipahami Muslim
Tanggung Jawab Suami-Istri dalam Islam yang Harus Dipahami Muslim
Doa dan Niat
Ingin Rezeki Lancar, Amalkan Ayat Seribu Dinar
Ingin Rezeki Lancar, Amalkan Ayat Seribu Dinar
Doa dan Niat
Warga Padang Berjalan Kaki ke Makkah demi Haji, Kemenhaj Beri Penjelasan
Warga Padang Berjalan Kaki ke Makkah demi Haji, Kemenhaj Beri Penjelasan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com