KOMPAS.com - Musibah sering datang tanpa peringatan. Dalam sekejap, kondisi hidup bisa berubah drastis.
Kehilangan orang tercinta, kegagalan usaha, sakit berkepanjangan, hingga tekanan ekonomi menjadi ujian yang menguras emosi dan mental.
Namun dalam perspektif Islam, ujian bukan sekadar penderitaan. Ia adalah sarana pendidikan spiritual yang dirancang langsung oleh Allah SWT untuk mengangkat derajat hamba-Nya.
Baca juga: Doa Saat Terjadi Musibah Banjir Lengkap dengan Terjemahannya
Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, seorang ulama besar tasawuf abad ke-7 Hijriah, dalam kitab Al-Hikam menegaskan bahwa kunci utama meredakan pedihnya musibah terletak pada kesadaran siapa yang sedang menguji kita.
Menurutnya, ketika seseorang memahami bahwa Allah-lah yang menetapkan ujian tersebut, maka luka batin akan perlahan berubah menjadi ketenangan.
“Agar kamu mampu meringankan penderitaan musibah yang menimpamu, ketahuilah bahwa Allah SWT-lah yang sedang mengujimu. Dia adalah Dzat yang membimbingmu menuju pilihan terbaik.” (Ibnu Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam)
Pandangan ini sejalan dengan prinsip dasar akidah Islam bahwa seluruh ketetapan Allah selalu mengandung hikmah, meskipun pada awalnya tampak pahit.
Al-Qur’an menegaskan bahwa ujian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-jū‘i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi wats-tsamarāt, wa basyirish-ṣābirīn.
Artinya: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah sunatullah. Tidak ada manusia yang benar-benar bebas dari cobaan yang membedakan hanyalah cara meresponsnya.
Baca juga: Mengapa Doa Bisa Membuat Hati Lebih Tenang? Ini 5 Doa Sabar dan Ikhlas yang Dianjurkan
Dalam penjelasan Kitab Al-Hikam dan Penjelasan karya D.A. Pakih Sati Lc, dijelaskan bahwa Ibnu Athaillah menekankan pentingnya keyakinan terhadap kebijaksanaan Allah.
Ketika seseorang menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, maka rasa kecewa dan amarah akan berkurang.
Musibah bukanlah hukuman semata, tetapi sering kali menjadi bentuk kasih sayang Allah yang tersembunyi.
Ada hamba yang didekatkan kepada Allah justru melalui kesempitan hidup, bukan melalui kelapangan rezeki.
Baca juga: Doa Agar Diberi Kesabaran dan Ganti yang Lebih Baik Saat Terkena Musibah
Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Dalam Islam, sabar adalah kekuatan batin untuk tetap teguh, menjaga lisan dari keluhan berlebihan, dan hati dari prasangka buruk kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Innamā yuwaffash-ṣābirūna ajrahum bighairi ḥisāb.
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, sabar merupakan salah satu maqam tertinggi dalam perjalanan spiritual.
Orang yang mampu bersabar saat diuji sejatinya sedang membangun kedekatan khusus dengan Allah.
Baca juga: Makna Sabar dan Syukur, Pilar Keseimbangan Hidup Seorang Muslim
Salah satu sebab musibah terasa sangat menyakitkan adalah karena manusia memandangnya sebagai akhir dari segalanya.
Padahal, dalam Islam, ujian sering kali menjadi pintu pembuka menuju fase hidup yang lebih baik.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa ujian berfungsi sebagai sarana penyucian jiwa.
Kesombongan dilunakkan, hati yang lalai diingatkan, dan iman yang melemah diperkuat kembali.
Dengan cara pandang ini, musibah tidak lagi dilihat sebagai musuh, tetapi sebagai guru kehidupan yang mengajarkan makna tawakal dan kerendahan hati.
Saat tertimpa musibah, Islam menganjurkan hamba untuk memperbanyak doa dan zikir. Salah satu bacaan yang diajarkan Rasulullah SAW adalah:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (HR. Muslim)
Kalimat ini bukan sekadar ucapan, melainkan pernyataan iman bahwa seluruh hidup manusia berada dalam genggaman Allah.
Baca juga: Tanda Dicabutnya Rasa Syukur dari Diri Seorang Muslim
Dalam perspektif tasawuf, ujian adalah tanda perhatian Allah kepada hamba-Nya. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, sering kali semakin berat pula ujiannya. Rasulullah SAW bersabda:
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, lalu orang-orang setelah mereka.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa ujian bukan tanda kebencian Allah, melainkan bentuk seleksi spiritual bagi hamba-hamba pilihan-Nya.
Pedihnya musibah memang nyata. Namun Islam tidak membiarkan umatnya terjebak dalam keputusasaan.
Setiap ujian selalu membawa peluang untuk tumbuh, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Allah.
Seperti pesan Ibnu Athaillah, ketika hati sudah yakin bahwa Allah-lah yang mengatur segalanya dengan penuh hikmah, maka beban terasa lebih ringan.
Di balik musibah yang hari ini menyakitkan, bisa jadi tersimpan nikmat besar yang baru akan dipahami di kemudian hari.
Pada akhirnya, ujian hidup bukan sekadar cobaan ketahanan mental, tetapi juga undangan ilahi untuk naik kelas dalam keimanan.
Dan bagi mereka yang mampu bertahan dengan sabar, Allah telah menyiapkan balasan yang jauh lebih indah daripada apa pun yang hilang di dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang