KOMPAS.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, langit kembali menghadirkan peristiwa kosmik yang sarat makna.
Pada Selasa, 17 Februari 2026, dunia akan menyaksikan gerhana matahari cincin, sebuah fenomena ketika Matahari tampak membentuk lingkaran cahaya menyerupai cincin api di tepinya, sementara bagian tengahnya tertutup oleh Bulan.
Dalam kajian astronomi, gerhana matahari cincin terjadi saat Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada satu garis lurus, tetapi posisi Bulan berada cukup jauh dari Bumi sehingga piringannya tampak lebih kecil dibanding Matahari. Akibatnya, Matahari tidak tertutup sempurna.
Namun bagi umat Islam, gerhana bukan sekadar peristiwa alam yang mengundang rasa takjub.
Rasulullah mengajarkan bahwa gerhana adalah tanda kebesaran Allah SWT, sekaligus momentum untuk meningkatkan keimanan melalui ibadah dan introspeksi diri.
Baca juga: Gerhana Matahari Cincin 2026, Tata Cara dan Niat Shalat Gerhana
Al-Qur’an menegaskan bahwa peristiwa langit merupakan bagian dari ayat-ayat Allah yang seharusnya mengantarkan manusia pada ketundukan, bukan pengkultusan benda langit.
Allah SWT berfirman:
Wa min āyātihil lailun-nahāru wasy-syamsu wal-qamar, lā tasjudū lisy-syamsi wa lā lil-qamar, wasjudū lillāhilladzī khalaqahunna in kuntum iyyāhu ta‘budūn.
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya menyembah.”
(QS. Fushilat: 37)
Dalam Tafsir Al-Munir, Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar sikap seorang Muslim ketika menyaksikan fenomena alam luar biasa, yakni dengan memperbanyak ibadah dan mengingat Allah.
Rasulullah memberikan tuntunan yang jelas tentang sikap seorang Muslim ketika terjadi gerhana.
Bukan dengan kepanikan atau mitos, melainkan dengan amal-amal yang mendekatkan diri kepada Allah.
Amalan pertama yang sangat ditekankan Rasulullah adalah memperbanyak dzikir, takbir, istighfar, serta sedekah.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat, dan bersedekahlah.”
(HR. Bukhari No. 1044)
Menurut Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah, anjuran dzikir dan sedekah saat gerhana menunjukkan bahwa peristiwa alam seharusnya melahirkan kepekaan spiritual dan sosial sekaligus.
Ketika manusia menyadari kelemahannya di hadapan kekuasaan Allah, saat itulah ia dianjurkan untuk membantu sesama.
Sedekah dalam momen gerhana juga dimaknai sebagai bentuk empati dan pembersihan harta, sebagaimana dijelaskan dalam Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, bahwa peristiwa yang mengguncang hati adalah saat terbaik untuk membersihkan jiwa dari kelalaian.
Baca juga: Gerhana Matahari Cincin Ramadhan 2026, Ini Pesan Langit Jelang Puasa
Selain dzikir dan sedekah, Rasulullah menganjurkan pelaksanaan shalat gerhana matahari (shalat kusuf) sebagai ibadah sunnah muakkad.
Meski pembahasan utama artikel ini tidak berfokus pada teknis shalat, penting diketahui bahwa shalat gerhana menjadi simbol puncak ketundukan manusia kepada Allah ketika menyaksikan tanda kebesaran-Nya.
Dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa shalat gerhana disyariatkan sebagai respon langsung terhadap fenomena langit, agar hati manusia tidak terpalingkan dari Allah oleh kekaguman semata pada ciptaan-Nya.
Setelah shalat gerhana berjamaah, Rasulullah disunnahkan menyampaikan khutbah, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih.
Khutbah gerhana tidak dilakukan dua kali seperti khutbah Jumat, melainkan satu kali, dengan isi utama berupa:
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah menegaskan bahwa gerhana adalah peringatan agar manusia kembali mengingat Allah, bukan untuk dikaitkan dengan mitos atau peristiwa kematian seseorang.
Menurut para ulama, khutbah gerhana berfungsi sebagai penguat pesan spiritual, agar ibadah yang dilakukan tidak berhenti pada ritual, tetapi membekas dalam kesadaran dan perilaku sehari-hari.
Baca juga: Gerhana Matahari Cincin Ramadhan 2026, Ini Jadwal dan Faktanya
Gerhana matahari cincin yang terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, berlangsung hanya beberapa hari sebelum umat Islam memasuki fase persiapan Ramadan 1447 Hijriah.
Momentum ini seakan menjadi pengingat agar hati kembali disiapkan sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Sebagaimana ditulis Imam Al-Ghazali, peristiwa alam yang luar biasa sejatinya adalah media muhasabah, agar manusia menyadari keterbatasannya dan tidak lalai dari mengingat Allah.
Langit yang sesaat meredup mengajarkan bahwa cahaya iman pun perlu terus dijaga. Gerhana berlalu, namun pesan spiritualnya diharapkan tetap menetap dalam hati, mendorong umat Islam untuk memperbanyak dzikir, sedekah, istighfar, dan menghidupkan sunnah Rasulullah menjelang Ramadan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang