KOMPAS.com - Malam Nisfu Sya’ban selalu hadir sebagai momentum penting bagi umat Islam untuk menata ulang hubungan dengan Allah Swt.
Di pertengahan bulan Sya’ban ini, kaum Muslim dianjurkan memperbanyak amal saleh, memperdalam introspeksi diri, serta menguatkan taubat sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Para ulama menyebut Nisfu Sya’ban sebagai malam persiapan spiritual. Bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan fase transisi batin agar hati bersih, jiwa tenang, dan ibadah Ramadhan kelak lebih bermakna.
Baca juga: Puasa Ayyamul Bidh Nisfu Syaban 2026: Jadwal, Niat, dan Keutamaannya
Dalam khazanah keislaman, malam Nisfu Sya’ban dikenal sebagai malam yang dipenuhi rahmat dan ampunan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa bulan Sya’ban merupakan jembatan menuju Ramadhan, sehingga memperbanyak amal di dalamnya termasuk bagian dari adab menyambut bulan suci.
Momentum pertengahan Sya’ban menjadi ruang refleksi, sejauh mana manusia telah menggunakan umurnya untuk kebaikan dan seberapa banyak dosa yang perlu disucikan dengan taubat.
Dalam Alquran, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status sosial, tetapi oleh ketakwaan.
Allah Swt berfirman:
Inna akramakum ‘indallāhi atqākum
Artinya: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu (QS Al-Hujurat: 13).
Ayat ini menegaskan bahwa taubat dan upaya membersihkan diri merupakan jalan menuju derajat takwa yang tinggi.
Baca juga: Jangan Lewatkan Nisfu Sya’ban, Istighfar Jadi Kunci Ampunan
Taubat bukan sekadar ucapan lisan, melainkan proses spiritual yang melibatkan kesadaran, penyesalan, dan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan.
Dalam buku Ad Daa Wa Ad Dawaa karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dijelaskan bahwa taubat adalah pintu utama perbaikan diri, karena ia mengembalikan manusia pada fitrah kesucian hati.
Allah Swt sendiri menegaskan kecintaan-Nya kepada orang-orang yang bertaubat:
Innallāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn
Artinya: Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri (QS Al-Baqarah: 222).
Pesan ayat ini memperlihatkan bahwa taubat bukan hanya kewajiban, tetapi juga bentuk ibadah yang mendatangkan cinta Allah Swt.
Malam Nisfu Sya’ban semakin istimewa karena dilakukan pada waktu yang memang dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Rasulullah saw menjelaskan bahwa Allah membuka pintu taubat sepanjang waktu, khususnya pada malam hari.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:
"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar pendosa di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar pendosa di malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari barat." (HR Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa tidak ada batasan waktu untuk kembali kepada Allah. Malam Nisfu Sya’ban menjadi kesempatan emas untuk memulai lembaran baru kehidupan spiritual.
Baca juga: Kapan Puasa Nisfu Syaban 2026? Simak Waktu, Niat, dan Keutamaannya
Salah satu penghalang manusia untuk bertaubat adalah rasa putus asa. Padahal, Islam mengajarkan optimisme spiritual.
Rasulullah saw menegaskan bahwa sebesar apa pun dosa manusia, pintu ampunan tetap terbuka.
Dalam hadis riwayat Ibnu Majah disebutkan:
"Seandainya kalian berbuat dosa hingga mencapai langit, lalu kalian bertaubat, niscaya Allah menerima taubat kalian." (HR Ibnu Majah).
Pesan ini menanamkan harapan bahwa rahmat Allah selalu lebih luas daripada kesalahan manusia.
Malam Nisfu Sya’ban menjadi momentum membuang beban masa lalu dan memulai perjalanan baru menuju ketaatan.
Menariknya, Islam tidak membatasi nilai taubat pada usia tertentu. Bahkan, taubat di usia lanjut justru mendapat keutamaan tersendiri. Dalam hadis riwayat At-Thabarani, Rasulullah saw bersabda:
"Barang siapa berbuat baik pada sisa umurnya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun siapa yang berbuat buruk pada sisa umurnya, maka ia menanggung dosa yang lalu dan yang tersisa." (HR At-Thabarani).
Pesan ini menegaskan bahwa selama hayat masih dikandung badan, peluang memperbaiki diri tetap terbuka.
Nisfu Sya’ban menjadi pengingat bahwa usia adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Baca juga: Malam Nisfu Sya’ban 2026, Ini Doa lengkap dan Amalan yang Dianjurkan
Para ulama menilai bahwa taubat di bulan Sya’ban memiliki nilai strategis sebagai persiapan Ramadhan.
Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam Fiqh Ash-Shiyam menyebutkan bahwa kebersihan hati akan menentukan kualitas puasa. Puasa yang dijalani dengan hati yang penuh dendam, iri, dan dosa sulit melahirkan ketakwaan.
Karena itu, memperbanyak istighfar, shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan bermuhasabah diri pada malam Nisfu Sya’ban menjadi langkah konkret menyiapkan jiwa agar Ramadhan tidak berlalu sia-sia.
Malam Nisfu Sya’ban bukan hanya seremoni ibadah, tetapi kesempatan untuk menjadikan taubat sebagai titik balik kehidupan.
Di malam inilah seorang hamba diajak berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, menundukkan ego, dan kembali kepada Allah Swt dengan hati yang tulus.
Jika taubat dilakukan dengan sungguh-sungguh, Nisfu Sya’ban dapat menjadi awal perubahan besar dari lalai menuju sadar, dari maksiat menuju taat, dan dari gelap menuju cahaya iman.
Dengan demikian, memaksimalkan malam Nisfu Sya’ban bukan sekadar memperbanyak ritual, melainkan membangun fondasi spiritual yang kokoh untuk menyambut Ramadhan sebagai bulan pembaruan jiwa dan peningkatan ketakwaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang