KOMPAS.com - Perjalanan dengan pesawat terbang kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
Namun dalam perspektif Islam, safar tidak pernah dipandang sekadar aktivitas berpindah tempat.
Ia merupakan momentum spiritual yang menghadirkan kesadaran ketuhanan, penguatan tawakal, dan pembaruan niat ibadah.
Baca juga: Walimatus Safar Berlebihan Bisa Kuras Stamina, Kemenkes Ingatkan Jamaah Haji 2026
Di tengah kecanggihan teknologi penerbangan, ajaran Rasulullah SAW tetap relevan sebagai panduan rohani.
Doa safar tidak hanya berfungsi sebagai permohonan keselamatan fisik, tetapi juga menjadi instrumen pembentukan ketenangan batin dan kedewasaan spiritual selama perjalanan.
Keistimewaan doa orang yang bepergian ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda:
“Tiga doa yang mustajab tanpa keraguan: doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR Abu Dawud).
Dalam kitab Lata’if al-Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa safar menghadirkan kondisi keterasingan, kelelahan, dan ketergantungan total kepada Allah.
Dikutip dari buku tersebut, Ibnu Rajab menerangkan bahwa keadaan sulit menjadikan hati lebih tunduk, sehingga doa lebih dekat pada pengabulan.
Safar dengan demikian bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan perjalanan spiritual yang memperdalam kesadaran tauhid.
Baca juga: Doa Naik Pesawat Lengkap Arab, Latin, dan Artinya, Termasuk Doa Saat Turbulensi
Al-Qur’an mendorong manusia untuk bergerak, menjelajah, dan mencari karunia Allah. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Mulk ayat 15:
Lafal Arab
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ
Huwallażī ja‘ala lakumul-arḍa żalūlan famsyū fī manākibihā wa kulū mir rizqih, wa ilaihin-nusyūr.
Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu kembali.”
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk berikhtiar tanpa melepaskan orientasi akhirat. Aktivitas bepergian dalam Islam selalu diarahkan agar tetap berada dalam koridor ibadah.
Meskipun pesawat terbang tidak dikenal pada masa Rasulullah SAW, para ulama sepakat bahwa doa kendaraan yang diajarkan Nabi berlaku untuk seluruh moda transportasi.
Hal ini karena esensi doa tersebut bukan terletak pada jenis kendaraan, melainkan pada makna ketergantungan manusia kepada Allah.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW membaca doa khusus saat menaiki kendaraan.
Doa ini memuat pengakuan bahwa manusia tidak mampu menguasai sarana perjalanan tanpa izin Allah.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Subḥānallażī sakhkhara lanā hāżā wa mā kunnā lahu muqrinīn,
wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami lah kami kembali.”
Doa ini relevan dibaca saat duduk di kursi pesawat sebelum lepas landas. Ia menanamkan kesadaran bahwa teknologi secanggih apa pun tetap berada di bawah kekuasaan Allah SWT.
Baca juga: Khutbah Jumat 19 Desember 2025: Kembali kepada Allah SWT sebagai Jalan Keselamatan
Jika dicermati secara mendalam, doa safar tidak hanya berisi permohonan keselamatan fisik. Ia juga mengandung dimensi moral dan spiritual.
Dalam lanjutan doa, Rasulullah SAW memohon agar perjalanan diisi dengan kebaikan dan ketakwaan:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى
Allāhumma innā nas’aluka fī safarinā hāżal birra wat-taqwā wa minal ‘amali mā tarḍā.
Artinya: “Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai.”
Baca juga: Bulan Safar Bukan Bulan Sial, Ini 3 Amalan Sunnah yang Dianjurkan
Dikutip dari buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, doa ini menunjukkan bahwa tujuan safar dalam Islam tidak boleh terlepas dari nilai etika.
Seorang muslim tidak hanya meminta selamat sampai tujuan, tetapi juga memohon agar perjalanannya tidak melahirkan maksiat, kelalaian atau perbuatan yang merusak nilai iman.
Dengan demikian, safar menjadi sarana pembentukan karakter spiritual, bukan sekadar perpindahan geografis.
Selain doa safar Nabi Muhammad SAW, umat Islam juga dianjurkan membaca doa Nabi Nuh AS saat kendaraan mulai bergerak. Doa ini termaktub dalam Al-Qur’an:
بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Bismillāhi majrēhā wa mursāhā, inna rabbī laghafūrur raḥīm.
Artinya: “Dengan nama Allah kendaraan ini berjalan dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam perspektif teologi Islam, doa ini melambangkan pengakuan bahwa awal dan akhir perjalanan sepenuhnya berada dalam kendali Allah.
Pesan ini sangat relevan bagi penumpang pesawat yang menyadari bahwa keselamatan tidak hanya bergantung pada mesin dan pilot, tetapi juga pada kehendak Ilahi.
Selain nilai ibadah, doa safar juga memiliki dampak psikologis yang signifikan. Penelitian dalam psikologi religius menunjukkan bahwa aktivitas spiritual seperti doa dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan rasa aman subjektif.
Dalam konteks penerbangan, banyak orang mengalami kecemasan akibat ketinggian atau turbulensi.
Dengan membaca doa, individu membangun mekanisme coping spiritual yang membantu menenangkan pikiran dan memperkuat ketahanan mental.
Islam sejak awal telah mengajarkan metode ini melalui sunnah Rasulullah SAW, jauh sebelum konsep psikologi modern berkembang.
Baca juga: Kumpulan Doa Perlindungan dan Keselamatan Lengkap dengan Terjemahannya
Perjalanan tidak seharusnya menjadi ruang kosong dari amal. Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak zikir saat safar.
Dalam hadis riwayat Abu Dawud, disebutkan bahwa beliau bertakbir ketika naik ke tempat tinggi dan bertasbih saat menurun.
Selain zikir, safar juga dapat diisi dengan sedekah, membantu sesama penumpang, menjaga adab, dan memperbanyak doa.
Praktik-praktik ini memperluas makna perjalanan dari sekadar mobilitas menjadi ibadah sosial dan spiritual.
Doa naik pesawat bukan sekadar tradisi verbal, melainkan ekspresi teologis tentang posisi manusia di hadapan Allah.
Dalam dunia yang serba cepat dan modern, safar tetap menjadi ruang refleksi untuk menguatkan iman, memperbarui niat, dan meneguhkan ketergantungan kepada Sang Pencipta.
Dengan mengamalkan doa safar sesuai sunnah, perjalanan udara tidak hanya membawa seseorang menuju tujuan geografis, tetapi juga mendekatkan hati kepada Allah SWT.
Inilah esensi perjalanan dalam Islam, yaitu bergerak di bumi, namun tetap terikat kuat dengan langit.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang