Penulis
KOMPAS.com - Malam Nisfu Sya’ban selalu mendapat perhatian besar di tengah umat Islam. Di berbagai daerah, malam ini sering dihidupkan dengan sholat berjamaah, doa-doa tertentu, bahkan sholat dengan jumlah rakaat khusus. Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah benar ada sholat khusus yang disyariatkan pada malam Nisfu Sya’ban?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para Ulama telah membahasnya secara lengkap dalam kitab-kitab mereka. Berikut ini penjelasan lengkap Para Ulama mengenai ada atau tidaknya sholat khusus di malam Nisfu Sya'ban.
Baca juga: Sholat Nisfu Syaban: Waktu Pelaksanaan dan Bacaan Niatnya
Secara umum, tidak ada dalil shahih tentang sholat khusus di malam Nisfu Sya'ban. Mayoritas ulama menegaskan hal ini.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmū‘ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa sholat yang dikenal di sebagian masyarakat sebagai shalat Nisfu Sya’ban, dengan jumlah rakaat tertentu dan bacaan khusus, tidak memiliki dasar dari Nabi SAW dan para sahabat, sehingga tidak dapat dihukumi sebagai sunnah.
Ibnu Taimiyah dalam Majmū‘ al-Fatāwa juga menegaskan bahwa menetapkan sholat khusus dengan tata cara tertentu, mengkhususkannya sebagai ritual berjamaah rutin adalah hal yang tidak memiliki dasar dari Nabi SAW.
Ibnu al-Jauzi dalam Al-Maudhu‘āt dan Imam Asy-Syaukani dalam Al-Fawāid al-Majmū‘ah, keduanya menilai sebagian hadits tentang sholat khusus Nisfu Sya’ban sebagai lemah bahkan palsu.
Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa tidak ada sholat sunnah khusus dengan tata cara tertentu yang secara shahih disyariatkan khusus untuk malam Nisfu Sya’ban.
Baca juga: Doa Malam Nisfu Syaban: Amalan di Waktu Penuh Ampunan
Meskipun tidak ada sholat khusus di malam Nisfu Sya'ban, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam mulia tersebut.
Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah seperti sholat malam, doa, dan dzikir secara individu adalah amalan yang telah dilakukan oleh sebagian salaf dan tidak perlu diingkari.
Adapun sholat yang bisa dilakukan di malam Nisfu Sya'ban adalah sholat-sholat sunnah yang dianjurkan dalam Islam, seperti sholat tahajud, sholat hajat, sholat taubat, sholat witir, maupun sholat-sholat sunnah lainnya.
Sholat 100 rakaat yang sering dinisbatkan pada malam Nisfu Sya’ban memang disebutkan dalam kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali. Para ulama hadits menjelaskan bahwa Imam Al-Ghazali bukan ahli hadits.
Sang Hujjatul Islam mencantumkan amalan tersebut berdasarkan riwayat yang beredar di masanya. Sanad haditsnya lemah, sehingga tidak dapat dijadikan dasar pensyariatan.
Karena itu, ulama setelahnya menegaskan bahwa sholat 100 rakaat tidak dapat dihukumi sunnah, apalagi dianggap sebagai amalan khusus yang berpahala tertentu.
Baca juga: Malam Nisfu Syaban 2026: Tanggal, Amalan, Keutamaan dan Dalilnya
Berdasarkan pandangan ulama lintas madzhab, berikut amalan sesuai sunnah yang bisa diamalkan di malam Nisfu Sya'ban:
Sholat tahajud, witir, atau sholat sunnah malam lainnya tanpa niat sholat khusus Nisfu Sya’ban.
Terutama doa memohon ampunan, rahmat, dan kebaikan hidup, karena malam ini termasuk waktu yang dinilai mustajab oleh banyak ulama.
Tanpa bacaan atau hitungan khusus yang diyakini berasal dari Nabi SAW.
Sementara amalan yang Perlu Dihindari adalah menetapkan jumlah rakaat tertentu, bacaan tertentu, atau keyakinan bahwa sholat tertentu pasti berpahala khusus tanpa dasar yang jelas, baik dari Al-Qu'ran maupun hadits Shahih.
Baca juga: Benarkah Puasa Setelah Nisfu Syaban Dilarang? Ini Jawabannya
Malam Nisfu Sya’ban adalah malam penuh peluang ibadah, bukan karena adanya sholat khusus, tetapi karena keutamaan waktunya untuk kembali kepada Allah SWT.
Dengan memahami pandangan ulama secara utuh, umat Islam bisa beribadah dengan tenang, ilmiah, dan sesuai tuntunan sunnah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang